Jalan Prapatan Baru, Kwitang, mungkin bukan jalanan yang menarik untuk di suguhkan, tapi di samping itu ada komunitas penjual kopi keliling yang berjuang untuk hidup. Sampah yang menumpuk di sisi pintu masuk dan aroma khas bantaran kali menyambut siapa pun yang berkunjung. Di balik keriuhan Jakarta Pusat yang mentereng, gang sempit ini adalah denyut nadi bagi ratusan pesepeda penyaji kafein.
Sepanjang mata memandang, gerobak dan sepeda berjejer rapi bak barisan prajurit yang bersiap menyerbu aspal ibu kota. Kampung Starling orang menyebutnya, sebuah permukiman padat yang menjadi rumah bagi para pedagang kopi keliling (Starbucks Keliling).
Warisan Sejarah
Eksistensi komunitas ini bukanlah barang baru. Menurut penuturan warga setempat, cikal bakal kampung ini sudah ada sejak era Wakil Presiden Sultan Hamengkubuwono IX yang menjabat pada tahun 1973.
"Kampung ini berdiri sejak zaman Sultan Hamengkubuwono IX menjabat Wapres. Awalnya, orang-orang di sini bukan jualan kopi sachet, tapi jualan minuman botol seperti teh botol atau Aqua botol," ungkap Faisal nama samaran.
Kala itu, para perantau asal Madura datang mengadu nasib dengan gerobak dorong. Namun, kerasnya aturan tata kota dan kejaran Satpol PP memaksa mereka memutar otak. Menjual minuman botol dalam botol kaca sangatlah berat dan berisiko pecah saat ada penertiban. Alhasil, demi kelincahan saat 'kucing-kucingan' dengan petugas, mereka beralih ke kopi sachet yang lebih ringkas dan ringan untuk dibawa menggunakan sepeda.
"Demi kelincahan saat kucing-kucingan dengan petugas, para pedagang memilih kopi sachet yang praktis dan tidak merepotkan, sehingga bisa berpindah cepat menggunakan sepeda," katanya.
Ekonomi di Atas Dua Roda
Meski terlihat sederhana, omzet dari kayuhan pedal ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Di tengah gempuran kafe kekinian yang menjual kopi seharga puluhan ribu, kehadiran Starling menjadi penyelamat kantong pekerja ibu kota.
"Pendapatan sehari bisa sampai Rp300.000 hingga Rp500.000. Desain sepedanya memang seragam agar efisien membawa rentengan kopi. Kami berkeliling jauh demi memenuhi keinginan orang yang mau ngopi murah dibandingkan di toko-toko mahal," jelas Fikri nama samaran.
Omzet yang menggiurkan rupanya menarik minat keluarga dan kerabat dari kampung halaman untuk ikut merantau. Kini, mayoritas penghuni adalah warga Madura, meski ada juga pedagang soto atau ketoprak yang terselip di antaranya.
Advertisement
Rantai pasokan di Kampung Starling ini memiliki dua jalur unik yang menentukan bagaimana para pedagang mengelola modal mereka. Sebagian pedagang memilih menjadi "pemain tunggal" yang berbelanja secara mandiri ke pasar-pasar tradisional di sekitar Jakarta Pusat demi mengejar margin keuntungan yang lebih besar.
Sistemnya macam-macam. Ada yang setiap pagi belanja sendiri ke pasar kalau punya modal lebih. Tapi banyak juga yang ambil barang di agen yang ada di dalam kampung. Di agen, kami tinggal ambil barang, lalu setor uang penjualannya setiap hari setelah selesai keliling.
Advertisement
Di dalam kampung ini, bangunan-bangunan dua lantai yang disulap menjadi kontrakan berdiri berhimpitan. Untuk sebuah ruang di pusat kota, harga sewanya tergolong kompetitif, berkisar antara Rp500.000 hingga Rp600.000 per bulan.
Di sini, setiap sudut adalah bengkel persiapan. Sebelum matahari meninggi, mereka sibuk menata dagangan, memastikan air panas tersedia, dan memompa ban sepeda. Bagi mereka, Jalan Prapatan Baru bukan sekadar tempat tinggal yang kumuh di samping kali, melainkan titik tolak perjuangan untuk menyekolahkan anak di kampung halaman melalui setiap gelas plastik kopi yang terjual.