Mau terbang terus' pamitan terakhir Mery Yulyanda, pramugari Lion Air jatuh

Darman mengungkap ucapan terakhir Mery sebelum menjadi korban pesawat nahas yang hilang kontak setelah 13 menit lepas dari landasan tersebut.

Kirom
Oleh Kirom - Reporter
Mau terbang terus' pamitan terakhir Mery Yulyanda, pramugari Lion Air jatuh
Keluarga Mery Yulyanda. ©2018 Merdeka.com/Kirom

Suasana duku memenuhi kediaman Mery Yulyanda, pramugari Lion Air PK-LQP jatuh di perairan Tanjungpakis, Karawang, Jawa Barat. Seluruh keluarga dan kerabat menangisi kedatangan jenazah mendiang Mery yang berhasil teridentifikasi tim dokter RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.

Mereka tak menyangka, perempuan yang begitu dikenal periang itu pergi ke pangkuan-Nya secepat ini. Mery, anak tunggal pasangan Yulianda dan Alianda merupakan tulang punggung keluarga.

Kakek korban, Darman mengenang cucunya sosok penyayang keluarga, terlebih kepada sang ibunda.

"Orangnya penurut banget, sayang dan patuh sama orang tua," ucap dia, di kediaman korban, Perumahan Golden Kirana, Solear, Tangerang, Jumat (9/11).

Darman mengungkap ucapan terakhir Mery sebelum menjadi korban pesawat nahas yang hilang kontak setelah 13 menit lepas dari landasan tersebut.

"Sebelum kecelakaan dia sempat pamit. Dan mengatakan sudah melakukan perpanjangan kontrak kerja bulan Oktober," ucapnya lirih.

Dia pun mengaku tak mendapat firasat, kalau cucunya yang berpamitan sebelum terbang itu akan pergi selamanya.

"Habis tanda tangan kontrak dia pamit, terus bilang kalau dia bakal jarang pulang atau enggak pulang karena mau terbang terus, gitu bilangnya," katanya.

Oleh keluarga, rencanaya, Mery akan disemayamkan di TPU Ciparanje Kulo, kecamatan Solear, kabupaten Tangerang.

Mery akhirnya berhasil teridentifikasi oleh tim DVI melalui DNA. Hingga saat ini, total jenazah korban Lion Air yang berhasil terindentifikasi sebanyak 71 korban.

Rekomendasi