Pemerintah Kota (Pemkot) Palu secara intensif melakukan pembenahan di sisi belakang perkotaan. Upaya ini bertujuan untuk mewujudkan pemerataan pembangunan berbasis lingkungan di ibu kota Sulawesi Tengah.
Inisiatif ini muncul setelah Wali Kota Palu dan jajarannya menemukan banyak masalah lingkungan, terutama sampah, di area tersebut saat peninjauan. Peninjauan dilakukan selama dua hari berturut-turut, dari Kamis (26/3) hingga Jumat (27/3), menyusuri wilayah rentan sampah menggunakan sepeda motor.
Langkah strategis ini mengadopsi konsep "urban akupuntur", sebuah metode desain kota yang melibatkan intervensi kecil namun taktis. Tujuannya adalah merevitalisasi titik-titik bermasalah untuk meningkatkan kualitas ruang publik secara keseluruhan.
Advertisement
Advertisement
Strategi Urban Akupuntur untuk Revitalisasi Lingkungan
Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palu, Ibnu Mundzir, menjelaskan bahwa urban akupuntur adalah pola perbaikan lingkungan yang berfokus pada revitalisasi skala kecil. Meskipun intervensi ini kecil, dampaknya diharapkan signifikan terhadap kebersihan dan estetika kota.
Metode ini memungkinkan perubahan kawasan kumuh menjadi ruang publik yang fungsional dan bermanfaat. Ruang-ruang ini dapat dimanfaatkan sebagai taman kota atau lokasi kegiatan sosial lainnya, dengan melibatkan partisipasi aktif dari komunitas setempat.
Sebelumnya, wajah depan kota Palu dianggap sudah mulai kondusif dari masalah sampah. Kini, penataan kawasan belakang kota menjadi prioritas utama dengan penanganan terpadu lintas instansi di lingkungan Pemkot Palu.
Advertisement
Advertisement
Kolaborasi Lintas Instansi dan Peran DLH
DLH Kota Palu memiliki peran krusial dalam upaya pembenahan ini, khususnya dalam mengidentifikasi dan merumuskan masalah penanganan timbulan sampah liar. Sampah liar yang muncul secara sporadis di berbagai tempat menjadi fokus utama identifikasi.
Setelah identifikasi, DLH akan menindaklanjuti dengan perencanaan jangka menengah dan jangka panjang untuk penanganan sampah. Penanganan lanjutan akan dilakukan melalui kolaborasi erat antar instansi terkait.
Kolaborasi ini penting untuk menciptakan kerja terpadu yang berkelanjutan, guna menekan efek domino dari permasalahan kebersihan. Ibnu Mundzir menegaskan bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika semua pihak bekerja secara terintegrasi.
Advertisement
Pendekatan pemberdayaan dan kolaborasi diharapkan mampu memunculkan solusi inovatif dalam penanganan masalah persampahan. Ini sejalan dengan harapan pimpinan daerah untuk mewujudkan Palu yang lebih bersih dan tertata.
Advertisement
Tantangan Produksi Sampah dan Harapan ke Depan
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), produksi sampah di Palu pada tahun 2025 diperkirakan mencapai 79.726 ton. Angka ini setara dengan rata-rata sekitar 218 ton sampah per hari, menunjukkan tantangan besar dalam pengelolaan limbah.
Melalui konsolidasi dan transformasi penanganan sampah secara terpadu, Pemkot Palu berharap produksi sampah dapat semakin ditekan. Upaya ini juga bertujuan agar kota semakin tertata rapi dan bersih.
Kebersihan merupakan salah satu dari 53 program prioritas Pemkot Palu, menunjukkan komitmen serius pemerintah daerah. Wali Kota juga dijadwalkan segera mengadakan pertemuan lintas sektor untuk membahas percepatan penanganan lanjutan.
Advertisement
Sumber: AntaraNews