Pembinaan Sepak Bola Putri MLSC Selaras Rencana FIFA untuk Piala Dunia U15

Timo Scheunemann mengapresiasi Pembinaan Sepak Bola Putri MLSC yang selaras dengan rencana FIFA menghadirkan Piala Dunia U15, menyiapkan talenta muda Indonesia untuk kancah global.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Pembinaan Sepak Bola Putri MLSC Selaras Rencana FIFA untuk Piala Dunia U15
Timo Scheunemann mengapresiasi Pembinaan Sepak Bola Putri MLSC yang selaras dengan rencana FIFA menghadirkan Piala Dunia U15, menyiapkan talenta muda Indonesia untuk kancah global. (AntaraNews)

Pelatih kepala MilkLife Soccer Challenge (MLSC) All-Stars 2026, Timo Scheunemann, menyatakan bahwa sistem pembinaan talenta muda pesepak bola putri melalui MLSC sangat selaras dengan rencana FIFA. Rencana tersebut adalah menghadirkan Piala Dunia U15, baik untuk putra maupun putri, di masa mendatang. Pernyataan ini disampaikan saat ajang MLSC All-Stars 2026 di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, pada Minggu (28/6).

Menurut Timo Scheunemann, FIFA memiliki visi untuk menyelenggarakan Piala Dunia U15 setiap tahun dengan format 9 lawan 9, mirip seperti Piala Gothia. Format ini persis seperti yang diterapkan dalam program MLSC, yang bertujuan untuk mengembangkan potensi pesepak bola putri di Tanah Air. Program MLSC sendiri digagas oleh Bakti Olahraga Djarum Foundation dan telah aktif dalam pembinaan kelompok usia.

Melalui MLSC All-Stars, para talenta muda dari berbagai daerah di Indonesia memiliki kesempatan untuk bersaing dan mengasah kemampuan mereka. Ajang ini menjadi wadah penting dalam mempersiapkan atlet putri menuju jenjang kompetisi yang lebih tinggi dan profesional di masa depan.

MLSC All-Stars 2026, yang merupakan edisi kedua, secara khusus mengadopsi format pertandingan 9 vs 9. Adopsi format ini bertujuan untuk meningkatkan level kompetisi para atlet sebelum mereka melangkah ke jenjang yang lebih profesional. Ini merupakan bagian integral dari strategi Pembinaan Sepak Bola Putri MLSC yang komprehensif.

Selain format pertandingan, durasi permainan juga diperpanjang menjadi 2 x 20 menit dengan waktu istirahat 10 menit, berbeda dari edisi sebelumnya yang hanya 2 x 15 menit dengan jeda 5 menit. Meskipun durasi bertambah, luas lapangan yang digunakan tetap sama, yaitu 50 x 35 meter, dengan ukuran gawang 2 x 5 meter.

Inovasi lain yang dilakukan MLSC adalah penambahan kuota pemain untuk setiap tim. Dari sebelumnya 14 pemain, kini setiap tim dapat memiliki 16 pemain yang didampingi oleh empat ofisial. Perubahan ini dirancang untuk memberikan lebih banyak kesempatan bermain dan pengalaman kompetisi bagi talenta muda.

Timo Scheunemann, yang juga menjabat sebagai pelatih Tim Nasional Putri Indonesia U17, menjelaskan bahwa sistem Pembinaan Sepak Bola Putri MLSC sejalan dengan perkembangan sepak bola putri dunia. Ia mengidentifikasi dua pendekatan utama dalam pengembangan sepak bola putri global, yaitu perspektif Belanda-Jerman dan Inggris-Amerika.

Pendekatan Belanda-Jerman cenderung menginginkan sepak bola putri dimainkan di lapangan sekecil mungkin dengan jumlah pemain yang sedikit dan durasi yang lebih lama. Sebaliknya, pendekatan Inggris-Amerika berfokus pada transisi secepat mungkin ke format 11 lawan 11.

Timo berpendapat bahwa falsafah Inggris-Amerika kemungkinan besar akan lebih dominan. Hal ini karena secara esensi dan pengalaman sebagai pengamat, semakin banyak sentuhan bola yang didapatkan pemain, semakin baik perkembangan mereka. Pandangan ini memperkuat relevansi Pembinaan Sepak Bola Putri MLSC.

Berdasarkan falsafah tersebut, Timo Scheunemann menilai bahwa Pembinaan Sepak Bola Putri MLSC untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) sudah sangat cocok sebagai fondasi. Pembinaan ini dipersiapkan untuk melangkah ke jenjang berikutnya, yaitu U15.

Dukungan terhadap jenjang karier atlet juga diperkuat dengan adanya turnamen Hydroplus Super League untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ini menciptakan jalur pembinaan yang berkesinambungan bagi para pesepak bola putri.

Dengan demikian, para atlet yang telah melewati jenjang MLSC dan Hydroplus Super League diharapkan sudah siap bermain dalam format 11 lawan 11 saat mencapai usia U18. Ini menunjukkan bahwa sistem pembinaan di Indonesia sudah sinkron dengan standar dan rencana yang ditetapkan oleh FIFA.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi