Sosiolog Musni Umar menilai fenomena pacaran yang berakhir dengan penganiayaan hingga pembunuhan sang kekasih, tidak bisa dilepaskan dari kontrol masyarakat. Menurut Musni, fenomena ini menunjukkan hilangnya kesadaran di masyarakat untuk melakukan kebaikan, seperti menegur ataupun melarang sepasang kekasih berciuman di tempat umum."Masyarakat terlalu permisif, serba boleh. Hanya cuek ketika mengetahui seseorang bersama pasangannya melakukan cium-ciuman di jalanan atau di tempat tersembunyi," ujar Musni kepada merdeka.com, Minggu (29/4).Karena tidak ada teguran atau larangan dari masyarakat, pacaran sering berujung pada hubungan badan di luar nikah. Hingga akhirnya, karena tidak memiliki kesiapan secara mental dan materi, dengan tega sang pacar menghabisi kekasihnya."Merasa hubungan seksual diluar nikah bukan merupakan aib, tapi ketika sudah hamil baru sadar kalau itu aib. Karena tidak ada persiapan yang matang, maka tidak jarang pembunuhan terjadi," terang Musni.Sebelumnya, di Bojonegoro dan di Kabupaten Tangerang, pria tega menghabisi nyawa kekasihnya secara sadis, gara-gara tidak menerima kenyataan bahwa sang kekasih mengandung janin hasil hubungan gelap di antara keduanya. Kasus wanita dibunuh pacarnya juga terjadi di Kampung Garedog RT1/5 Desa Rancabuaya Kecamatan Jambe, Kabupaten Tangerang. Mayat Izzun Nahdiiyah (24), Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah itu ditemukan di Jalan Ciangir, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang, Sabtu (7/4/2012).Pelakunya adalah kekasihnya Muhammad Soleh alias Oleng (33). Soleh tega menggorok Izzun hanya lantaran kecewa laptop yang dipinjamnya ditagih. Lebih tragis Izzun juga diperkosa secara bergiliran sebelum dibunuh.
Pembunuhan sadis dalam pacaran, bukti kontrol sosial kurang
Masyarakat terlalu permisif, hanya cuek ketika mengetahui seseorang bersama pasangannya melakukan cium-ciuman.
Advertisement
Rekomendasi