Momen Langka di Beijing: Xi dan Putin Perkuat Aliansi China-Rusia, Rayakan 80 Tahun Kemenangan Perang Dunia II

Presiden Xi Jinping dan Vladimir Putin memperkuat Aliansi China-Rusia usai KTT SCO di Beijing, menandai era baru kerja sama strategis dan merayakan 80 tahun kemenangan Perang Dunia II.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Momen Langka di Beijing: Xi dan Putin Perkuat Aliansi China-Rusia, Rayakan 80 Tahun Kemenangan Perang Dunia II
Presiden Xi Jinping dan Vladimir Putin memperkuat Aliansi China-Rusia usai KTT SCO di Beijing, menandai era baru kerja sama strategis dan merayakan 80 tahun kemenangan Perang Dunia II. (Merdeka.com)

Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin memperkuat aliansi strategis kedua negara melalui pertemuan bilateral penting di Balai Agung Rakyat, Beijing, pada Selasa, 2 September. Pertemuan ini berlangsung segera setelah kedua pemimpin menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Shanghai Cooperation Organization (KTT SCO) di Tianjin, yang digelar pada 31 Agustus hingga 1 September 2025. Diskusi mendalam antara kedua kepala negara ini menegaskan komitmen mereka untuk mempererat hubungan bilateral di berbagai sektor.

Dalam pertemuan tersebut, Presiden Xi Jinping menyatakan bahwa China akan bekerja sama erat dengan Rusia untuk memelihara komunikasi yang intens dan saling mendukung dalam pembangunan. Ia menekankan pentingnya koordinasi posisi terkait isu-isu yang menjadi kepentingan utama masing-masing negara, dengan tujuan mencapai kemajuan signifikan dalam hubungan China-Rusia. Hal ini menunjukkan arah kebijakan luar negeri kedua negara yang semakin terintegrasi dan saling menguatkan di panggung global.

Kedua pemimpin juga dijadwalkan untuk menghadiri parade militer yang menandai peringatan 80 tahun kemenangan dalam Perang Rakyat China Melawan Agresi Jepang dan Perang Dunia Anti-Fasis pada Rabu, 3 September. Kehadiran bersama dalam peringatan bersejarah ini tidak hanya menunjukkan rasa tanggung jawab sebagai negara pemenang Perang Dunia II dan anggota tetap Dewan Keamanan PBB, tetapi juga menegaskan tekad kuat mereka untuk menjaga hasil kemenangan dalam sejarah dunia.

Presiden Xi Jinping menegaskan bahwa China dan Rusia memiliki kekuatan pendorong yang kuat dalam pembangunan, mengarahkan kerja sama melalui proyek-proyek besar dan unggulan. Ini termasuk upaya untuk memperdalam pertukaran kepentingan, memperkuat ketahanan, dan meningkatkan sinkronisasi dalam kerja sama. Lebih dari 20 dokumen kerja sama bilateral di berbagai bidang telah ditandatangani, mencakup energi, kedirgantaraan, kecerdasan buatan, pertanian, inspeksi dan karantina, kesehatan, penelitian ilmiah, pendidikan, hingga media.

Presiden Putin menyoroti bahwa di bawah kepemimpinan Presiden Xi dan dirinya, hubungan bilateral Rusia-China telah mencapai titik tertinggi dalam sejarah, menjadi sangat strategis. Ia memuji Inisiatif Tata Kelola Global yang diajukan oleh Presiden Xi sebagai sangat tepat dan relevan, yang akan memainkan peran penting dalam menutup defisit tata kelola global. Rusia berkomitmen untuk menjaga koordinasi strategis dan meningkatkan kerja sama praktis di berbagai bidang, membawa hubungan kedua negara ke tingkat yang lebih tinggi.

Pertemuan ini juga menjadi platform bagi kedua kepala negara untuk bertukar pandangan mengenai isu-isu internasional dan regional yang menjadi kepentingan bersama. Diskusi ini mencerminkan keinginan kuat China dan Rusia untuk berperan aktif dalam membentuk tatanan dunia yang lebih seimbang dan multilateral. Sesi perjamuan minum teh dan makan siang yang diadakan oleh Presiden Xi untuk Presiden Putin semakin mempererat ikatan pribadi antara kedua pemimpin.

Baik China maupun Rusia menekankan kesetaraan kedaulatan, supremasi hukum internasional, dan multilateralisme sebagai prinsip dasar hubungan internasional. Mereka sepakat untuk terus meningkatkan koordinasi dan kerja sama di berbagai platform multilateral seperti PBB, SCO, BRICS, dan G20. Tujuan utama dari koordinasi ini adalah membangun komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia, menunjukkan visi bersama untuk tata kelola global.

Kehadiran kedua pemimpin dalam peringatan 80 tahun kemenangan Perang Anti-Fasis Dunia di negara masing-masing menunjukkan tanggung jawab mereka sebagai negara-negara besar. Presiden Putin menyatakan bahwa kehadiran bersama ini menegaskan kepada dunia bahwa kedua negara saling membantu dan berjuang berdampingan dalam Perang Anti-Fasis Dunia. Mereka memainkan peran penting dalam kemenangannya di medan utama Eropa dan Timur, serta berkomitmen menjaga hasil kemenangan Perang Dunia II.

Komitmen ini juga mencerminkan upaya untuk melawan distorsi sejarah dan menjaga keadilan internasional. Dengan menegaskan peran mereka dalam kemenangan Perang Dunia II, China dan Rusia berupaya memperkuat posisi mereka sebagai aktor global yang bertanggung jawab. Ini juga menjadi pesan kuat tentang pentingnya solidaritas internasional dalam menghadapi tantangan global.

Selain pertemuan bilateral, Presiden Xi Jinping dan Presiden Putin juga mengadakan pertemuan trilateral dengan Presiden Mongolia Ukhnaa Khurelsukh di lokasi yang sama. Presiden Xi mencatat bahwa volume perdagangan ketiga negara terus meningkat, dan kerja sama di bidang ekonomi, perdagangan, ilmu pengetahuan dan teknologi, konservasi ekologi, serta budaya semakin erat. Ini menunjukkan potensi besar dalam kerja sama regional.

Presiden Xi mengajukan tiga poin usulan untuk memajukan kerja sama China-Rusia-Mongolia: pertama, memperkuat kepercayaan politik; kedua, memperdalam kerja sama yang saling menguntungkan, termasuk promosi proyek infrastruktur dan energi lintas batas serta peningkatan kerja sama pariwisata dan perlindungan warisan budaya; ketiga, berkolaborasi lebih erat dalam kerangka Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) sebagai platform utama untuk menjaga keamanan dan mengupayakan pembangunan bersama.

Presiden Putin menekankan bahwa Rusia, China, dan Mongolia adalah negara tetangga yang bersahabat dengan tradisi kerja sama yang panjang, sehingga peningkatan rasa saling percaya politik sangat penting untuk memperkuat fondasi hubungan trilateral. Presiden Khurelsukh menegaskan komitmen Mongolia untuk memperkuat hubungan bilateral, memperluas kerja sama trilateral, mempromosikan koridor ekonomi China-Mongolia-Rusia, serta meningkatkan pertukaran budaya dan antarmasyarakat.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi