Marco Trungelliti, petenis asal Argentina yang kini berusia 36 tahun, berhasil menorehkan sejarah baru dalam dunia tenis profesional. Ia dipastikan akan menjadi petenis tertua yang untuk pertama kalinya menembus peringkat 100 besar dunia dalam kurun waktu 50 tahun terakhir. Pencapaian luar biasa ini diraih setelah kemenangannya di perempat final Hassan Grand Prix II di Maroko pada Jumat (3/4).
Kemenangan krusial atas Corentin Moutet dengan skor 4-6, 6-3, 6-4 tidak hanya mengantarkannya ke babak semifinal, tetapi juga mendorong peringkatnya secara signifikan. Hasil ini merupakan bagian dari rangkaian 10 kemenangan beruntun yang mengesankan, memposisikannya di peringkat 85 dunia dalam perhitungan ranking live.
Pembaruan peringkat dunia resmi yang akan dirilis pada 6 April mendatang akan mengukuhkan posisi Trungelliti di jajaran 100 petenis terbaik dunia. Ini adalah momen yang sangat dinantikan, mengingat sepanjang kariernya ia belum pernah mencapai peringkat setinggi itu.
Advertisement
Advertisement
Bagi Marco Trungelliti, menembus peringkat 100 besar dunia adalah tujuan besar yang telah ia impikan sepanjang kariernya yang panjang. Petenis Argentina ini mengungkapkan bahwa dalam dua tahun terakhir, ia merasa semakin dekat dengan tujuan tersebut, baik dari segi level permainan maupun mental.
“Secara fisik, saya juga tampil jauh lebih baik dibandingkan sepanjang hidup saya, dan itu sangat membantu. Ini luar biasa,” kata Trungelliti, seperti dikutip dari laman resmi ATP Tour. Perjalanan kariernya telah membentang selama 19 musim, dengan total 963 pertandingan tunggal profesional yang telah ia lakoni.
Sebelum pencapaian ini, peringkat tertinggi yang pernah diraih Trungelliti adalah posisi ke-112 dunia pada tahun 2019. Ia juga memiliki sembilan penampilan di babak utama Grand Slam, berhasil meraih empat kemenangan, serta mengoleksi enam gelar ATP Challenger Tour, satu level di bawah tur utama.
Advertisement
Advertisement
Pekan ini di Maroko menjadi titik balik bagi Trungelliti. Ia memulai turnamen Hassan Grand Prix II sebagai petenis peringkat 117 dunia, setelah sebelumnya berhasil menjuarai turnamen ATP Challenger di Kigali, Rwanda. Untuk masuk ke babak utama di Maroko, ia harus melalui babak kualifikasi, sebuah tantangan yang berhasil ia taklukkan.
Kesempatan ini dimanfaatkannya dengan sangat baik, mengalahkan petenis peringkat 52 dunia Kamil Majchrzak, dan kemudian menumbangkan peringkat 32 dunia Corentin Moutet di perempat final. Kemenangan-kemenangan ini tidak hanya membawanya ke semifinal, tetapi juga mencatatkan peringkat terbaik sepanjang kariernya.
Meskipun sempat ada spekulasi bahwa ia sudah menembus top 100 setelah mengalahkan Majchrzak, peluang petenis di bawahnya untuk menyalip masih ada. Namun, setelah kemenangan atas Moutet, jumlah poin mereka tidak lagi cukup untuk menggusur Trungelliti dari jajaran 100 besar dunia.
Advertisement
Advertisement
Dengan kepastian masuknya ke peringkat dua digit dunia untuk pertama kalinya dalam 17 tahun, Marco Trungelliti akan menghadapi Luciano Darderi dari Italia di babak semifinal Hassan Grand Prix II. Pertandingan ini akan menjadi kesempatan baginya untuk melanjutkan momentum dan mungkin meraih gelar di level tur.
Pencapaian ini tidak hanya menjadi bukti ketekunan dan semangat juang Trungelliti, tetapi juga inspirasi bagi banyak atlet. Di usia 36 tahun, ia menunjukkan bahwa dengan dedikasi dan kerja keras, batasan usia dapat dilampaui untuk mencapai impian tertinggi dalam karier.
Sumber: AntaraNews
Advertisement