Polisi Sebut Dokter Residen Idap Kelainan Seksual, Bisakah Kondisi Itu Ditangani?

Ternyata, kelainan seksual dapat ditangani melalui berbagai metode. Bagaimana caranya?

Lia Harahap
Oleh Lia Harahap - Reporter
Polisi Sebut Dokter Residen Idap Kelainan Seksual, Bisakah Kondisi Itu Ditangani?
Polisi Sebut Dokter Residen Idap Kelainan Seksual, Bisakah Kondisi Itu Ditangani? (Merdeka.com)

Priguna Anugerah Pratama (31) dokter residen PPDS Anestesi Unpad menjadi tersangka pemerkosaan dan sudah ditahan Polda Jabar. Perbuatan tak senonoh itu dilakukannya terhadap FH, anak gadis dari seorang pasien yang tengah dirawat.

Hasil penyelidikan sementara, Priguna mengidap kelainan sekskual meski belum dijelaskan penyebabnya. Selain FH, ada dua korban lainnya berusia sama dengan korban sebelumnya 21 tahun, dan satunya 31 tahun.

"Dari periksaan beberapa hari ini memang kecenderungan pelaku ini mengalami kelainan seksual," kata Direskrimum Polda Jabar, Kombes Surawan saat konferensi pers di Mapolda Jabar, Rabu (9/4).

Namun untuk membuktikan hal itu, sejumlah proses pemeriksaan melibatkan ahli akan dilakukan kepolisian. Jikalah benar, ibisakah orang yang mengalami kelainan seksual ditangani?

Kondisi kelainan seksual adalah isu kompleks yang mempengaruhi banyak individu di seluruh dunia. Meskipun sering kali dianggap tabu untuk dibicarakan, penting untuk memahami bahwa kelainan seksual dapat ditangani dengan pendekatan yang tepat. Penanganan ini tidak selalu berarti penyembuhan total, tetapi lebih kepada pengelolaan gejala dan peningkatan kualitas hidup penderitanya.

Penanganan kelainan seksual sangat bervariasi tergantung pada jenis dan tingkat keparahan kelainan tersebut. Oleh karena itu, penting bagi individu untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental untuk mendapatkan diagnosis yang akurat dan rencana perawatan yang sesuai.

Salah satu metode penanganan yang paling umum adalah psikoterapi. Terapi perilaku kognitif (CBT) adalah salah satu pendekatan yang terbukti efektif dalam membantu individu mengubah pola pikir dan perilaku yang terkait dengan kelainan seksual. Melalui terapi ini, individu dapat lebih memahami dan mengatasi pikiran, perasaan, serta perilaku yang mendasari kelainan tersebut.

Metode untuk penanganan kelainan seksual juga bisa dilakukan dengan beberapa metode lainnya. Seperti terapi hormo. Dalam beberapa kasus, ketidakseimbangan hormon dapat menjadi faktor penyebab kelainan seksual. Terapi hormon dapat membantu menyeimbangkan kadar hormon dan mengurangi gejala. Namun, ini biasanya hanya digunakan sebagai bagian dari pendekatan yang lebih komprehensif.

Cara lainnya, bisa dengan melakukan konseling rutin dengan psikiater atau konselor berpengalaman dapat memberikan dukungan emosional dan membantu individu mengembangkan strategi koping yang sehat. Atau, bisa pula dengan medikasi. Obat-obatan tertentu dapat membantu mengelola gejala, seperti mengurangi dorongan seksual yang kuat atau mengatasi kondisi kesehatan mental yang menyertai. Namun, penggunaan obat-obatan harus selalu di bawah pengawasan dokter.

Ahli Psikologi Kriminal dan Forensik dari PTIK, Lia Sutisna Latif mengatakan, kelainan seksual berupa penyimpangan dan perilaku seks yang tidak wajar sebenarnya masih mungkin disembuhkan dengan pendekatan terapi secara psikologis.

Tetapi masalahnya bukan apakah bisa atau tidak si penderita kelainan seksual ini disembuhkan. Namun, hal itu akan lebih ditekankan pada seberapa lama proses yang harus dilakukan, guna memberikan terapi psikologis kepada penderita kelainan seksual tersebut. Jika kelainan seksual yang diidap sudah level sedang sampai berat maka penanganannya pasti akan lebih sulit lagi.

"Penyembuhan adalah hal yang niscaya. Namun, yang juga harus dilihat adalah seberapa parah si penderita ini mengalami kelainan seksualnya. Misalnya dia baru terjangkit pornografi, itu masih mudah disembuhkan dengan metode terapi kognitif," ujar Lia saat dihubungi Merdeka.com pada beberapa waktu lalu.

Lia mengaku tak menutup kemungkinan jika si penderita gangguan seksual ini, justru tidak akan sembuh dari gejala-gejala seks menyimpang yang diidapnya.

Hal itu menurutnya juga sangat terpengaruh, dari penerimaan lingkungan sosial terhadap si penderita, sebagai bentuk dukungan sosial dari lingkungan terdekatnya untuk kembali meyakinkannya, mengenai mana orientasi seksual yang baik, dan mana yang akan merugikannya sendiri.

"Tapi ada kemungkinan juga si penderita itu tidak bisa sembuh. Karena hal itu juga kembali dari individunya. Apakah ia memang berniat untuk menjalani terapi kognitif atau tidak. Sebab, terapi dan metode apapun hanyalah media bagi orang tersebut, untuk membawanya kembali pada pembenahan hasrat seksual yang sebagaimana mestinya."

Tidak kalah penting, katanya, peran lingkungan sosial di sekitar orang penderita kelainan seksual juga merupakan aspek pendukung, dalam menjalani terapi kognitif. Diharapkan, masyarakat jangan menjustifikasinya dan menyudutkannya ke dalam situasi yang justru akan membuatnya semakin tertutup.

"Karena, dukungan masyarakat terutama keluarga, adalah salah satu media terpenting bagi orang itu untuk kembali memiliki hasrat seksual yang sebagaimana mestinya seorang manusia miliki," pungkasnya.

Namun, apapun proses penanganan yang dilakukan, penting untuk diketahui bahwa penanganan kelainan seksual memerlukan pendekatan yang holistik dan terintegrasi. Tidak ada satu metode pun yang cocok untuk semua orang. Setiap individu memiliki kebutuhan unik yang harus dipertimbangkan dalam merancang rencana perawatan.

Oleh karena itu, konsultasi dengan profesional kesehatan mental, seperti psikiater atau psikolog, sangat penting untuk menentukan rencana penanganan yang tepat dan efektif bagi setiap individu.Selain itu, semakin dini penanganan dilakukan, semakin besar kemungkinan untuk mencapai hasil yang positif.

Dengan dukungan yang tepat, individu yang mengalami kelainan seksual dapat belajar untuk mengelola gejala mereka dan meningkatkan kualitas hidup mereka. Penanganan yang tepat tidak hanya membantu individu tetapi juga memberikan dampak positif pada hubungan mereka dengan orang lain.

Rekomendasi