Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menuduh Amerika Serikat melakukan tindakan mirip kelompok teroris dalam konflik yang sedang berlangsung. Tuduhan ini muncul setelah serangkaian serangan militer AS yang diklaim sengaja menargetkan infrastruktur sipil. Agresi militer tersebut telah berlangsung sejak 28 Februari 2026, menimbulkan kerusakan signifikan.
Baqaei menyoroti insiden penargetan Menara Pengawasan Maritim Chabahar pada 16 Juni, sebuah fasilitas sipil vital untuk keselamatan pelayaran. Ia menyatakan bahwa Menteri Pertahanan AS bahkan dengan bangga merilis rekaman kehancuran menara tersebut. Iran menilai ini sebagai bagian dari pola serangan yang disengaja terhadap fasilitas non-militer.
Selain Chabahar, Baqaei juga menyebutkan serangan terhadap sebuah sekolah di Minab dan pembantaian warga sipil di Lamerd. Ia juga menargetkan fasilitas kelistrikan dan pompa desalinasi di dermaga Desa Bunji, Jask, pada Sabtu malam. Serangan terakhir ini menyebabkan lebih dari 10.000 orang kehilangan akses air minum. Iran mendesak dunia internasional untuk mempertanyakan standar ganda AS.
Advertisement
Advertisement
Penargetan Infrastruktur Sipil dan Bukti Tuduhan Iran
Dalam unggahan di akun X miliknya pada Sabtu (18/7), Juru Bicara Kemenlu Iran Esmaeil Baqaei secara eksplisit menuduh Amerika Serikat telah melakukan tindakan yang mirip dengan kelompok teroris. Tuduhan ini didasarkan pada serangkaian serangan militer AS yang secara sengaja membidik infrastruktur sipil di Iran. Baqaei menegaskan bahwa agresi militer AS telah berlangsung sejak 28 Februari 2026, dengan pola penargetan yang mengkhawatirkan.
Salah satu bukti utama yang disajikan Baqaei adalah serangan terhadap Menara Pengawasan Maritim Chabahar pada 16 Juni. Fasilitas ini merupakan infrastruktur sipil yang krusial untuk keselamatan pelayaran dan navigasi di wilayah tersebut. Baqaei bahkan mengungkapkan bahwa Menteri Pertahanan AS dengan bangga merilis rekaman runtuhnya menara, yang menurut Iran menunjukkan kesengajaan dalam penargetan.
Tidak hanya itu, Baqaei juga menyinggung insiden lain yang menunjukkan pola tindakan AS mirip teroris. Ia menyebutkan serangan rudal ke sebuah sekolah di Minab dan pembantaian warga sipil di Lamerd. Jika saja mampu, Baqaei menyindir, pejabat AS kemungkinan juga akan menayangkan rekaman serangan-serangan tersebut dengan kebanggaan yang sama.
Advertisement
Serangan terbaru yang dilaporkan terjadi pada Sabtu malam, menargetkan fasilitas kelistrikan dan pompa desalinasi di dermaga Desa Bunji, Jask. Akibat serangan ini, lebih dari 10.000 penduduk kehilangan akses terhadap air minum. Ini memperkuat argumen Iran bahwa AS secara sistematis menargetkan fasilitas vital sipil.
Advertisement
Keruntuhan Moral dan Hukum Internasional Akibat Tindakan AS
Baqaei menyatakan bahwa tindakan AS mirip teroris ini tidak hanya menyebabkan kehancuran fisik, tetapi juga meruntuhkan kedudukan moral Amerika Serikat di mata dunia. Ia mengkritik keras negara yang selama ini memposisikan diri sebagai juara global dalam ketertiban dan perang melawan terorisme. Bagi Baqaei, kebanggaan AS menampilkan gambar kehancuran infrastruktur sipil adalah satu-satunya "kemenangan" yang tersisa.
Menurut Baqaei, setiap kehancuran jembatan, menara, dan fasilitas sipil akibat serangan AS tidak hanya meruntuhkan baja dan beton. Lebih jauh, ia berpendapat bahwa tindakan ini secara fundamental meruntuhkan seluruh tatanan hukum internasional yang berlaku. Klaim peradaban Barat pun ikut dipertanyakan di hadapan masyarakat global.
Juru Bicara Kemenlu Iran ini menekankan bahwa pertanyaan yang harus diajukan kepada Amerika Serikat dan sekutunya kini menjadi sangat jelas dan sederhana. Pertanyaan tersebut adalah: "Apa perbedaan antara apa yang telah mereka lakukan di Chabahar, Minab, Lamerd, dan Jask dengan aksi-aksi terorisme yang selama ini mereka jadikan alasan untuk melancarkan perang dan pendudukan?"
Advertisement
Pernyataan ini menyoroti standar ganda yang dituduhkan Iran kepada AS, di mana tindakan yang sama-sama menargetkan warga sipil dan infrastruktur vital dianggap berbeda tergantung pelakunya. Iran mendesak komunitas internasional untuk merefleksikan implikasi serius dari tindakan AS ini terhadap prinsip-prinsip kemanusiaan dan hukum perang.
Sumber: AntaraNews