Mencuatnya gelombang pengunduran diri puluhan kepengurusan DPC partai PSI di Kota Semarang, menandakan karakter partai tak lepas dari figur Joko Widodo. Dengan sosok figur tersebut partainya bisa mengandalkan daya tarik dan pengaruh Jokowi sebagai sumber legitimasi politik.
Pengamat Politik dari Universitas Diponegoro Nurhidayat Sardini mengatakan daya tarik dan legitimasi politik terlihat ketika putra Jokowi, Kaesang Pangarep, dalam waktu relatif singkat mendaftar dan kemudian terpilih sebagai ketua umum.
"Itu peristiwa yang sangat jarang dalam sejarah elektoral kita. Ini mengonfirmasi betapa kuatnya peran figur dalam tubuh PSI," kata Nurhidayat Sardini saat ditemui di Pemprov Jateng.
Selama pengaruh Jokowi masih kuat, PSI akan tetap eksis. Namun, eksistensi tidak otomatis berbanding lurus dengan kemenangan elektoral.
"Basis dukungan partai semacam ini cenderung lebih kuat di segmen pemilih yang masih memiliki ketergantungan tinggi pada figur dan pengaruh politik tertentu," ungkapnya.
Advertisement
Menurutnya, partai yang terlalu bergantung pada figur akan menghadapi tantangan di wilayah dengan karakter pemilih yang kritis dan berpendidikan lebih tinggi.
"PSI tidak akan terlalu laku di daerah yang orang-orangnya kritis. Semakin tinggi tingkat pendidikan, biasanya semakin tinggi pula ekspektasi dan sikap kritis terhadap partai politik,” ujarnya.
Gejolak internal di Semarang, apakah nantinya bisa menjadi ujian bagi PSI mampu memperluas basis dukungan melampaui ketergantungan pada satu sosok sentral.