Menko AHY Cek Kerusakan Infrastruktur di Lubuk Sidup, Upayakan Perbaikan Jembatan Penghubung Dua Kabupaten
Menko AHY menegaskan bahwa kehadirannya untuk memastikan percepatan pembersihan jalur transportasi dan kelancaran distribusi logistik.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), meninjau dan mengecek langsung titik-titik kerusakan infrastruktur vital di Desa Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang salah satu wilayah yang terdampak paling parah akibat banjir besar dan longsor. Dalam kunjungan ini, Menko AHY menyampaikan empati mendalam kepada warga serta mengapresiasi para petugas dan relawan yang bekerja tanpa henti memulihkan akses di lapangan.
Melalui peninjauan langsung di lokasi yang sebelumnya tertutup lumpur dengan rumah-rumah warga yang rusak di kanan-kiri jalan, Menko AHY menegaskan bahwa kehadirannya untuk memastikan percepatan pembersihan jalur transportasi dan kelancaran distribusi logistik.
"Setelah melalui ruas jalan yang tadi kita sama-sama ketahui tertutup lumpur, kanan-kiri terlihat rumah warga yang hancur dan rusak akibat banjir besar serta tertimbun longsor. Saat ini kita berada di Desa Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang. Aceh Tamiang termasuk daerah yang paling parah terdampak bencana," ujarnya.
Menko AHY mengapresiasi jajaran Kementerian PU yang telah mengerahkan alat berat guna membuka jalur terdampak. Ia menegaskan bahwa tugas Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan adalah memastikan koordinasi menyeluruh antar kementerian teknis agar penanganan darurat berjalan efektif.
"Oleh karena itu, kehadiran kami di sini untuk memastikan pekerjaan pembersihan jalur-jalur transportasi, termasuk mendorong logistik langsung kepada warga di berbagai kecamatan dan desa di Aceh Tamiang. Termasuk tentunya peran Kepala Balai dari Kementerian Pekerjaan Umum yang bertanggung jawab mengerahkan alat-alat berat. Agar secara cepat dan efektif dapat bekerja di lapangan," tuturnya.
Dalam dialog bersama Kepala Desa Lubuk Sidup, Ibrahim, Menko AHY menyampaikan keprihatinannya atas akses yang terputus sehingga membuat banyak desa tak dapat dijangkau.
"Secara langsung kita melihat ada jalur atau akses yang terputus. Padahal masih ada banyak warga, kampung, dua desa lagi di sana yang sulit dijangkau selama akses belum tersambung. Kita ingin mendorong bantuan logistik—beras misalnya—termasuk air bersih, tetapi sulit karena masih sekitar satu setengah kilometer lagi dan seluruh jalurnya tertutup lumpur," ucapnya.
Menko AHY menegaskan telah memerintahkan percepatan pembukaan akses tersebut. "Oleh karena itu, saya sudah meminta kepada Kepala Balai agar segera mengerahkan alat-alat berat untuk membersihkan dan membuka kembali akses tersebut," katanya.
Salah satu kerusakan infrastruktur terberat berada pada jembatan penghubung antarkabupaten yang rubuh tersapu banjir.
"Sedangkan yang di belakang kita ini, bisa dilihat ada sungai yang cukup lebar dan jembatan yang tadinya berdiri kokoh—kurang lebih 200 hingga 250 meter panjangnya. Jembatan ini menghubungkan bukan hanya dua desa atau dua kecamatan, melainkan juga dua kabupaten: Aceh Tamiang dan Aceh Timur. Dan sekarang jembatan ini hancur," jelasnya.
Untuk memastikan konektivitas dasar segera pulih, Menko AHY mendorong kolaborasi lintas pihak, termasuk dengan tim Vertical Rescue Eiger yang turut memetakan kebutuhan teknis pembangunan jembatan darurat.
"Karena itu, kami ingin berkolaborasi. Terima kasih kepada teman-teman tim Vertical Rescue Eiger yang juga sedang memetakan kondisi teknis. Nantinya kita bersama-sama, bersama warga juga, akan mencoba membangun jembatan perintis. Ini adalah upaya cepat yang bisa kita lakukan, paling tidak untuk menghubungkan wilayah terlebih dahulu," ujarnya.
Ia menjelaskan, jembatan perintis ditargetkan selesai dalam waktu sekitar 21 hari, sedangkan pembangunan jembatan permanen membutuhkan waktu lebih panjang. "Untuk jembatan perintis, tadi diestimasi kurang lebih 21 hari. Mudah-mudahan jika ada tambahan tenaga bisa sedikit lebih cepat, dan masyarakat—kalau berkenan—bisa ikut dikerahkan. Namun untuk membangun kembali jembatan permanen tentu membutuhkan waktu. Kita bicara 4, 5, 6 bulan ke depan, bahkan 1 tahun mendatang akan ada banyak perbaikan serta pembangunan infrastruktur kembali. Namun kita tidak ingin terlalu lama. Kita ingin cepat, tetapi juga harus kokoh," tegasnya.
Soroti Kerusakan Infrastruktur Listrik
Di sela peninjauan, Menko AHY juga menyoroti kerusakan infrastruktur listrik dan telekomunikasi, termasuk robohnya tower tegangan tinggi PLN yang membuat wilayah terdampak gelap gulita dan sulit berkomunikasi.
"Tadi, jika kita lihat kiri kanan jalan, kehancurannya luar biasa. Kita juga berhenti sejenak melihat tower tegangan tinggi PLN yang roboh. Padahal listrik itu vital tanpa listrik malam gelap gulita dan semua informasi serta komunikasi tidak bisa berjalan. Karena itu, kita juga mengawal perbaikan infrastruktur telekomunikasi dan infrastruktur listrik di Aceh Tamiang serta daerah-daerah lainnya," ujarnya.
Ajak Semua Pihak Bergantian
Pada kesempatan ini, Menko AHY mengajak seluruh pihak untuk bersatu memulihkan Aceh Tamiang. "Mari kita bergandengan tangan: pemerintah pusat, daerah, termasuk seluruh elemen masyarakat yang tergerak membantu saudara-saudara kita yang sedang menghadapi situasi sulit," pungkasnya.
Turut hadir dalam Menko AHY ini, Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Ayodhia G.L Kalake, Deputi Bidang Koordinasi Pemerataan Pembangunan Wilayah, Agraria, dan Tata Ruang, Nazib Faizal; Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar, Muhammad Rachmat Kaimuddin; Staf Khusus Bidang Manajemen dan Kerja Sama Antar Lembaga, Agust Jovan Latuconsina; dan Staf Khusus Bidang Hukum dan Regulasi, Sigit Raditya.