Musim Dingin Mengancam, Bantuan Darurat Dikirimkan dari Indonesia ke Gaza Utara

Suhu udara yang merosot tajam kini menjadi ancaman nyata bagi ribuan pengungsi yang hanya berlindung di balik tenda-tenda darurat yang tipis.

Nur Habibie
Oleh Nur Habibie - Reporter
Musim Dingin Mengancam, Bantuan Darurat Dikirimkan dari Indonesia ke Gaza Utara
Musim Dingin Mengancam, Bantuan Darurat Dikirimkan dari Indonesia ke Gaza Utara (Merdeka.com)

Warga Palestina di Gaza semakin menderita dengan datangnya musim dingin. Suhu udara yang merosot tajam kini menjadi ancaman nyata bagi ribuan pengungsi yang hanya berlindung di balik tenda-tenda darurat yang tipis.

Kondisi mereka sangat memprihatinkan. Tanpa pemanas dan pakaian yang memadai, kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia palin berisiko tinggi terkena hipotermia serta berbagai penyakit saluran pernapasan.

Bantuan kemanusian kepada mereka dikirimkan dari Indonesia. Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH) berkolaborasi dengan PT Indo Anata Development menyalurkan bantuan darurat musim dingin.

Direktur Utama BMH, Supendi, memberikan apresiasi tinggi kepada Mazz Reza Pranata selaku pemilik perusahaan atas kepeduliannya yang luar biasa.

"Komitmen beliau telah menghadirkan perlindungan dasar yang sangat krusial bagi warga Palestina. Semoga kebaikan ini mendatangkan berkah," katanya dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (13/1).

Bantuan Darurat Musim Dingin Dikirimkan ke Gaza Utara
Bantuan Darurat Musim Dingin Dikirimkan ke Gaza Utara Istimewa

BMH telah menyiapkan paket logistik yang dirancang khusus untuk kebutuhan darurat keluarga. Di antaranya yakni 200 selimut tebal yang memiliki kualitas setara bedcover agar bisa digunakan bersama oleh satu anggota keluarga.

Selain itu, 200 jaket anak yang difokuskan untuk perlindungan bagi anak-anak sebagai kelompok paling rawan cuaca ekstrem.

"200 paket susu formula: menjamin asupan gizi dasar balita di tengah krisis pangan dan 4.000 porsi makanan siap saji: menjawab kebutuhan energi instan warga".

Salah satu poin menarik dari aksi ini adalah strategi pengadaannya. Di tengah ketatnya blokade bantuan dari luar, tim di lapangan mengambil langkah berani dengan membeli logistik langsung dari pedagang lokal di dalam Gaza.

Meski harga barang di dalam wilayah Gaza melonjak lebih mahal, langkah ini menjadi solusi tercepat agar bantuan sampai ke tangan pengungsi tanpa harus menunggu birokrasi perbatasan yang tidak pasti. Selain itu, cara ini turut membantu menggerakkan roda ekonomi masyarakat Gaza yang masih bertahan.

"Setiap helai selimut yang dibagikan bukan sekadar penghangat raga, tapi juga pesan bahwa mereka tidak sendirian," ujar Supendi.

Selain pengadaan lokal, BMH juga tetap mengupayakan jalur eksternal dengan mengirimkan paket sembako dan dua truk tepung gandum melalui pintu perbatasan Mesir untuk memperluas jangkauan distribusi pangan.

Rekomendasi