Penerima Suap Dana Hibah Kemenpora Sebut Imam Nahrawi Singgung Honor Satlak Prima

Kamis, 4 Juli 2019 22:09 Reporter : Yunita Amalia
Penerima Suap Dana Hibah Kemenpora Sebut Imam Nahrawi Singgung Honor Satlak Prima Imam Nahrawi. ©2015 merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Terdakwa penerima suap terkait dana hibah Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Mulyana mengatakan, asisten pribadi Menpora Imam Nahrawi, Miftahul Ulum menerima uang dari bendahara PPON Kemenpora, Supriyono.

Uang itu diberikan setelah ada pertanyaan dari Imam ada tidaknya honor bagi menteri dari satuan pelaksana program Indonesia emas (satlak prima).

Pernyataan itu disampaikan Mulyana untuk mengonfrontasi pernyataan Ulum tidak kenal dengan Supriyono.

"Supriyono berikan uang di awal tahun. Saya di lapangan bulu tangkis, Pak Menteri tanya ke saya 'saya dapat honor gak di Prima?' kemudian karena saya baru, saya panggil PPK namanya Pak Chandra, kemudian kami diskusi, sepakat karena beliau sebagai menteri saya bilang kasih saja Rp400 juta. Kata Pak Chandra 'jangan beri saja Rp1 M' ," ujar Mulyana menjelaskan, Kamis (4/7).

Mendengar pernyataan itu, Imam tegas membantah adanya permintaan sebagaimana disampaikan oleh Mulyana.

"Saya tidak pernah meminta. Jadi saya membantah meminta honor satlak prima," bantah politisi PKB itu.

Nama Imam dalam pusaran suap dana hibah Kemenpora untuk KONI disebut turut serta menerima melalui asisten pribadinya bernama Miftahul Ulum. Dalam pertimbangan jaksa penuntut umum terhadap tuntutan dua pejabat KONI, Ending Fuad Hamidy dan Jhonny Awuy, Imam turut serta permufakatan jahat.

"Sebagaimana keterangan dari saksi Ending Fuad Hamidy, saksi Eni Purnawati, saksi Atam dan diperkuat oleh pengakuan terdakwa terkait adanya pemberian jatah komitmen fee secara bertahap yang diterima oleh Miftahul Ulum dan Arief Susanto guna kepentingan Menpora yang seluruhnya sejumlah Rp11.500.000.000," ujar Jaksa Ronald Worotikan saat membacakan analisa tersebut di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (9/5).

Diketahui, Mulyana merupakan Deputi IV bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, saat ini duduk sebagai terdakwa. Ia didakwa jaksa menerima suap berupa 1 unit Fortuner, uang dengan total Rp400 juta, san satu unit ponsel Samsung. Penerimaan suap sebagai pemulus mempercepat proses persetujuan dan pencairan Bantuan Dana Hibah yang diajukan oleh KONI Pusat kepada Kemenpora Tahun Kegiatan 2018.

Ada pengajuan proposal yang diajukan KONI sebanyak dua kali. Untuk proposal pertama, KONI mengajukan Rp50 miliar untuk pengawasan dan pendampingan atlet dalam Asian Games dan Asian Para Games. Dalam realisasinya, Kemenpora mencairkan dana hibah senilai Rp30 miliar dengan dua tahap.

Sementara proposal kedua, KONI mengajukan dana hibah ke Kemenpora untuk pengawasan dan pendampingan atlet berprestasi tahun kegiatan 2018. Realisasi yang diberikan Kemenpora Rp17,9 miliar.

Sementara itu, Mulyana didakwa telah melanggar Pasal 12 huruf a dan atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP. [fik]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini