Mengapa PBB Lahir? Sekjen Antonio Guterres Serukan Perdamaian dan Kerja Sama Global di Tengah Kekacauan Dunia
Sekjen PBB Antonio Guterres menyerukan **Seruan Perdamaian PBB** dan kerja sama global, mengingatkan kembali tujuan pendirian organisasi tersebut di tengah krisis dunia. Apa urgensi di baliknya?
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres baru-baru ini melayangkan Seruan Perdamaian PBB yang mendesak para pemimpin dunia. Ia meminta mereka untuk memprioritaskan perdamaian dan kerja sama di atas kekacauan. Seruan ini disampaikan dalam pidato pembuka Sidang Majelis Umum ke-80 PBB di Markas Besar PBB, New York.
Pidato penting ini berlangsung pada hari Selasa, 24 September, saat sesi Debat Umum dimulai. Guterres menekankan bahwa pilihan antara kerja sama dan konflik adalah strategi nyata untuk kelangsungan hidup umat manusia. Ia merefleksikan alasan fundamental di balik pendirian PBB itu sendiri.
Dalam pidatonya, Guterres menegaskan bahwa "Kerja sama, bukan kekacauan. Hukum, bukan pelanggaran hukum. Perdamaian, bukan konflik." Pernyataan ini menjadi inti dari pesan yang ingin disampaikan kepada seluruh delegasi yang hadir. Dunia saat ini menghadapi berbagai tantangan serius yang memerlukan respons kolektif.
Kekacauan Global dan Krisis Kemanusiaan
Guterres menggambarkan kondisi dunia saat ini yang ditandai oleh kekerasan yang meluas serta kelaparan parah di banyak wilayah. Selain itu, bencana iklim yang semakin sering terjadi menambah daftar panjang penderitaan manusia. Ia menyatakan bahwa "Kita telah memasuki era gangguan sembrono dan penderitaan manusia yang tiada henti."
Pilar-pilar perdamaian dan kemajuan global saat ini terancam runtuh akibat impunitas, ketimpangan, dan ketidakpedulian. Sekjen PBB menyoroti berbagai krisis seperti invasi militer, penggunaan kelaparan sebagai senjata, dan disinformasi yang membungkam kebenaran. Semua ini menciptakan ketidakstabilan yang mendalam.
Asap yang membumbung dari kota-kota yang dibom dan amarah yang mengoyak jalinan sosial menjadi gambaran nyata dari konflik yang terjadi. Bahkan, laut yang menelan garis pantai juga menunjukkan dampak krisis iklim yang serius. Setiap peristiwa ini menjadi peringatan keras bagi pemerintah dunia untuk segera mengambil tindakan.
Guterres secara retoris bertanya, "Dunia seperti apa yang akan kita pilih? Apakah dunia yang dikuasai oleh kekuatan semata atau dunia yang dijalankan oleh hukum?" Pertanyaan ini menyoroti dilema fundamental yang dihadapi oleh para pemimpin global.
Pentingnya Multilateralisme dan Kerja Sama Internasional
Meskipun dunia semakin multipolar, Guterres melihatnya sebagai hal yang positif karena mencerminkan lanskap global yang lebih beragam. Namun, ia memperingatkan bahwa multipolaritas tanpa institusi multilateral yang efektif dapat mengundang kekacauan. Sejarah, seperti Perang Dunia I, telah membuktikan bahaya tersebut.
Seruan Perdamaian PBB ini menekankan bahwa kerja sama internasional bukanlah sikap naif, melainkan bentuk pragmatisme yang berlandaskan akal sehat. Tidak ada satu negara pun yang dapat mengatasi pandemi atau krisis global lainnya sendirian. Hal ini menunjukkan pentingnya solidaritas dan upaya bersama.
Guterres menegaskan bahwa semua tantangan global ini adalah ujian bagi sistem, solidaritas, dan keteguhan tekad kita. Ia yakin bahwa ujian-ujian ini dapat dilewati, dan harus dilewati, demi memenuhi tuntutan rakyat di seluruh dunia. Rakyat menuntut sesuatu yang lebih baik dari para pemimpin mereka.
Agenda Sidang Majelis Umum PBB ke-80
Hari pertama sesi Debat Umum Sidang Majelis Umum PBB ke-80 dimulai dengan pidato pembuka dari Sekjen PBB António Guterres. Setelah itu, Presiden Sidang Majelis Umum Annalena Baerbock juga menyampaikan pidatonya. Ini menandai dimulainya serangkaian diskusi penting antar negara.
Sesi tersebut dilanjutkan dengan pidato dari para pemimpin negara-negara anggota PBB. Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva menjadi pembicara pertama, diikuti oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dan Presiden Indonesia Prabowo Subianto. Kehadiran pemimpin-pemimpin ini menunjukkan komitmen terhadap forum global.
Negara-negara lain yang turut menyampaikan pidato pada hari pertama antara lain Turki, Peru, Yordania, Korea Selatan, Qatar, Suriname, Lithuania, Portugal, Uruguay, Slovenia, Kazakhstan, Afrika Selatan, dan Uzbekistan. Partisipasi luas ini memperkuat semangat kerja sama global yang diserukan oleh Guterres.
Sumber: AntaraNews