Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, secara resmi mengimbau seluruh perguruan tinggi di Indonesia untuk mendirikan museum sebagai pusat edukasi, riset, dan pelestarian sejarah institusi. Harapan ini disampaikan usai peresmian Museum Institut Teknologi Bandung (ITB) yang menjadi contoh nyata inisiatif tersebut. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat ekosistem permuseuman nasional sekaligus menjaga warisan intelektual bangsa.
Inisiatif ini secara khusus menyasar perguruan tinggi yang telah berdiri lebih dari setengah abad, mengingat kekayaan sejarah dan kontribusi mereka terhadap pembangunan bangsa. Keberadaan Museum Perguruan Tinggi diharapkan tidak hanya menjadi tempat penyimpanan artefak, tetapi juga ruang inspiratif bagi generasi muda. Fadli Zon menekankan pentingnya museum sebagai bagian integral dari ekonomi budaya Indonesia.
Dengan sekitar 516 museum yang terdaftar di Indonesia saat ini, hadirnya Museum ITB diharapkan dapat memicu pertumbuhan jumlah museum serupa di seluruh negeri. Museum-museum ini diproyeksikan menjadi "ruang yang hidup", menarik minat masyarakat luas, dan mendorong penelitian mendalam mengenai perjalanan institusi pendidikan. Peresmian Museum ITB pada Jumat (3/7) di Kampus ITB, Bandung, menjadi tonggak penting dalam upaya ini.
Advertisement
Advertisement
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menggarisbawahi bahwa museum memiliki peran krusial sebagai "etalase budaya dan etalase peradaban" sebuah institusi. Ia menegaskan bahwa museum bukan sekadar tempat menyimpan benda-benda bersejarah, melainkan memori kolektif yang merekam perjalanan dan identitas sebuah lembaga. ITB, sebagai institusi penting yang telah melahirkan banyak tokoh bangsa, sangat membutuhkan keberadaan museum ini untuk menjaga keberlanjutan memori kolektif tersebut.
Kementerian Kebudayaan berharap kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat dapat terjalin erat dalam pembangunan museum. Upaya ini sejalan dengan amanat Pasal 32 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tentang pemajuan kebudayaan nasional. Museum diharapkan dapat menjadi ruang edukasi, pelestarian, dan penguatan identitas bangsa yang berkelanjutan.
Keberadaan Museum Perguruan Tinggi juga diharapkan mampu menginspirasi generasi muda untuk lebih memahami akar sejarah dan perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Dengan demikian, museum dapat berperan aktif dalam membentuk karakter dan identitas kebangsaan melalui pemahaman yang mendalam terhadap warisan intelektual. Ini merupakan investasi jangka panjang bagi kemajuan peradaban Indonesia.
Advertisement
Advertisement
Museum ITB, yang peresmiannya menjadi pemicu seruan ini, dirancang sebagai ruang interaktif dan partisipatif yang merawat memori perjalanan ITB sejak berdirinya Technische Hoogeschool te Bandoeng pada tahun 1920. Proses pembangunan museum ini memakan waktu delapan tahun, menunjukkan komitmen kuat dari pihak ITB untuk menghadirkan fasilitas permuseuman yang berkualitas. Museum ini juga menjadi bukti nyata bagaimana sebuah Museum Perguruan Tinggi dapat menjadi pusat pembelajaran.
Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, menjelaskan bahwa Museum ITB lahir dari mimpi bersama untuk menghadirkan ruang yang merawat sejarah sekaligus menginspirasi masa depan. Ia menekankan bahwa museum ini bukan hanya tempat menyimpan benda bersejarah, melainkan ruang pengetahuan, refleksi, dialog, dan inspirasi. Museum ini diharapkan menjadi sumber pembelajaran berharga bagi generasi mendatang.
Museum ITB menghadirkan empat zona utama yang menarik, yaitu Akar Sejarah Institut Teknologi Bandung, Jejak Pencerahan Riset dan Pendidikan, Kehidupan Kampus dari Masa ke Masa, dan Inspirasi Masa Depan. Untuk memperkaya pengalaman pengunjung, museum ini dilengkapi dengan 360° Theater Dome sebagai ruang pengalaman imersif berbasis teknologi digital. Inovasi ini menjadikan Museum Perguruan Tinggi sebagai destinasi edukasi modern.
Advertisement
Sumber: AntaraNews