Meningkatnya Bahaya Erupsi Gunung Dukono: Pelajaran dari Tragedi Pendaki dan Budaya FOMO

Tragedi pendaki di Gunung Dukono menyoroti bahaya erupsi yang sering diabaikan. Peningkatan aktivitas vulkanik dan budaya FOMO memperparah risiko di gunung aktif ini, menuntut evaluasi menyeluruh.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Meningkatnya Bahaya Erupsi Gunung Dukono: Pelajaran dari Tragedi Pendaki dan Budaya FOMO
Tragedi pendaki di Gunung Dukono menyoroti bahaya erupsi yang sering diabaikan. Peningkatan aktivitas vulkanik dan budaya FOMO memperparah risiko di gunung aktif ini, menuntut evaluasi menyeluruh. (AntaraNews)

Evakuasi paksa belasan pendaki, jatuhnya satu korban jiwa, serta dua pendaki lain yang masih dalam pencarian menjadi gambaran pahit dari erupsi Gunung Dukono di Pulau Halmahera, Maluku Utara. Peristiwa ini menunjukkan besarnya ancaman bencana yang mengintai di kawasan gunung api aktif, terutama ketika aktivitas vulkanik meningkat sewaktu-waktu. Insiden ini menjadi pengingat serius akan risiko yang melekat pada pendakian gunung berapi.

Padahal, Dukono bukan gunung yang meletus secara tiba-tiba tanpa memunculkan tanda alam terlebih dahulu sebagai peringatan awal. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah merekomendasikan agar manusia tidak melakukan aktivitas di dalam radius empat kilometer dari pusat vulkanik aktif kawah Malumpang Warirang sejak 11 Desember 2024. Wisata pendakian pun ditutup sejak 17 April 2026, lantaran aktivitas magmatik dan vulkanik yang meningkat pesat.

Tragedi yang terjadi pada 8 Mei 2026 ini, yang melibatkan korban jiwa dan pendaki hilang, seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. Keselamatan harus menjadi prioritas utama di atas ego petualangan, terutama saat berhadapan dengan bahaya erupsi Gunung Dukono. Memahami batas manusia di hadapan alam adalah kunci utama dalam setiap aktivitas pendakian.

Gunung Dukono, dengan ketinggian 1.355 meter di atas permukaan laut, masuk ke dalam jajaran empat besar gunung paling aktif meletus sepanjang tahun 2025. Gunung ini berada setelah Gunung Semeru, Gunung Ibu, dan Gunung Lewotobi Laki-laki, menunjukkan tingkat aktivitas vulkaniknya yang tinggi. Kolom erupsi berintensitas tebal dengan ketinggian sepuluh kilometer di atas puncak merupakan hal lumrah yang kerap terjadi di gunung-gunung berapi aktif ini.

Peringkat empat besar secara nasional menandakan gunung dengan status Level II atau Waspada tersebut bukanlah arena adrenalin untuk menantang maut. Sebaliknya, Dukono adalah destinasi alam yang harus selalu dihormati dan diwaspadai oleh manusia. Gunung Dukono juga menduduki klasifikasi Tipe A lantaran memiliki catatan sejarah letusan sejak tahun 1600 hingga sekarang.

Karakteristik letusan Gunung Dukono bersifat intermiten dan seringkali tidak disertai dengan gempa vulkanik dalam yang kuat. Zona empat kilometer dari kawah menyimpan ancaman langsung berupa lontaran batu pijar dan sebaran abu vulkanik. PVMBG telah berulang kali mengingatkan tentang bahaya ini, menekankan pentingnya kepatuhan terhadap rekomendasi keselamatan yang telah dikeluarkan.

Pasca pandemi Covid-19, intensitas pendakian ke Gunung Dukono meningkat signifikan, dipicu oleh banyak video viral yang memperlihatkan detik-detik erupsi dari bibir kawah. Kehadiran media sosial yang menampilkan cerita-cerita dramatis terkait pendakian gunung berapi aktif menimbulkan budaya takut ketinggalan atau fear of missing out (FOMO). Hal ini menumbuhkan tren wisata pendakian ekstrem, menempatkan puncak gunung sebagai simbol pencapaian keberanian dan wibawa.

Konten-konten seperti foto mendaki hingga ke bibir kawah curam, video menyelamatkan diri dari kejaran awan panas, hingga narasi menyaksikan fenomena alam langka letusan gunung berapi dari jarak dekat dipercaya sebagai katrol untuk menarik perhatian publik. Pada 21 November 2025, sebuah video viral di platform X bahkan memperlihatkan aksi seorang pendaki perempuan yang menyaksikan erupsi secara langsung dari bibir kawah Gunung Dukono. Tayangan tersebut dibubuhi tulisan yang mengesankan pengabaian risiko demi konten.

Fenomena ini jelas berbahaya karena terkesan menyepelekan erupsi gunung api, di mana gumpalan abu vulkanik dipandang sebagai kejadian langka nan eksotis, bukan lagi alarm bahaya. Inti narasi berbagai konten digital serupa terkait keinginan mendapatkan pengakuan publik bahwa mereka adalah orang-orang hebat yang rela bertaruh nyawa. Banyak wisatawan yang mendaki tidak memiliki wawasan luas tentang bahaya dan risiko letusan gunung api aktif, hanya membawa semangat petualangan tanpa literasi kebencanaan vulkanologi.

Meskipun PVMBG telah menerbitkan peringatan zona merah dalam radius empat kilometer dari puncak kawah, tetap saja ada pendaki nakal yang menyelinap masuk secara diam-diam. Erupsi tidak mengenal istilah negosiasi, tidak peduli ambisi pribadi, dan tidak melihat jumlah pengikut media sosial. Ketika gunung memuntahkan material, pendaki berada dalam posisi sebagai makhluk paling lemah. Pemahaman dasar mengenai zona bahaya, tanda-tanda aktivitas vulkanik, karakter erupsi, dan arah semburan awan panas dapat meningkatkan peluang selamat saat terjadi letusan.

Tragedi erupsi Gunung Marapi di Sumatera Barat yang menewaskan 24 pendaki pada 3 Desember 2023, kemudian erupsi Gunung Dukono di Maluku Utara pada 8 Mei 2026 yang juga menewaskan pendaki, memperlihatkan bahwa kita memiliki ingatan pendek terhadap bencana vulkanologi. Oleh karena itu, literasi kebencanaan vulkanologi perlu ditingkatkan agar tidak ada lagi pendaki yang mati konyol akibat ketidaktahuan. Kebiasaan melupakan kengerian letusan gunung api perlu diatasi dengan merawat ingatan kolektif melalui ruang-ruang pendidikan dan upaya mitigasi intensif.

Tragedi Dukono adalah momentum evaluasi bersama untuk membenahi tata kelola wisata pendakian di Indonesia. Surat rekomendasi yang dikeluarkan oleh PVMBG bukan sekadar formalitas administrasi, melainkan acuan mutlak bagi keselamatan pendaki di kawasan gunung api aktif. Jalur pendakian yang ditutup selama periode aktivitas magmatik dan vulkanik yang meningkat harus dipatuhi oleh semua orang, tanpa tawar-menawar atas dasar kepentingan ekonomi lokal.

Alasan keamanan dan ekologis membuat paradigma wisata massal tidak cocok diterapkan dalam mengelola destinasi wisata gunung api aktif. Pendekatan ideal adalah wisata berkualitas dengan fokus terhadap minat khusus, pengalaman, dan keberlanjutan lingkungan serta budaya. Sistem pengawasan pendaki harus lebih ketat menggunakan aplikasi pelacakan berbasis GPS guna memantau posisi pendaki secara real-time. Ketika pendaki terbukti menerobos zona berbahaya, maka sanksi tegas seperti blacklist hingga denda harus diberikan.

Pemerintah tidak boleh ragu untuk membatasi aktivitas pendakian walau kebijakan itu berdampak serius terhadap angka kunjungan wisatawan dan mempengaruhi pendapatan daerah. Berbagai destinasi alternatif harus dibangun agar pendaki tidak hanya berambisi mencapai puncak, tetapi juga menikmati suasana alam, budaya, maupun sosial yang melekat kuat dalam kehidupan penduduk lokal. Tragedi 8 Mei 2026 harus menjadi titik balik pengelolaan wisata Gunung Dukono agar kelak tidak ada lagi korban jiwa akibat bencana erupsi, serta mengubah cara pandang bahwa letusan bukanlah objek tontonan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi