Pocong jadi-jadian mainan ala arek Surabaya
Merdeka.com - Fenomena pocong jadi-jadian bukan hal yang baru bagi sebagian warga Surabaya, Jawa Timur. Aksi para aktor pocong ini mampu mengocok adrenalin dan selalu membuat dag dig dug para pengguna jalan yang lagi apes bertemu si 'pocong'.
Aksi ini kerap dimainkan arek-arek Surabaya hanya untuk sekadar iseng menakut-nakuti warga sekitar. Selanjutnya mereka tertawa terpingkal-pingkal jika melihat orang yang ditakutinya lari tunggang langgang.
Kejadian ini kerap terjadi di Surabaya. Terakhir, Sabtu (28/7) kemarin, anggota Polsek Wiyung menangkap Fredo Setioxifano, warga Wisma Lidah Kulon. Bersama dengan dua tuyulnya, remaja 15 tahun ini menakut-nakuti pengguna jalan di sekitar Brantas Hilir, Wiyung, Surabaya.
"Kejadiannya sama persis dengan kasus pocong di Gayungan dan di Kenjeran setahun lalu," kata Prayogo, warga Krembangan, Surabaya.
Memang, bagi warga Surabaya, tentu masih ingat kejadian di daerah Gayungan atau dengan aksi Bahrul Ulum, warga Kejawan Lor Gg III, Surabaya setahun lalu, tepatnya 23 Juli 2011. Pemuda 21 tahun itu, ditangkap anggota Polsek Kenjeran karena iseng menjadi pocong.
Kepada polisi, Bahrul mengaku sudah menjadi pocong selama sepekan, hanya sekadar iseng untuk menakut-nakuti warga sekitar dengan kostum pocongnya.
"Daripada bengong menunggu waktu melaut, saya iseng jadi pocong. Kalau sudah pukul 03.00 WIB, saya pergi ke laut cari ikan," kata Bahrul waktu itu kepada penyidik Polsek Kenjeran.
Karena keisengannya ini, pemuda yang bekerja sebagai nelayan itu terpaksa menginap sehari di sel polisi. Sebab, ulahnya banyak membuat pengguna jalan ketakutan dan terpelanting dari motornya.
Pun sama dengan aksi Fredo, Bahrul juga berpakaian serba putih lengkap dengan tali pocong. Wajahnya juga dilumuri bedak putih dan matanya dimake-up warna hitam.
"Totalitas peran Bahrul, tak diragukan. Dia begitu menjiwai sebagai pocong. Warga yang melihat Bahrul pun lari terbirit-birit. Apalagi Bahrul beraksi tiap pukul 02.00
WIB," terang Kanit Reskrim Polsek Kenjeran, AKP Yudo Hariyono kala itu.
Lebih terlihat menyeramkan lagi, lokasi yang digunakan Bahrul untuk beraksi, terkenal angker. Tahun 1987 silam, di sekitar lokasi tersebut pernah terjadi pembunuhan seorang wanita. Hingga kini banyak warga yang masih meyakini adanya hantu wanita di tempat itu.
Hantu itu berambut panjang sepunggung, bajunya putih dan terlihat darah yang mengucur deras dari dadanya. Karena itulah banyak warga ketakutan begitu melihat Bahrul berdandan ala pocong
“Lokasinya di depan balai RW III, atau persis di bawah gapura RT,” kata Prayogo.
Sekadar diketahui, sekitar 30 tahun silam, di daerah Banyurib, Surabaya, aksi pocong juga kerap menjadi permainan mengasyikan bagi sejumlah anak di kampung itu. Bahkan ada yang membawa boneka jelangkung ketika lampu listrik di daerah tersebut padam cukup lama. Tak jarang, aksi mereka kerap mengocok adrenalin, hanya untuk iseng sambil menunggu listrik kembali nyala. (mdk/ren)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya