Kejadian yang dialami oleh Tasripin dinilai hanya merupakan puncak gunung es kemiskinan yang ada di Banyumas. Tasripin merupakan korban kemiskinan struktural."Masih banyak Tasripin lain di Banyumas," kata Sosiolog Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Sulyana Dadan, Kamis (18/4).Menurutnya, fenomena Tasripin berhasil diangkat oleh media massa sehingga menjadi perhatian publik. Tak kurang Presiden SBY ikut memantau kasus ini melalui jejaring sosial Twitter.Tasripin, bocah 12 tahun, dari Desa Gunung Lurah Kecamatan Cilongok Banyumas harus menghidupi ketiga adiknya. Ibunya sudah meninggal dunia, dan ayahnya bekerja di Kalimantan.Dadan menambahkan, munculnya fenomena Tasripin merupakan bentuk keterlambatan Pemerintah Banyumas dalam menangani masalah ini. "Logika menunggu laporan dari bawah ini sangat orde baru sekali, harusnya pemerintah cepat tanggap untuk segera turun ke bawah," katanya.Namun semangat solidaritas masyarakat masih tinggi dengan banyaknya bantuan yang datang untuk Tasripin. "Dalam sudut pandang sosiologis, ada dua macam solidaritas yang muncul, yakni solidaritas organik dan solidaritas mekanik," ujarnya.Ia mengatakan, dalam kajian sosiologis, solidaritas mekanik mengacu pada masyarakat desa yang sebenarnya memiliki kesadaran yang tinggi terhadap sesama. Dengan solidaritas itu, kata dia, Tasripin dan ketiga adiknya akan tetap bisa hidup karena kesadaran kolektif masyarakat desa yang tinggi.Sementara solidaritas organik, kata dia, muncul dalam masyarakat perkotaan. "Jika Tasripin tinggal di kota, maka ia akan menjadi gelandangan," kata dia menambahkan.Saat ini Tasripin dan ketiga adiknya menginap di hotel di Kota Wisata Purwokerto. Mereka menginap di hotel karena rumah mereka sedang direnovasi oleh tentara. "Kuswito (Bapak Tasripin) baru sampai di Surabaya pada pukul 01.00 dini hari, kemungkinan besok akan sampai di Purwokerto," kata Nasihati (43) keluarga dekat Tasripin.Tasripin bersama adiknya mengaku betah senang tinggal di hotel karena kasurnya empuk. "Tapi sudah pengin pulang ke rumah," kata Tasripin.
Kasus Tasripin karena pemerintah lambat tangani kemiskinan
"Jika Tasripin tinggal di kota, maka ia akan menjadi gelandangan," kata Sulyana Dadan.
Rekomendasi