Memutus Kurva Pelupaan: Kunci Ketangguhan Antargenerasi Bencana di Indonesia

Indonesia terus dihadapkan pada ancaman bencana. Artikel ini mengulas pentingnya memutus kurva pelupaan dan membangun **ketangguhan antargenerasi bencana** melalui kearifan lokal dan dukungan penta-helix untuk masa depan yang lebih aman.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Memutus Kurva Pelupaan: Kunci Ketangguhan Antargenerasi Bencana di Indonesia
Indonesia terus dihadapkan pada ancaman bencana. Artikel ini mengulas pentingnya memutus kurva pelupaan dan membangun **ketangguhan antargenerasi bencana** melalui kearifan lokal dan dukungan penta-helix untuk masa depan yang lebih aman. (AntaraNews)

Indonesia, sebuah negara kepulauan yang kaya akan keindahan alam, juga hidup di atas lanskap risiko bencana yang terus mendera. Ancaman seperti tsunami di zona megathrust, banjir bandang akibat hujan ekstrem, longsor di wilayah pegunungan, hingga penurunan muka tanah di kota-kota pesisir menjadi bagian tak terpisahkan dari realitas geografisnya. Realitas ini menuntut kesadaran dan kesiapsiagaan kolektif yang berkelanjutan dari seluruh elemen masyarakat.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan bahkan pernah menyebut bahwa bencana di Sumatera akhir tahun 2025, meskipun menelan korban jiwa lebih sedikit dari tsunami Aceh 2004, namun kerusakan tata ruang wilayah yang terdampak jauh lebih luas dan besar. Kejadian berulang seperti banjir bandang di Sibolga pada tahun 1956 dan kembali meluluhlantakkan 1.666 titik infrastruktur hampir tujuh dekade kemudian, menunjukkan bahwa bahaya alam memiliki ingatan yang lebih panjang daripada masyarakat yang mengalaminya. Fenomena ini menggarisbawahi urgensi untuk tidak melupakan pelajaran dari masa lalu.

Ketika memori kolektif terputus, ruang hidup yang sama kembali dihuni dengan kerentanan serupa, sering kali oleh kelompok sosial yang sama. Ironisnya, jarak waktu antar-bencana yang terlalu panjang justru membuat kesadaran kolektif perlahan memudar, menciptakan "kurva pelupaan" (forgetting curve) seperti yang dijelaskan oleh Fekete (2019) dan Ebbinghaus (1880-1885). Generasi baru tumbuh tanpa pengalaman langsung, tanpa trauma, dan sering kali tanpa cerita, membuat risiko terasa "tidak hadir" dalam keseharian hingga bencana kembali muncul dengan daya rusak yang sama atau bahkan lebih besar.

Sejarah kebencanaan Indonesia menunjukkan sisi lain yang membuka peluang dan harapan dari sisi ingatan kolektif. Beberapa komunitas mampu selamat dari peristiwa bencana bukan karena teknologi modern, melainkan karena ingatan yang dijaga lintas generasi. Contoh paling nyata adalah saat tsunami Aceh 2004 melanda, di mana ribuan orang di Pulau Simeulue selamat berkat satu kata yang diwariskan turun-temurun: "Smong".

Pengetahuan lokal ini mengajarkan bahwa jika gempa besar terjadi dan laut surut, masyarakat harus segera lari ke tempat tinggi. Pengetahuan "Smong" tidak lahir dari buku teks atau simulasi modern, melainkan dari pengalaman tsunami masa lalu yang disimpan dalam cerita, lagu, dan nasihat orang tua kepada anak-anaknya. Ini adalah bukti nyata bagaimana kearifan lokal dapat menjadi benteng pertahanan yang efektif.

Cerita serupa juga ditemukan di Mentawai dengan "Simouk Matau" ("ke bukit") saat terjadi bencana, di Bima dengan "Soromandi Ngalu" ("bergerak ke kawasan hutan") saat banjir bandang, serta dalam struktur sosial dan arsitektur tradisional seperti Tongkonan Layuk di Sulawesi yang terbukti lebih aman terhadap gempa dan likuefaksi. Semua contoh ini memiliki satu kesamaan penting: ketangguhan tidak dibangun secara instan, melainkan diwariskan melalui praktik sosial dan diperbarui dari generasi ke generasi. Ketangguhan sejati bekerja sebelum bencana terjadi melalui pewarisan pengetahuan, nilai, dan respons yang telah teruji oleh waktu.

Konteks bencana pada hakikatnya bersifat sangat lokal, di mana ancaman yang dihadapi masyarakat pesisir berbeda dengan masyarakat lereng gunung, dataran banjir, atau kota yang mengalami penurunan muka tanah. Oleh karena itu, ketangguhan tidak bisa dibangun melalui satu resep universal yang cocok untuk semua. Unit sosial terkecil seperti dusun, kampung adat, nagari, atau kelurahan menjadi arena kunci dalam membangun ketangguhan antargenerasi bencana.

Di tingkat komunitas ini, relasi antar-generasi berlangsung secara alami, pengetahuan lokal terjaga hidup, dan keputusan kritis saat bencana benar-benar dibuat, diterapkan, serta diuji. Keberulangan bencana yang tidak diantisipasi secara lintas generasi juga berkontribusi pada terperangkapnya kelompok rentan dalam lingkaran kemiskinan. Masyarakat miskin sering kali tidak memiliki pilihan selain tinggal dan beraktivitas di ruang-ruang berisiko tinggi, seperti bantaran sungai, pesisir rendah, atau lereng curam.

Setiap kejadian bencana tidak hanya menghancurkan aset fisik, tetapi juga memperlemah kapasitas ekonomi dan sosial lintas generasi, menciptakan dampak berjenjang (cascading impact). Tanpa mekanisme ketangguhan yang diwariskan, bencana menjadi faktor penguat kemiskinan struktural, bukan sekadar gangguan sementara. Jika masyarakat pada tingkat paling rentan tetap siaga, sadar risiko, dan memiliki mekanisme pewarisan pengetahuan lintas generasi, maka ketangguhan antargenerasi bencana di tingkat nasional sesungguhnya sedang terbangun dari bawah.

Ketangguhan berbasis komunitas tidak dapat dibiarkan tumbuh secara sporadis; ia memerlukan dukungan ekosistem yang melibatkan berbagai pelaku. Konsep penta-helix, yang mencakup akademisi, pemerintah, masyarakat sipil, dunia usaha, dan komunitas itu sendiri, menjadi kerangka kolaborasi yang esensial. Peran pemangku kepentingan di luar komunitas bukan untuk menggantikan inisiatif lokal, melainkan untuk mendukungnya.

Dukungan ini dapat berupa penyediaan kerangka panduan yang mudah dipahami, memfasilitasi pembelajaran lintas wilayah dan lintas generasi, serta memastikan upaya lokal terhubung dengan sistem formal seperti pendidikan, perencanaan wilayah, dan peringatan dini. Pengalaman negara-negara yang relatif tangguh seperti Jepang, Chili, dan Meksiko menunjukkan bahwa ketangguhan nasional yang kuat selalu bertumpu pada komunitas lokal yang sadar risiko, didukung oleh negara dan pengetahuan ilmiah, serta tetap berakar pada konteks sosial-budayanya.

Untuk menjembatani refleksi konseptual dengan praktik nyata, ketangguhan antargenerasi bencana dan resiliensi sosial di tingkat komunitas terkecil dapat dibangun melalui tiga langkah awal sederhana. Pertama, masyarakat perlu bersama-sama mengidentifikasi ancaman paling nyata di sekitarnya, seperti tsunami, banjir, longsor, gempa, atau penurunan tanah, berdasarkan pengalaman, sejarah lokal, dan pengetahuan ilmiah yang tersedia. Kedua, menghidupkan kembali memori risiko lintas generasi melalui tutur cerita warga berumur, penamaan tempat, dan praktik adat sebagai sumber pembelajaran bersama, sehingga risiko menjadi "hadir" dalam kesadaran generasi muda. Ketiga, pengetahuan dan memori tersebut kemudian diterjemahkan menjadi kesepakatan komunitas, seperti jalur evakuasi, titik aman, peran keluarga, latihan sederhana, serta integrasi dengan sekolah dan sistem peringatan dini.

Dengan dukungan penta-helix, tiga langkah ini memungkinkan masyarakat membangun ketangguhannya sendiri sesuai dengan ancaman yang dihadapinya, tanpa kehilangan akar lokalnya. Dalam era perubahan iklim dan meningkatnya ketidakpastian, ketangguhan tidak lagi cukup dipahami sebagai kemampuan "bangkit kembali lebih baik," melainkan sebagai kemampuan untuk terus belajar lintas generasi, beradaptasi lintas waktu, dan hidup berdampingan dengan risiko secara sadar dan bermartabat. Memutus mata rantai bencana dan kemiskinan harus dimulai dengan memutus kurva pelupaan, yakni terputusnya ingatan, pengetahuan, dan kewaspadaan lintas generasi.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi