Rumah berkelir merah bata di Jalan Johar Baru 3, No 42 RT 005/RW 09, Johar Baru, Jakarta Pusat, dari luar terlihat biasa saja. Atap genteng cokelat, pagar besi mengilap, dan bendera Merah Putih berkibar rapi di halaman.
Namun, siapa sangka, di balik gerbang rumah itu sejumlah penghuni ternyata terlibat kasus penculikan disertai pembunuhan kepala cabang bank berinisial IP.
Ketua RT 005, Sella, mengungkap rumah tersebut sempat kosong hampir setahun dan dalam sengketa. Bahkan, sebelumnya sempat terpasang plang bertuliskan “Rumah dalam pengawasan bank”.
“Empat bulan kosong, lalu ada plang. Baru sekitar Juni kemarin plang itu dicabut setelah ada penghuni baru,” kata Sella, Sabtu (23/8).
Advertisement
Sella mengingat jelas, pada 20 Juni 2025 para penghuni baru datang dan melapor akan tinggal bertiga. Dua orang di antaranya ia kenal, bernama Eras dan Berto.
“Dia bilang disuruh temannya untuk menempati rumah ini. Waktu itu teman saya lagi di Surabaya,” ujar Sella.
Meski begitu, kata Sella, para penghuni baru berusaha menjaga kesan baik. Berto bahkan sempat berbincang dengannya soal iuran lingkungan.
“Di sini tidak ada iuran sampah, paling cuma urunan keamanan, itu pun sukarela. Berto kasih Rp100 ribu per bulan,” jelasnya.
Advertisement
Dari luar, aktivitas para penghuni terlihat normal, tidak ada yang mencurigakan.
“Baik-baik saja, sama seperti warga lain,” ujar Sella.
Ia pun baru mengetahui dari polisi bahwa para penghuni rumah tersebut ternyata bekerja sebagai debt collector.
“Saya enggak tahu pekerjaan mereka. Baru tahu waktu ada polisi, katanya debt collector,” ucapnya.
Ketua RW 09, Rizal, membenarkan bahwa para penghuni baru itu baru sekitar dua bulan tinggal di wilayahnya. Selama itu, tidak ada kejanggalan yang ia temukan.
“Kalau ketemu ya saling sapa saja. Pernah saya tanya kerja apa, mereka hanya bilang orang lapangan,” tandasnya.