Perayaan Sekaten di Solo, Ribuan Warga Rebutan Gunungan demi Ngalap Berkah

Selasa, 20 November 2018 17:04 Reporter : Arie Sunaryo
Perayaan Sekaten di Solo, Ribuan Warga Rebutan Gunungan demi Ngalap Berkah Perayaan Sekaten Solo. ©2018 Merdeka.com/Arie Sunaryo

Merdeka.com - Ribuan warga ngalap berkah (berharap berkah) saat mendatangi puncak peringatan Sekaten dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW, di halaman Masjid Agung Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Selasa (20/11). Dua pasang gunungan jaler (pria) dan estri (putri) diarak dari dalam keraton menuju ke halaman masjid, dan menjadi rebutan pengunjung yang datang sejak pagi.

Puncak peringatan sekaten ditandai dengan Grebeg Maulid dengan prosesi kirab gunungan. Sekitar pukul 10.00 pagi, dua gunungan diarak oleh utusan, sentana dan abdi dalem Raja Surakarta, Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono XIII Hangabehi.

Sesampai di Masjid Agung, dua pasang gunungan kemudian didoakan abdi dalem ulama. Usai didoakan, Gunungan Jaler dibawa ke halaman Masjid Agung. Ribuan warga yang datang sejak pagi langsung menyerbu hingga ludes tak tersisa. Sementara satu estri dibawa kembali oleh abdi dalem ke halaman Kori Kamandungan untuk dibagikan ke warga.

Takmir Masjid Agung Solo, Muhammad Muhtarom mengatakan dua pasang gunungan berisi sayuran dan bahan makanan tersebut dibagikan kepada masyarakat sebagai wujud syukur raja kepada kawula (rakyatnya).

"Gunungan ini sebagai wujud syukur Sinuhun (raja) untuk rakyatnya. Gunungan Jaler terbuat dari hasil bumi berupa sayuran mentah dan lainnya. Sedangkan Gunungan Estri terbuat dari bahan makanan kering atau rengginang, yang terbuat dari ketan," ujar Muhtarom.

Menurut dia, kedua gunungan (jaler dan estri) memiliki makna bahwa di kehidupan ini, berdampingan antara laki-laki dan perempuan. Gunungan jaler, paparnya merupakan gunungan yang berbentuk tinggi dan ramping. Sementara gunungan estri berbentuk pipih namun lebih lebar.

"Gunungan estri berisi makanan siap saji. Artinya seorang perempuan harus siap mengolah hasil bumi menjadi makanan untuk kebutuhan hidup keluarga," jelasnya.

Lebih lanjut Muhtarom menerangkan, arak-arakan gunungan jaler dan estri sebagai puncak tradisi Sekaten, gunungan itu menggambarkan keberadaan laki-laki dan perempuan yang kemudian menghasilkan keturunan.

"Laki-laki dan perempuan melahirkan keturunan. Nabi Muhammad juga manusia yang dilahirkan dari bapak dan ibu. Lahirnya Nabi Muhammad di situ ada simbol sejahtera. Beliau diberi wahyu oleh Tuhan," katanya lagi.

Tak semua pengunjung bisa mendapatkan isi gunungan yang diperebutkan. Puluhan orang bahkan rela mendapatkan sayuran yang telah terinjak-injak pengunjung lainnya. Sayuran yang didapatkan tersebut lantas dibawa pulang untuk di masak atau ditanam di persawahan agar tanahnya subur.

"Saya datang sama ibu dari Juwiring, Klaten. Dari pagi, tadi sudah nginang (mengunyah sirih). Ini cuma dapat janur dan wortel sedikit, nanti sampai rumah dimasak oseng apa sayur bening. Janurnya ditanam di sawah apa tegalan biar subur. Saya tiap tahun kesini, saya yakin dapat berkah dari Allah SWT," pungkas Wiwik Setyowati (52) warga Juwiran, Kecamatan Juwiring, Klaten. [bal]

Topik berita Terkait:
  1. Maulid Nabi
  2. Solo
  3. Surakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini