Merawat Mimpi di Tengah Himpitan Pandemi

Jumat, 6 November 2020 05:05 Reporter : Tim Merdeka
Merawat Mimpi di Tengah Himpitan Pandemi Belajar online di rumah. ©2020 Merdeka.com/Dwi Narwoko

Merdeka.com - Nuraena sudah bersiap pagi itu. Tanpa seragam dan sepatu. Dia menunggu teman-teman sekolah menjemput di depan pintu.

Sesekali dia berbincang dengan sang ibu. Bercerita tentang kerinduan pada bangku sekolah dan para guru.

Hampir delapan bulan Nuraena tak pergi ke sekolah. Dia dan murid Madrasyah Aliyah Negeri (MAN) 1 Mamuju diminta belajar di rumah.

Kondisi itu karena pandemi Covid-19 melanda negara ini. Membuat kegiatan belajar tatap muka terhenti. Berganti lewat jaringan internet.

Bukan pilihan tepat bagi Nuraena dan teman-temannya. Tinggal di pendalaman Desa Tapandullu, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Selatan, membuatnya kesulitan mendapat akses internet dengan baik.

Mereka harus berjalan jauh demi berburu sinyal untuk belajar. Jarak puluhan kilometer ditempuh. Pilihan terakhir jatuh di tepian pantai.

Di sana, sinyal cenderung mudah didapat. Meskipun, harus berbagi tempat belajar dengan perahu-perahu nelayan yang bersandar. Mereka tetap semangat asal bisa belajar.

"Jujur, saya bersama teman-teman belajarnya sangat tidak maksimal karena setiap hari cari jaringan internet. Kami harus manfaatkan waktu di hari itu kalau jaringan internet bagus, kalau tidak kami hanya duduk saja," cerita Nuraena saat berbincang dengan merdeka.com, akhir pekan lalu.

Sebenarnya, kata Nuraena, belajar di alam lepas juga menyenangkan. Tetapi, dia rindu kebersamaan saat berada di kelas.

pelajaran di mamuju nuraena dan teman teman
©2020 Merdeka.com/Ahmad Udin Teha

Biasanya, setelah mendapatkan sinyal mereka mulai belajar sejak pagi hingga menjelang siang. Setelah semua tugas diselesaikan dan dikirim pada guru, Nuraena dan teman-temannya bersiap pulang ke rumah sebelum matahari tepat di atas kepala.

"Lembaran tugas difoto, lalu kami kerjakan ramai-ramai dan selanjutnya kami kirim kembali," jelasnya.

Perasaan Nuraena, sama dengan kegundahan Ashar. Demi mencari sinyal untuk belajar, dia rela duduk berjam-jam di bawah pohon di pinggir pantai.

"Pantai ini menjadi tempat belajar kami setiap hari karena memang hanya di sini titik jaringan internet," ujar Ashar.

Nuraena dan Ashar tidak bisa berbuat banyak dengan kondisi ini. Tetapi, tak ada kata menyerah dalam diri.

Semangat menuntut ilmu tetap mereka tanamkan. Demi cita-cita di masa depan.

Belajar di Rumah Wakil Rakyat

Perjuangan Jackson Max Mira Mangngi, siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Kupang, ini tak kalah gigih. Saban pagi, dia sudah berjalan kaki dari rumahnya menuju Kompleks Gedung Dewan Perwakilan Daerah Provinsi (DPRD) Nusa Tenggara Timur.

Bukan untuk rapat seperti aktivitas wakil rakyat. Hanya sekadar memanfaatkan jaringan internet gratis agar bisa mengikuti pelajaran daring.

Jackson mengambil tempat di sudut kantin gedung DPRD. Sebelum memulai kelas online, Jackson sudah menyiapkan satu unit handphone milik kerabat yang dipinjam. Ponsel itu dia letakkan di atas meja. Duduk sambil menunduk, Jackson serius memelototi layar ponsel sambil sesekali mengangguk.

Sebenarnya, kantin bukan tempat yang nyaman untuk Jackson belajar. Sebab, aktivitas jual beli jelas mengganggu konsentrasinya.

Tetapi, Jackson tetap fokus di layar handphone. Seolah tak menghiraukan apa yang terjadi di sekeliling. Meski sesekali dibuat buyar oleh sang tante yang membutuhkan bantuannya untuk melayani pembeli.

"Saya datang di kantin ini untuk belajar online, saya belajar pakai wifi kantor DPRD, saya juga tidak punya handphone jadi saya ikut tante yang kerja di kantin untuk pinjam handphonenya. Maunya belajar di rumah tapi tidak punya handphone dan uang untuk isi paket internet," ujarnya, Selasa (27/10).

jackson pelajar di ntt
©2020 Merdeka.com/Ananias Petrus

Jaringan internet cukup stabil di gedung DPRD. Jackson bersyukur karena diberikan kemudahan untuk mengakses pelajaran meski dalam kondisi serba kekurangan.

Setelah menyimak paparan guru dan mendapat tugas, Jackson bergegas menyelesaikannya agar dikumpul tepat waktu. Semakin cepat tugasnya rampung, semakin cepat pula Jackson membantu tantenya di kantin berukuran tak terlalu besar itu.

"Nanti kantin ramai pengunjung, saya bantu mak Ocha dan tante saya Desy untuk layani kopi atau makan bagi pengunjung kantin," jelas dia.

Jackson mengakui kondisi ini kadang kala membuatnya lelah. Tetapi dia tak ingin menyerah. Jackson tetap ingin menunjukkan prestasinya. Menjadi kebanggaan ibu dan sang ayah yang telah tiada.

"Bapak saya sudah meninggal jadi untuk beli handphone pasti mustahil. Agar tidak ketinggalan pelajaran, saya terpaksa ikut tante ke kantin untuk pakai handphonenya tante buat belajar," lirihnya.

Jackson hanya berharap pandemi ini segera berlalu. Sehingga dia kembali ke sekolah dan bertemu teman-teman yang sangat dirindu.

"Lebih enak belajar di sekolah, karena bisa tukar pikiran sama teman-teman. Kalau belajar online kadang bingung sendiri. Sebelum virus ini berlalu pasti saya akan datang di kantin ini untuk pakai wifi gratis dari gedung DPRD," ujar Jackson.

Tidak hanya Jackson yang mengeluhkan keadaan ini. Yasinta Da Costa Xavier, salah satu guru di Kabupaten Timor Tengah Selatan juga merasakan hal yang sama. Jaringan internet di kabupaten tidak sebagus ibu kota provinsi.

"Susahnya itu timbal balik dari pengajar juga susah, dari yang diajar juga susah. Dan lebih susahnya lagi, kalau yang diajar tidak terima apa yang diajar dengan baik otomatis jadi beban atau tanggung jawab juga untuk pengajar. Kadang gemas pengen tatap muka langsung biar bicara nah saling mengerti," ungkapnya.

Sebenarnya, kata dia, kondisi terberat dari belajar dengan sistem online ini adalah tidak semua siswa dan guru memiliki laptop atau gawai yang menjadi alat utama. Ditambah lagi, jaringan internet yang tak tersedia di tempat tinggal mereka.

"Banyak guru dan siswa yang belum punya handphone android, jika punya maka tidak punya paket atau jaringan internet. Contohnya guru honor yang gajinya dari dana BOS dihitung per bulan Rp50.000, mana mungkin bisa beli pulsa internet, lebih baik beli beras. Belum lagi jaringan internet dan listrik belum merata di semua desa," ungkapnya.

Kondisi ini memaksa sejumlah guru berpikir kreatif agar murid memahami materi yang diajarkan. Salah satunya dengan mengumpulkan sejumlah murid untuk melakukan belajar tetap muka dengan menerapkan protokol kesehatan ketat agar terhindar dari bahaya virus Covid-19.

Yasinta juga berharap pandemi segera berakhir dan kegiatan belajar mengajar kembali ke sekolah. Sebab menurutnya, sekolah tempat interaksi terbaik untuk guru dan pada murid.

Keputusan Belajar Sistem Online di Tengah Pandemi

Kemendikbud memutuskan meniadakan sementara kegiatan belajar tatap muka dan beralih ke daring. Keputusan ini guna mencegah penyebaran Covid-19 di lingkungan sekolah dan kampus.

Tak dapat dipungkiri, sistem ini tentu memiliki dampak pada mutu pendidikan nasional. Pengamat Pendidikan, Andreas Tambah, menilai Covid-19 membuat mutu pendidikan nasional menurun drastis.

Penilaian ini berdasarkan tiga kendala baik yang dihadapi guru, peserta didik dan orang tua murid. Pertama, peserta didik kurang siap menghadapi pembelajaran daring. Kedua, guru tidak siap melakukan pembelajaran daring karena keterbatasan kemampuannya dalam mendesain metode belajar.

Ketiga, sebagian besar orang tua murid tidak bisa menyediakan perangkat belajar daring untuk anaknya. Seperti handphone dan kuota data internet.

"Masyarakat yang sebagian besar ekonominya juga terdampak mengalami kesulitan menyediakan paket internet sementara sarana yang pemerintah sediakan tidak menjangkau seluruh masyarakat luas," ujarnya saat dihubungi merdeka.com, (30/10).

ilustrasi belajar online
thoughtco.com

Menurut Andreas, hanya 40 persen dari 45,5 juta siswa di Indonesia yang bisa mengikuti pembelajaran daring dengan baik. Artinya, hanya sekitar 18 juta siswa di Indonesia yang bisa belajar melalui daring dengan baik, sisanya tak bisa.

"Ini kondisi jelas akan menurunkan mutu pendidikan nasional," tegasnya.

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan di tengah pandemi Covid-19, Andreas menyarankan guru dan orang tua murid bekerja sama dengan baik. Guru harus membangun budaya baca pada siswa, tidak hanya mengandalkan belajar daring. Di sisi lain, orang tua murid harus mengawasi anaknya agar membaca buku dengan baik dan benar.

Bila guru hanya mengandalkan belajar daring, siswa mudah bosan untuk mengikuti pelajaran. Sehingga, siswa tak bisa menangkap pelajaran dengan baik.

"Jadi tingkatkan lah budaya membacanya. Budaya membaca itu asal ada buku, tidak bergantung pada ada tidaknya paket internet," ucapnya.

Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat (Kepala BKHM) Kemendikbud, Evy Mulyani, mengatakan berbagai upaya telah dan terus dilakukan pemerintah untuk mengatasi tantangan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Pada awal Agustus 2020, pemerintah telah mengeluarkan penyesuaian zonasi untuk pembelajaran tatap muka melalui perubahan SKB Empat Menteri sehingga izin pembelajaran tatap muka diperluas ke zona kuning, dari sebelumnya hanya di zona hijau.

Selain itu, berbagai alternatif pembelajaran jarak jauh telah diterapkan sehingga tidak hanya melalui daring tetapi juga Belajar Dari Rumah di TVRI dan radio edukasi Kemendikbud.

"Berbagai modul sederhana bagi guru, orang tua, dan siswa juga telah tersedia dalam bentuk soft copy maupun cetak dan sudah didistribusikan sehingga dapat dipergunakan atau dipelajari mandiri dengan kolaborasi guru dan orang tua," sambungnya.

Guna memudahkan kegiatan belajar melalui daring, pemerintah juga memberikan bantuan kuota data internet yang diluncurkan bulan September 2020. Evy menyebut, program ini merupakan upaya pemerintah dalam mewujudkan aspirasi masyarakat terkait tantangan pembelajaran jarak jauh, untuk memfasilitasi pembelajaran daring seluruh guru, siswa, dosen dan mahasiswa, khususnya di masa pandemi Covid-19.

Penyaluran bantuan kuota data internet dilakukan secara bertahap. Periode pertama pada September 2020, diberikan kepada 28,5 juta nomor telepon selular (ponsel) guru, siswa, mahasiswa dan dosen di seluruh Indonesia. Tahap kedua bulan Oktober 2020, bantuan kuota data internet disalurkan kepada 7,2 juta siswa, guru, mahasiswa, dan dosen.

"Penyaluran bantuan kuota internet berjalan sesuai rencana, pada Oktober mencapai 35,7 juta peserta didik dan pendidik," ucapnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kemendikbud, Hasan Chabibie, menjelaskan rincian bantuan kuota internet tersebut terdiri dari 946 ribu untuk jenjang PAUD, 5,3 juta jenjang SD, 2,5 juta jenjang SMP, 1,6 jenjang SMA, 1,3 juta jenjang SMK, 35 ribu SLB dan 27 ribu untuk kesetaraan. Selain itu guru berjumlah 957 ribu, mahasiswa 915 ribu dan dosen 65 ribu.

"Untuk jenjang pendidikan tinggi, Kemendikbud melakukan mekanisme yang berbeda, di mana universitas diperlukan membuat SPTJM ulang di setiap bulannya. Hingga saat ini baru terdapat 912 ribu mahasiswa dan 65 ribu dosen yang akan menerima bantuan ini tahap 1 bulan ini sehingga total 977 ribu penerima bantuan di jenjang dikti," terangnya.

Hasan Chabibie mengatakan program bantuan kuota data internet menjawab kebutuhan pembelajaran jarak jauh di tengah pandemi Covid-19. Klaim ini merujuk pada hasil survei persepsi publik yang diselenggarakan oleh Lembaga Arus Survei Indonesia (ASI).

Hasil survei menyatakan sebagian besar masyarakat menilai bahwa program bantuan internet gratis merupakan langkah tepat dalam menjawab urgensi di tengah pandemi Covid-19.

"Melegakan sekali mengetahui bahwa masyarakat menilai kebijakan ini merupakan langkah yang tepat dari pemerintah serta membantu meringankan beban ekonomi yang dihadapi di masa pandemi. Yang terpenting, bahwa kebijakan ini membantu pembelajaran jarak jauh di masa pandemi," tutupnya.

Reporter: Ahmad Udin, Ananias Petrus, Supriatin [gil]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini