Masyarakat Sendangtirto Sambut Ramadhan dengan Tradisi Sadranan Agung Wotgaleh Penuh Syukur

Kalurahan Sendangtirto, Sleman, merayakan Sadranan Agung Wotgaleh, tradisi tahunan penuh makna menyambut Ramadhan 1447 H, sekaligus melestarikan budaya dan mempererat silaturahmi warga.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Masyarakat Sendangtirto Sambut Ramadhan dengan Tradisi Sadranan Agung Wotgaleh Penuh Syukur
Kalurahan Sendangtirto, Sleman, merayakan Sadranan Agung Wotgaleh, tradisi tahunan penuh makna menyambut Ramadhan 1447 H, sekaligus melestarikan budaya dan mempererat silaturahmi warga. (AntaraNews)

Masyarakat Kalurahan Sendangtirto, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menggelar tradisi Sadranan Agung Wotgaleh pada Minggu, 8 Februari 2026. Acara ini diselenggarakan dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah. Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa beserta jajaran turut hadir pada acara tradisi tahunan tersebut.

Tradisi Sadranan Agung Wotgaleh merupakan bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada para leluhur, khususnya Pangeran Purbaya. Pangeran Purbaya adalah putra dari Panembahan Senopati, raja pertama Mataram Islam, yang dimakamkan di Pemakaman Wotgaleh. Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap Bulan Ruwah dalam Kalender Jawa atau Bulan Sya’ban dalam Kalender Islam.

Rangkaian Sadranan Agung Wotgaleh diisi dengan Kirab Budaya yang dimulai dari Kantor Kapanewon Berbah menuju kompleks Masjid Wotgaleh. Selain itu, dilakukan juga doa bersama dan ziarah di makam Pangeran Purbaya, kemudian diakhiri dengan “rayahan” atau berebut gunungan hasil bumi. Tradisi ini menjadi simbol berkah dan rasa syukur bagi seluruh warga.

Lurah Sendangtirto, Amir Junawan, menjelaskan bahwa Sadranan Agung Wotgaleh adalah wujud syukur masyarakat menyambut bulan suci Ramadhan. Tradisi ini juga menjadi bentuk penghormatan dan doa bagi para leluhur, terutama Pangeran Purbaya. Pangeran Purbaya, putra Panembahan Senopati, raja pertama Mataram Islam, dimakamkan di Pemakaman Wotgaleh.

Pelaksanaan tradisi ini setiap Bulan Ruwah atau Sya’ban menunjukkan keterikatan kuat masyarakat dengan kalender Jawa dan Islam. Ini mencerminkan perpaduan budaya lokal dan nilai-nilai keagamaan yang telah diwariskan secara turun-temurun. Keberlanjutan tradisi ini penting untuk menjaga identitas budaya dan spiritual warga.

Sadranan Agung Wotgaleh bukan sekadar perayaan, melainkan ritual yang sarat makna spiritual dan sosial. Kegiatan ini memperkuat ikatan komunal serta mengingatkan akan pentingnya menghargai sejarah dan asal-usul. Warga berpartisipasi aktif dalam setiap rangkaian acara, menunjukkan semangat kebersamaan.

Kirab Budaya menjadi pembuka kemeriahan Sadranan Agung Wotgaleh, dengan arak-arakan yang meriah dari Kantor Kapanewon Berbah. Rombongan kirab bergerak menuju kompleks Masjid Wotgaleh, menampilkan kekayaan budaya lokal melalui berbagai atraksi. Partisipasi warga sangat antusias sepanjang rute kirab, menambah semarak suasana.

Setelah kirab, doa bersama dan ziarah dilakukan di makam Pangeran Purbaya yang berlokasi di kompleks Masjid Wotgaleh. Momen ini menjadi kesempatan bagi warga untuk memanjatkan doa bagi para leluhur dan merefleksikan nilai-nilai keagamaan. Suasana khidmat menyelimuti area pemakaman selama prosesi berlangsung.

Puncak acara ditandai dengan “rayahan” atau berebut gunungan hasil bumi oleh warga. Gunungan ini melambangkan berkah dan rasa syukur atas rezeki yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Tradisi ini memperlihatkan semangat kebersamaan, kegembiraan, dan gotong royong antarwarga dalam merayakan hasil bumi.

Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan Sadranan Agung Wotgaleh. Beliau mendukung penuh kegiatan rutin tahunan ini sebagai upaya pelestarian tradisi dan budaya yang dimiliki masyarakat. Kehadiran pemerintah daerah menunjukkan komitmen terhadap keberlangsungan tradisi lokal.

Menurut Danang Maharsa, kegiatan ini berfungsi sebagai sarana efektif untuk menjalin silaturahim serta kerukunan antarwarga Kalurahan Sendangtirto. Tradisi ini diharapkan tidak hanya menjadi seremonial belaka, melainkan sebuah ajang yang mampu mempererat tali persaudaraan. Ini adalah momentum penting untuk memperkuat ikatan sosial.

Harapannya, Sadranan Agung Wotgaleh dapat terus menjadi wadah bagi masyarakat untuk “guyub rukun” atau hidup rukun dan harmonis. Pelestarian budaya dan penguatan ikatan sosial menjadi tujuan utama dari kegiatan semacam ini. Pemerintah daerah berkomitmen untuk terus mendukung inisiatif positif yang menjaga warisan budaya.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi