Menteri Kebudayaan Dorong Revitalisasi Perpustakaan Rumphius Ambon, Simpan Warisan Penting Georg Rumphius
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menekankan pentingnya revitalisasi Perpustakaan Rumphius di Ambon, yang menyimpan warisan pengetahuan Georg Rumphius tentang kekayaan alam Nusantara.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengemukakan perlunya revitalisasi Perpustakaan Rumphius yang berlokasi di Gereja Katedral Fransiskus Xaverius Ambon. Perpustakaan ini menyimpan karya-karya penting dari Georg Eberhard Rumphius, seorang ilmuwan awal yang berjasa mendokumentasikan kekayaan alam Nusantara. Pernyataan ini disampaikan setelah Menteri Kebudayaan meninjau langsung fasilitas tersebut di Ambon, Maluku.
Kunjungan dan penekanan pada revitalisasi ini dilakukan pada Jumat (28/11), dengan harapan dapat mengembalikan fungsi maksimal perpustakaan. Langkah ini dianggap krusial untuk melestarikan dan membuka akses terhadap khazanah pengetahuan hayati yang tak ternilai. Perpustakaan Rumphius memiliki nilai historis yang sangat tinggi sebagai pusat pembelajaran ilmu pengetahuan.
Komitmen pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan terlihat jelas dalam upaya ini. Revitalisasi diharapkan dapat memastikan bahwa warisan pengetahuan Georg Eberhard Rumphius tetap hidup dan bermanfaat bagi generasi sekarang maupun yang akan datang. Hal ini sejalan dengan visi untuk terus merawat, mengembangkan, dan membuka akses seluas-luasnya terhadap pengetahuan.
Pentingnya Warisan Pengetahuan Georg Rumphius
Georg Eberhard Rumphius dikenal sebagai tokoh ilmuwan yang sangat penting dalam sejarah pengetahuan alam. Karyanya menjadi salah satu dokumentasi awal yang komprehensif mengenai kekayaan alam Nusantara, khususnya flora dan fauna di Ambon. Kontribusinya bahkan mempengaruhi banyak ilmuwan besar dunia.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menjelaskan bahwa, "Rumphius adalah tokoh ilmuwan yang sangat penting karena menjadi salah satu orang pertama yang menulis tentang kekayaan alam Nusantara. Karyanya juga mempengaruhi banyak ilmuwan besar seperti Alfred Wallace dan Charles Darwin." Pernyataan ini menegaskan betapa vitalnya peran Rumphius dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
Perpustakaan Rumphius menyimpan berbagai literatur dan referensi mengenai karya-karya monumental Rumphius. Di antara koleksi penting tersebut adalah Herbarium Amboinense dan D’Amboinsche Rariteitkamer. Kedua karya ini merupakan catatan awal yang mendetail tentang flora, fauna, dan kekayaan alam yang ada di Ambon.
Momen Tepat untuk Revitalisasi Perpustakaan
Menteri Kebudayaan menyoroti bahwa tahun 2027 akan menjadi momen yang sangat tepat untuk melakukan revitalisasi Perpustakaan Rumphius secara menyeluruh. Tahun tersebut menandai 400 tahun kelahiran Georg Eberhard Rumphius, sebuah tonggak sejarah yang signifikan. "Tahun 2027, Rumphius genap 400 tahun bila dihitung dari tahun kelahirannya. Ini momen yang tepat untuk menata kembali perpustakaan agar masyarakat, siswa, mahasiswa, dan tamu asing bisa mengakses koleksi yang ada di sini," ujarnya.
Penataan kembali perpustakaan ini bertujuan untuk meningkatkan aksesibilitas bagi berbagai kalangan. Masyarakat umum, siswa, mahasiswa, hingga tamu asing diharapkan dapat lebih mudah mengakses koleksi berharga yang tersimpan. Peningkatan akses ini akan mendukung proses pembelajaran dan penelitian mengenai kekayaan hayati Nusantara.
Revitalisasi Perpustakaan Rumphius bukan hanya sekadar perbaikan fisik, tetapi juga upaya untuk menghidupkan kembali semangat keilmuan. Dengan akses yang lebih baik, warisan pengetahuan Rumphius dapat dipelajari dan dikembangkan lebih lanjut oleh generasi penerus. Ini adalah investasi jangka panjang untuk pendidikan dan penelitian di Indonesia.
Komitmen Kementerian dan Sejarah Pendirian
Kementerian Kebudayaan telah menyatakan komitmennya untuk terus merawat, mengembangkan, dan membuka akses seluas-luasnya terhadap khazanah pengetahuan hayati Nusantara. Revitalisasi Perpustakaan Rumphius merupakan bagian integral dari komitmen tersebut. Upaya ini memastikan bahwa warisan intelektual yang ditinggalkan oleh Rumphius tidak hanya tersimpan, tetapi juga dimanfaatkan secara maksimal.
Perpustakaan Rumphius sendiri memiliki sejarah pendirian yang menarik. Institusi ini didirikan pada tahun 1984 oleh Mgr Andreas Sol. Beliau adalah seorang uskup yang sejak awal tahun 1960-an telah berdedikasi mengumpulkan berbagai literatur terkait Georg Eberhard Rumphius. Inisiatif Mgr Andreas Sol menjadi fondasi penting bagi keberadaan perpustakaan ini.
Terletak di lantai pertama pastoran Gereja Katedral Fransiskus Xaverius, lokasi perpustakaan ini menambah nilai historisnya. Keberadaannya di lingkungan gereja juga mencerminkan peran institusi keagamaan dalam pelestarian ilmu pengetahuan dan budaya. Komitmen bersama dari berbagai pihak diharapkan dapat mewujudkan revitalisasi yang sukses.
Sumber: AntaraNews