Siapa bilang pagelaran Miss World lebih menjual dibanding karnaval yang memamerkan budaya lokal kurang menjanjikan di pentas dunia? Gelaran Banyuwangi EthnoCarnival (BEC) adalah bukti sahih kekuatan tradisi lokal yang bisa mendunia.
Selain BEC juga ada Jember Fashion Carnival (JFC) yang digagas oleh Dinand Fariz. Hanya saja, JFC lebih menonjolkan pakaian ala Kota Mode, Paris yang cukup tersohor di saentaro jagad. Sedangkan, BEC yang baru berusia tiga tahun ini, lebih fokus pada budaya dan tradisi daerah.
Menurut Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, BEC merupakan etalase besar dari potensi wisata lokal yang sangat kaya, lengkap dengan kehidupan sosial-budaya masyarakatnya yang terbuka, egaliter, dan punya jiwa seni yang kuat.
"Potensi ini harus dijaga dan dikenalkan kepada dunia. Agar tradisi bangsa Indonesia tidak punah oleh zaman. Festival ini juga bisa menjadi filter bagi anak-anak muda yang gandrung dengan budaya barat dan mulai melupakan tradisi kuno," ungkap Anas, saat menggelar konferensi pres di Pendopo Kabupaten di Jalan Sritanjung, Banyuwangi, Sabtu (7/9).
Nah, kata Anas, agar tradisi kuno bisa ditransformasikan ke kalangan anak muda, harus menggunakan trik-trik khusus agar bisa diterima. "Festival ini menyuguhkan tradisi kuno yang dikolaborasi dengan budaya modern. Tujuannya agar bisa digandrungi anak-anak muda yang mulai jengah dengan budayanya sendiri. Bagaimana dengan yang tua? Tentu kita juga memberi tempat. Ada suguhan khusus yang dihidangkan untuk para orang tua," kata dia.
Dia mencontohkan, dalam rangkaian HUT Banyuwangi yang ke 242 ini, daerah berjuluk the Sunrise of Java itu tidak hanya menyuguhkan pagelaran BEC 2013 untuk yang kali ketiga saja, namun ada even-even lain, yang diyakini sangat diminati masyarakat, bahkan orang-orang dari luar Indonesia. Bahkan juga, jauh lebih diminati dari ajang Miss World.
Rangkaian acara itu adalah mulai dari karnaval etnik, sport-tourism (Tour de Ijen), Sewu Paju Gandrung, sampai jazz pantai bersama Trio Lestari (Tompi, Glenn Fredly, Sandhy Sondoro), hingga pada acara puncak, yaitu perayaan HUT Banyuwangi yang ke 242.
Minat dan antusias masyarakat, baik lokal luar daerah maupun dari luar negeri ini terbukti, adanya keterlibatan wisatawan asing dalam BEC 2013 yang mengambil tema the Legend of Kebo-keboan ini. Para wisatawan yang mengaku berasal Spanyol itu juga ikut berparade dengan mengenakan pakaian adat tanah Using. Ini adalah bukti sahih, bahwa karnaval budaya lokal juga sangat menjual tak kalah dengan ajang Ratu Sejagad, Miss World.
Kemeriahan BEC yang baru berumur tiga tahun ini, kata Anas juga bisa dilihat saat festival jazz pantai. "Setidaknya ada 200 tiket yang sudah terjual. Untuk kursi VIP dibanderol Rp 1 juta. Dan kami memperkirakan akan untung Rp 900 juta," klaim Anas.
Dan menurut Anas, dengan menggugah kembali memori bangsa akan tradisi kuno dan budaya lokal. "BEC ini lebih mengeksplorasi konsep dan kekuatan tema ketimbang terjebak pada karnaval yang mengeksploitasi tubuh. Seperti karnaval di Brazil yang mengeksploitasi tubuh wanita sebagai tontonan," kata Anas seolah menyindir ajang Miss World yang akan digelar di Pulau Dewata, Bali.
Lebih jauh dia menambahkan, karnaval adalah salah satu cara efektif untuk mempromosikan pariwisata daerah. Di semua negara, semua daerah selalu memanfaatkan even karnaval untuk menunjukkan potensi daerahnya masing-masing.
"Namun di karnaval di Banyuwangi ini, lebih suka menonjolkan budaya sendiri ketimbang budaya asing, yang jelas belum tentu cocok dengan tradisi bangsa Indonesia. Investasi terbesar adalah menanamkan cinta budaya lokal. Ukuran sejahtera bukan pada materi, tapi bagaimana membangun kesadaran kolektif untuk cinta budaya melalui karnaval," tandas dia.