Ponpes Darul Mukhlisin Terapkan Trauma Healing Pendekatan Agama Pasca Banjir Bandang Aceh Tamiang

Pondok Pesantren Darul Mukhlisin Aceh Tamiang sukses menerapkan trauma healing pendekatan agama bagi santri terdampak banjir bandang November 2025, memulihkan kondisi dalam dua bulan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Ponpes Darul Mukhlisin Terapkan Trauma Healing Pendekatan Agama Pasca Banjir Bandang Aceh Tamiang
Pondok Pesantren Darul Mukhlisin Aceh Tamiang sukses menerapkan trauma healing pendekatan agama bagi santri terdampak banjir bandang November 2025, memulihkan kondisi dalam dua bulan. (AntaraNews)

Pondok Pesantren Darul Mukhlisin Tanjung Karang di Aceh Tamiang menggunakan metode khusus untuk membantu santri dan santriwati pulih dari dampak psikologis bencana. Pendekatan agama diterapkan sebagai strategi utama dalam program trauma healing mereka. Inisiatif ini muncul menyusul musibah banjir bandang dahsyat yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025.

Pimpinan Pondok Pesantren Darul Mukhlisin, Mulkana, menjelaskan bahwa fokus utama adalah menyentuh sisi religius para santri. Mereka diajak memahami bahwa setiap musibah adalah ujian atau azab dari Tuhan, mendorong introspeksi dan peningkatan ibadah. Hal ini bertujuan untuk mengubah perspektif santri terhadap bencana yang mereka alami.

Melalui pemahaman ini, santri didorong untuk memperbanyak doa dan lebih taat pada ajaran agama sebagai bentuk respons terhadap musibah. Pendekatan ini dianggap efektif oleh pihak pesantren dalam membantu proses pemulihan mental dan spiritual anak didiknya. Pemulihan aktivitas di masjid bahkan dapat terlaksana lebih cepat dari perkiraan awal.

Mulkana, Pimpinan Pondok Pesantren Darul Mukhlisin, menegaskan bahwa lembaga pendidikan agama memiliki peran krusial dalam membimbing santri menghadapi cobaan. Dengan menyentuh aspek religius, pesantren berupaya memberikan fondasi spiritual yang kuat bagi para santri. Ini adalah inti dari program trauma healing pendekatan agama yang mereka jalankan.

Para santri diajarkan untuk melihat musibah bukan hanya sebagai kejadian fisik, tetapi juga sebagai bagian dari takdir ilahi. Pemahaman ini diharapkan dapat menumbuhkan ketabahan dan keikhlasan dalam diri mereka. Dengan demikian, mereka tidak hanya pulih secara emosional, tetapi juga semakin dekat dengan nilai-nilai keagamaan.

“Kami memahamkan santri bahwasanya musibah yang menimpa seorang hamba itu dua, kalau bukan ujian, itu azab,” ujar Mulkana. Pesan ini menjadi landasan utama bagi santri untuk merenungkan makna di balik bencana. Ini juga menjadi dorongan untuk meningkatkan ketaatan dan doa sebagai jalan keluar dari kesulitan.

Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada penyembuhan luka batin, tetapi juga pada pembentukan karakter santri. Dengan menjadikan agama sebagai panduan, mereka diharapkan mampu menghadapi tantangan hidup dengan lebih resilient. Ini adalah bentuk komitmen pesantren dalam mendidik santri secara holistik.

Meskipun santri Darul Mukhlisin terbiasa dengan bencana banjir, intensitas banjir pada November 2025 lalu disebut sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Aceh Tamiang. Bencana ini membawa dampak yang sangat masif, termasuk limbah ribuan kayu gelondongan yang menyertai air bah. Kondisi ini tentu menimbulkan trauma mendalam.

Masjid Darul Mukhlisin Tanjung Karang menjadi salah satu fasilitas yang terdampak parah oleh banjir bandang tersebut. Namun, Mulkana bersyukur karena gelondongan kayu tidak sampai merusak bagian dalam masjid. Ini menjadi salah satu faktor yang mempercepat proses pembersihan dan pemulihan.

Mulkana mengungkapkan bahwa proses pemulihan pasca-banjir diperkirakan membutuhkan waktu hingga setahun. Namun, berkat dukungan dan perhatian dari pemerintah serta masyarakat, pemulihan dapat diselesaikan dalam kurun waktu hanya dua bulan. “Kerjaan yang seharusnya dikejar dalam setahun-dua tahun itu selesai dalam dua bulan kemarin,” katanya.

Aktivitas di masjid tercatat pulih secara perdana pada 29 Januari 2026, menandai keberhasilan upaya pemulihan yang cepat. Ini menunjukkan kolaborasi efektif antara pesantren, pemerintah, dan masyarakat dalam menghadapi bencana. Lingkungan pesantren kini telah bersih dari lumpur dan siap kembali beraktivitas normal.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi