4 Gembong teroris sudah insaf, sekarang setia pada NKRI

Rabu, 16 Mei 2018 06:32 Reporter : Fellyanda Suci Agiesta
4 Gembong teroris sudah insaf, sekarang setia pada NKRI Umar Patek. ©2016 merdeka.com/darmadi sasongko

Merdeka.com - Sekelompok teroris yang mengatasnamakan JAD (Jamaah Ansharut Daulah) dan JAT (Jamaah Ansharut Tauhid) menyerang beberapa tempat di Jawa Timur. Sebagai informasi JAD merupakan kelompok teroris yang berbasis di Indonesia yang dibentuk pada 2015 dan merupakan kelompok ekstremis Indonesia pengikut ISIS.

Tapi perlu diketahui, tak semua anggota teroris tetap ingin menjadi anggota teroris. Masih ada mantan anggota teroris yang memilih insaf dan berikrar untuk mencintai NKRI. Mereka juga menceritakan tentang kehidupan mereka saat menjadi seorang teroris. Inilah mereka:

1 dari 4 halaman

Ali Fauzi Manzi

Ali Fauzi Manzi. ©Istimewa

Ali penah menjadi kepala instruktur perakitan bom Jamaah Islamiyah (JI) Wakalah untuk wilayah Jawa Timur. Dia juga adik kandung Ali Imron, bomber bom Bali. Kini Ali mendirikan sebuah yayasan di Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Lamongan. Yayasan bernama Lingkar Perdamaian ini akan mendidik anak-anak, janda, serta para istri yang suaminya masih dipenjara karena kasus terorisme.

Ali pernah bercerita saat melihat kondisi korban bom di JW Marriot di Irlandia. Dia mengaku hatinya terasa teriris-iris, hancur. "Ilmu (teror) yang saya banggakan, ternyata membuat orang susah," katanya.

2 dari 4 halaman

Umar Patek

Umar Patek. ©2016 merdeka.com/darmadi sasongko

Mantan bomber Bali 1, Umar Patek, mengaku berhenti menjadi teroris karena itu adalah tindakan pengecut. Menurutnya, pelaku bom melarikan diri dan meninggalkan bom begitu saja. Mereka tak mau menanggung resiko setelah meletakkan bom yang membahayakan orang tak bersalah. "Mereka pengecut karena lari dan tak berani bertanggung jawab atas perbuatannya," ucap Umar.

Kini Umar terlihat menjadi petugas pembawa bendera pusaka saat Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 2015 di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 1 Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Sebelumnya, Umar bersama empat napi terorisme Poso dan Ambon, telah menyatakan kesetiaannya kepada NKRI. Proses penyadaran para napi terorisme ini adalah hasil dari sinergi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Kemenkumham, dalam hal ini Lapas Porong.

3 dari 4 halaman

Ustaz Abdurrahman Ayyub

Abdurrahman Ayyub. ©Istimewa

Sebelum Umar Patek mengikrarkan kesetiaannya pada Indonesia, Ustaz Abdurrahman Ayyub terlebih dahulu melakukan. Dia adalah alumni Majelis Terorisme Afganistan. Pernah menjabat sebagai Penasihat Gubernur IV Jemaah Islamiyah (JI) dari Australia.

Setelah keluar dari JI, Ayub bergabung dengan Lembaga Badan Nasional Penanggulangan Terorisme ( BNPT) sebagai pakar. Rekan-rekannya dari jaringan Jamaah Islamiyah masih saja sering melancarkan teror dan kecaman kepadanya dan keluarganya.

4 dari 4 halaman

Nasir Abbas

Nasir Abbas. ©Istimewa

Ia adalah guru dari Imam Samudra serta guru dari para teroris lainnya di Asia. Ia banyak menciptakan camp latihan bagi para pemuda. Kini membantu BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme).

Sebelum menjadi pribadi saat ini, Nasir pernah diajak Abu Bakar Baasyir bergabung dengan JI dan berlatih perang di Afghanistan saat berusia 18 tahun. Dia mengaku mendapat doktrin bahwa Indonesia telah menjajah Negara Islam Indonesia.

"Di Afghanistan sudah sejak lama melakukan pelatihan untuk mereka yang akan melakukan jihad. ‎Ada pelatihan menggunakan senjata, meracik bom, dan pelatihan ala militer," tutur Nasir.

Namun, seiring berjalannya waktu, ia justru menyadari apa yang ia lakukan salah. "Saya bingung bahwa kami disuruh berjihad. Namun, membunuh bangsa sendiri. Kami didoktrin untuk membunuh masyarakat sipil," ujar Nasir.

‎Akhirnya Nasir memutuskan keluar dari Jamaah Islamiyah dan kembali menjadi orang biasa seperti halnya masyarakat lainnya. [mtf]

Baca juga:
Cegah terorisme, Kemenag dialog dengan orang terpapar paham radikal
Ketum Muhammadiyah minta program deradikalisasi ditinjau ulang
Kepala BNPT sebut 124 mantan napi teroris jadi duta teror perdamaian
Jika dimarjinalkan, mantan napiter akan kembali ke jaringannya
Mendagri: Mantan teroris tak perlu lagi dicurigai, tapi tetap dipantau

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini