Advertisement
Di tengah lautan manusia yang tak henti mengelilingi Ka’bah, tidak semua jemaah tiba dengan bekal pengetahuan ibadah yang sama. Ada yang mantap dengan ilmu fikih yang cukup, namun tidak sedikit pula yang masih bingung dalam menjalankan rukun umrah. Pada titik inilah, peran muthawif menjadi sangat penting dan tak tergantikan, memastikan setiap langkah ibadah dilakukan dengan benar dan penuh kekhusyukan.
Muthawif bukan sekadar penunjuk arah atau pemimpin rombongan; mereka adalah penjaga spiritual yang bertanggung jawab agar ibadah umrah atau haji tetap berjalan sesuai syariat, tertib, dan mabrur. Tanggung jawab ini mencakup bimbingan praktis hingga dukungan emosional, terutama bagi jemaah yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Tanah Suci.
Bagi Muhammad Nuh Salam Lubis (25), seorang muthawif muda asal Indonesia yang kini menetap di Makkah, profesi ini adalah amanah besar. Ia tidak hanya mendampingi jemaah dari satu lokasi ke lokasi lainnya, tetapi juga memikul beban sah atau tidaknya ibadah seseorang, sebuah tanggung jawab spiritual yang mendalam.
Advertisement
Advertisement
Profesi muthawif seringkali disamakan dengan pemandu wisata atau tour guide, padahal tanggung jawabnya jauh lebih berat dan kompleks. Muthawif memiliki peran utama sebagai pembimbing spiritual yang mengawal seluruh proses ibadah sejak dari hotel hingga kembali, memastikan setiap ritual ibadah seperti tawaf, sa'i, dan tahalul dilakukan sesuai tuntunan syariat.
Muhammad Nuh Salam Lubis, yang berasal dari Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, merupakan contoh muthawif berdedikasi. Ia menamatkan studi S1 Hukum Syariah di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Awalnya, Nuh bercita-cita menjadi pengajar, namun takdir membawanya hijrah ke Arab Saudi untuk menjadi muthawif.
Semasa kuliah, Nuh aktif bekerja sambilan sebagai pemandu wisata, yang tanpa disadari menjadi bekal penting dalam profesinya saat ini. Sejak tahun 2023, Nuh menetap di Makkah dan aktif mendampingi jemaah umrah dan haji sebagai muthawif lepas atau freelance, melayani berbagai perusahaan travel.
Advertisement
Advertisement
Menjadi muthawif tidak selalu menuntut sertifikasi khusus atau lisensi resmi, namun justru di sinilah tantangan terbesarnya. Seorang muthawif harus membuktikan kapasitasnya melalui ilmu dan pengalaman di lapangan. Kualifikasi utama yang harus dimiliki adalah kemampuan berbahasa Arab yang fasih dan pemahaman fikih ibadah yang mendalam.
Kemampuan berbahasa Arab sangat diperlukan untuk berkomunikasi efektif dengan masyarakat lokal dalam berbagai keperluan akomodasi jemaah. Sementara itu, pemahaman fikih yang matang krusial untuk menjawab pertanyaan jemaah mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, bahkan di tengah prosesi tawaf.
Nuh menekankan bahwa kesalahan dalam menjawab pertanyaan fikih bisa berakibat fatal pada kesempurnaan ibadah jemaah. “Kalau jemaah tanya kita lagi di mana, bagaimana? Masa kita tidak tahu? Tapi kalau tanya hukum ibadah lalu kita keliru, itu lebih bahaya,” ujar Nuh. Ia menambahkan, “Jadi (muthawif) tidak bisa sembarangan, walaupun tidak ada sertifikat tapi dengan pengalaman dan ilmu itulah yang bisa membawa para jemaah itu melakukan ibadah yang sah, yang mabrur.”
Advertisement
Advertisement
Tanggung jawab muthawif melampaui pengaturan logistik; mereka harus memastikan setiap rukun dan wajib umrah dijalankan sesuai tuntunan. Selain itu, muthawif juga harus siap menenangkan jemaah yang panik, menjawab pertanyaan syariat, dan mengambil keputusan cepat dalam situasi darurat.
Nuh menuturkan, menjaga kedisiplinan jemaah soal waktu agenda merupakan tantangan tersendiri, terutama di tengah kepadatan Masjidil Haram atau Masjid Nabawi. Keterlambatan seringkali tak terhindarkan karena situasi yang penuh sesak. Dalam kondisi seperti ini, muthawif dituntut untuk tidak hanya mengatur langkah jemaah, tetapi juga menjaga suasana hati mereka agar tetap tenang.
“Kita harus ekstra sabar dan menyampaikan ke jemaah supaya saling memahami satu sama lain,” kata Nuh. Pengalaman mendampingi jemaah yang aktif dan kompak selalu meninggalkan kesan mendalam baginya, karena tidak semua orang diberi kesempatan beribadah di Tanah Suci dalam kondisi ideal. Pentingnya peran muthawif juga dirasakan langsung oleh Agus Sugiarto, salah satu jemaah, yang menyatakan, “Tidak semua jemaah paham ibadah. Kalau enggak ada mutawif yang benar-benar menguasai, bisa salah niat, salah urutan, atau malah bingung harus bagaimana.”
Advertisement
Agus menambahkan bahwa muthawif bukan hanya penunjuk arah ibadah, tetapi juga penyangga emosi jemaah. “Kalau muthawifnya tenang, jemaah ikut tenang. Ini bukan cuma soal ilmu, tapi kesabaran dan tanggung jawab moral,” tuturnya.
Advertisement
Di balik urusan tata cara fikih, muthawif memikul amanah spiritual yang lebih dalam, yaitu membantu jemaah menangkap makna sejati dari setiap ibadah. Tujuannya bukan sekadar menyelesaikan tawaf atau sa’i, melainkan bagaimana ibadah itu benar-benar meresap ke dalam diri dan membawa perubahan positif.
Nuh sendiri memandang bahwa tujuan utama umrah adalah menggapai kemabruran, sebuah kondisi di mana seseorang pulang dengan sikap dan cara pandang yang lebih baik dari sebelumnya. “Ibadah ini jadi momen untuk mendekatkan diri kepada Allah, membersihkan batin, dan menata ulang niat hidup,” jelasnya.
Pada titik inilah, profesi muthawif menemukan maknanya yang hakiki. Mereka bukan sosok yang mencari pusat perhatian, melainkan bekerja keras menjaga agar ibadah tetap berada di jalurnya, jemaah merasa aman, dan kekhusyukan tetap terpelihara di tengah hiruk pikuk Tanah Suci yang tak pernah sepi.
Advertisement
Sumber: AntaraNews