James F. Sundah, komposer legendaris di balik lagu abadi "Lilin-Lilin Kecil", kembali menyapa penikmat musik Indonesia. Ia baru saja merilis karya terbarunya yang penuh makna, berjudul "Seribu Tahun Cahaya". Lagu ini menjadi penanda perjalanan panjang seorang maestro musik yang tak pernah berhenti berkarya.
Karya monumental ini lahir dari sebuah ruang kerja sederhana di New York, tempat James F. Sundah kini tinggal dan berkarya. Proses penciptaannya memakan waktu hampir dua dekade, menunjukkan dedikasi luar biasa. Lagu ini didedikasikan khusus untuk sang istri, Lia, sebagai ungkapan rasa syukur mendalam atas kesetiaan.
"Seribu Tahun Cahaya" bukan sekadar lagu, melainkan sebuah kisah tentang cinta, kesetiaan, dan perjuangan hidup. James F. Sundah merilisnya dalam tiga bahasa, yakni Indonesia, Inggris, dan Jepang. Ini adalah simbol pesan universal yang ingin disampaikan melalui musiknya kepada dunia.
Advertisement
Advertisement
Seribu Tahun Cahaya: Ungkapan Hati Sang Maestro
James F. Sundah mengungkapkan bahwa "Seribu Tahun Cahaya" ditulis delapan belas tahun lalu untuk istrinya, Lia. Lagu ini menjadi simbol ketulusan cinta dan kesetiaan yang tak lekang oleh waktu. Ini merupakan ucapan terima kasih atas dukungan Lia selama masa kritisnya melawan kanker, sebuah momen yang menguji ketahanan mereka.
Maestro James F. Sundah, dengan rambut putih gondrongnya, melihat lagu ini sebagai cermin perjalanan batinnya yang mendalam. Ia memilih merilisnya dalam tiga bahasa: Indonesia, Inggris, dan Jepang. Keputusan ini bukan demi sensasi, melainkan untuk menegaskan bahwa cinta dan kemanusiaan bersifat universal, melampaui batas-batas budaya.
Setiap versi lagu "Seribu Tahun Cahaya" menampilkan nuansa budaya berbeda yang kaya dan otentik. Versi Indonesia diperkaya angklung dan kolintang yang hangat, sementara versi Jepang menggunakan koto dan shakuhachi yang melankolis. Versi Inggris menghadirkan nuansa futuristik dengan sintetis, menunjukkan kemampuan musik menembus batas.
Advertisement
Advertisement
Perjalanan Dua Dekade dan Kolaborasi Penuh Makna
Perjalanan "Seribu Tahun Cahaya" tidaklah mulus, membutuhkan waktu hampir dua dekade untuk rampung sepenuhnya. Saat pertama digarap pada tahun 2007, genre Pop/EDM yang diusung dianggap terlalu maju oleh banyak pihak. Mendiang Djaduk Ferianto bahkan menyebut musiknya futuristik, namun James F. Sundah tetap teguh pada visinya.
Kesabaran James F. Sundah dalam menyempurnakan setiap nada membuktikan prinsipnya bahwa karya seni butuh kesetiaan dan bukan kecepatan. Ia melibatkan banyak kolaborator, termasuk Meilody Indreswari yang menyanyikan versi awal lagu ini. Claudia Emmanuela Santoso, pemenang The Voice of Germany, juga memberikan nyawa baru pada versi Indonesia dan Inggris.
Claudia Emmanuela Santoso memuji kedalaman lirik dan melodi puitis "Seribu Tahun Cahaya" yang jarang ia temui. Bagi Meilody Indreswari, keterlibatannya lebih dari proyek profesional, melainkan perjalanan spiritual yang berkesan. James F. Sundah bahkan meminta bantuan native speaker untuk memastikan pelafalan yang tepat, mencerminkan dedikasi tinggi terhadap kualitas.
Advertisement
Advertisement
Memperjuangkan Hak Ekonomi Pencipta Musik
Ketika "Seribu Tahun Cahaya" meraih penghargaan MURI sebagai single tiga bahasa dari tiga benua, James F. Sundah justru fokus pada pentingnya ekosistem musik yang adil. Ia menegaskan, "Tanpa lagu, tidak ada industri musik. Tapi tanpa keadilan bagi penciptanya, musik akan kehilangan jiwanya." Ini adalah prinsip yang selalu dipegangnya sejak lama.
Di tengah era digital yang kerap mereduksi nilai karya seni menjadi angka-angka streaming, James F. Sundah memilih jalur berbeda untuk lagu barunya. Ia mendaftarkan karyanya ke US Copyright Office untuk memastikan hak ekonomi proporsional bagi semua kontributor. Dalam proyek ini, ia berperan ganda sebagai komponis hingga videografer, menunjukkan komitmennya.
Keputusan James F. Sundah ini bukan ambisi menguasai, melainkan pernyataan bahwa setiap karya adalah hasil kerja kolektif yang harus dihargai secara layak. Ia tidak melihat lagu sebagai produk komersial semata, tetapi sebagai cara merawat ingatan dan membangun kesadaran. Musik baginya selalu lebih besar dari dirinya sendiri dan kepentingan pribadi.
Advertisement
Advertisement
Jejak Abadi James F. Sundah di Industri Musik
Jejak James F. Sundah membentang luas dalam sejarah musik Indonesia, tidak hanya dengan "Lilin-Lilin Kecil" yang menjadi anthem lintas generasi. Ia pernah berkolaborasi dengan personel Scorpions, Klaus Meine dan Rudolf Schenker, untuk lagu "When You Came Into My Life" yang diproduseri David Foster. Lagu ini bahkan meraih sertifikasi emas di Eropa, sebuah pencapaian internasional.
Selain menciptakan, James F. Sundah juga aktif memperjuangkan hak cipta di Indonesia melalui berbagai organisasi musik. Ia terlibat dalam PAPPRI, KCI, dan LMKN, menunjukkan komitmennya terhadap kesejahteraan musisi dan pencipta lagu. Semua ini dilakukannya demi menjadikan musik Indonesia dihormati dan para penciptanya dihargai secara adil.
Kini, James F. Sundah masih terus berkarya dari New York, bersama istri dan anaknya, tidak berhenti menciptakan. Ia percaya bahwa setiap nada memiliki kekuatan untuk mengubah dunia dan memberikan dampak positif. "Kalau satu lagu bisa membuat seseorang merasa tidak sendiri, atau memberi harapan kepada yang sedang putus asa, maka hidup saya tidak sia-sia," ujarnya penuh makna.
Advertisement
Sumber: AntaraNews