Menengok Kehidupan Warga Kampung Tambak Lorok Dikunjungi Jokowi Malam Hari

Selasa, 19 Februari 2019 18:46 Reporter : Danny Adriadhi Utama
Menengok Kehidupan Warga Kampung Tambak Lorok Dikunjungi Jokowi Malam Hari Nelayan Tambak Lorok. ©2019 Merdeka.com/Danny Adriadhi Utama

Merdeka.com - Presiden Joko Widodo alias Jokowi diam-diam mendatangi Kampung Tambak Larok, Semarang Utara awal bulan ini. Dia datang malam hari untuk meninjau kondisi perkampungan di wilayah Tanjung Emas itu.

Menurut Ketua RW setempat, Haji Sueb, Jokowi datang pukul 22.30 Wib. Jokowi sempat mengungkap soal kunjungannya tersebut saat debat kedua capres akhir pekan lalu.

Merdeka.com coba mendatangi dan melihat langsung kehidupan warga Tambak Lorok, yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. Sejak lima tahun terakhir, kampung itu sudah berbenah menjadi lebih tertata dan bersih.

"Lumayan bersih dan tertata, dari yang dahulunya kumuh menjadi bersih dan pemukiman penduduk tertata. Dari yang dahulunya kalau ada ombak besar terdampak, warga juga sudah merasakan tidak ada ombak yang masuk meski sedikit keberadaan ombak menerjang sampai daratan," kata Sueb saat ditemui merdeka.com di rumahnya, Selasa (19/2).

Sueb menceritakan, wilayahnya masuk program kampung bahari yang digagas pemerintah pusat. Dulunya, kampung mereka tak terkenal, sampai akhirnya Jokowi berkunjung pada 2014 lalu dan mendengar aspirasi warga.

"Jadi itu berkat kunjungan beliau tahun 2014 di kampung kami. Dia menampung keluhan warga. Sebagian warga meminta kampungnya jadi kampung bersih," katanya.

Beruntung, katanya, keluhan warga didengar oleh pemerintah pusat. Melalui Pemerintah Kota Semarang, Kampung Tambak Lorok dipercantik.

"Intinya warga dibikinkan talud agar tidak terdampak ombak, insfrastruktur jalan, dan pembangunan pasar ikan direspon oleh Pemerintah," jelasnya.

Warga sangat senang. Talud mempermudah akses nelayan dan memperindah kesemrawutan selama ini.

"Ini lumayan tertata, semenjak ada talud. Nelayan yang keluar masuk dermaga bisa terpantau. Kalau dulu kan asal di bibir pantai kapal semrawut. Mana kapal yang akan melaut, mana kapal yang pulang melaut," ujarnya.

Selain itu, katanya, setibanya di dermaga, nelayan langsung berada di depan perdagangan Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Namun saat ini belum didapat digunakan.

"Pasar ikan sudah jadi, tapi belum digunakan. Oleh sebagian pedagang masih menjual di lapak-lapak sederhana depan gedung pasar ikan," jelasnya.

Seorang nelayan, Parno, menceritakan talud mempermudah saat menjemur ikan setelah melaut. Ikan-ikan diletakkan di tampah.

"Ini ikan biasanya saya jemur di sini sampai kering," ujarnya.

Parno juga senang sejak mendapatkan perhatian pemerintah, nelayan di Tambak Lorok bisa melaut menggunakan kapal 10 GT dipermudah.

"Enaknya kapal saya di bawah 10 GT tidak perlu pakai surat izin dinas terkait. Artinya bisa melaut di laut lepas. Lha ini keuntungannya, sekali melaut ya lumayan tangkapannya," kata Parno menutup perbincangan menjelang sore. [lia]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini