Meriah! HUT ke-80 Sri Sultan HB X, Lurah & Perangkat Desa se-DIY Jalan Kaki Beri Kado Aneka Hasil Bumi

Selain itu, masyarakat umum juga turut ambil bagian dalam perhelatan budaya tersebut.

Purnomo Edi
Oleh Purnomo Edi - Reporter
Meriah! HUT ke-80 Sri Sultan HB X, Lurah & Perangkat Desa se-DIY Jalan Kaki Beri Kado Aneka Hasil Bumi
Suasana Kirab Mangayubagya Yuswa Dalen Kaping 80 tahun di Keraton Yogyakarta (merdeka.com)

Raja Keraton Yogyakarta yang juga Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, genap berusia 80 tahun pada Kamis (2/4). Untuk memperingati hari istimewa tersebut, Paguyuban Lurah se-DIY Nayantaka menggelar Kirab Mangayubagya Yuswa Dalem Kaping 80 Tahun sebagai wujud rasa syukur dan penghormatan kepada Sri Sultan HB X.

Acara kirab budaya ini diikuti para lurah dan perangkat desa dari seluruh wilayah DIY. Selain itu, masyarakat umum juga turut ambil bagian dalam perhelatan budaya tersebut.

Berdasarkan pantauan merdeka.com di lokasi, para lurah dan perangkat desa berjalan kaki dari kawasan Titik Nol Kilometer menuju Pagelaran Keraton Yogyakarta. Seluruh peserta kirab tampil mengenakan pakaian adat khas Yogyakarta dan busana peranakan, menambah nuansa budaya yang kental dalam prosesi tersebut.

Kirab dimulai dengan rombongan dari Kota Yogyakarta yang menjadi peserta pertama memasuki area Pagelaran Keraton. Mereka membawa buah tangan berupa gelondong pangarem-arem, yakni persembahan dalam bentuk hasil UMKM.

Dalam kirab tersebut, para lurah dan perangkat desa membawa berbagai hasil bumi sebagai kado untuk Sri Sultan HB X. Persembahan hasil bumi ini menjadi simbol rasa syukur sekaligus bentuk kecintaan masyarakat kepada Sultan.

Setelah rombongan Kota Yogyakarta, kirab dilanjutkan oleh peserta dari Kabupaten Sleman yang membawa hasil bumi berupa buah-buahan dan sayuran. Selanjutnya, rombongan dari Kabupaten Bantul turut membawa hasil bumi seperti bawang dan padi.

Rombongan dari Kabupaten Kulon Progo kemudian masuk dengan membawa berbagai hasil bumi, termasuk durian. Sebagai penutup, peserta dari Kabupaten Gunungkidul membawa hasil bumi serta produk kerajinan UMKM.

Ketua Umum Paguyuban Lurah dan Pamong Kalurahan Nayantaka DIY, Gandang, menjelaskan bahwa setiap kalurahan membawa Gelondong Pangarem-arem sesuai dengan potensi daerah masing-masing.

"Berdasarkan potensi di daerah masing-masing. Kalau Kulon Progo punya durian ya bawa durian, yang dekat pesisir bawa kelapa ya monggo, yang penting tidak memberatkan," ucap Gandang saat jumpa pers di kantor Nayantaka, Senin (30/3) lalu.

Ia menegaskan bahwa tidak ada kewajiban membawa jenis persembahan tertentu. Menurutnya, seluruh persembahan disesuaikan dengan hasil bumi dan produk unggulan dari masing-masing wilayah.

Gandang menambahkan, Gelondong Pangarem-arem tersebut merupakan bentuk ucapan terima kasih kepada Keraton Yogyakarta dan Sri Sultan HB X.

Rekomendasi