Mantan Menlu Hassan Wirajuda Sebut Petakan Kondisi Geopolitik Saat Ini Tidak Mudah

Kondisi geopolitik saat ini kepala negara dituntut mampu memetakan navigasi Indonesia di tengah situasi kian kompleks.

Nur Habibie
Oleh Nur Habibie - Reporter
Mantan Menlu Hassan Wirajuda Sebut Petakan Kondisi Geopolitik Saat Ini Tidak Mudah
Mantan Menlu Hassan Wirajuda Sebut Petakan Kondisi Geopolitik Saat Ini Tidak Mudah (Merdeka.com)

Mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda mengatakan, menjadi Presiden Prabowo Subianto hari ini tidak mudah.

Pasalnya, kondisi geopolitik saat ini kepala negara dituntut mampu memetakan navigasi Indonesia di tengah situasi kian kompleks, menyusul perang antara Iran, AS, dan Israel.

“Bapak Presiden menggambarkan bagaimana kita harus menavigasi hidup kita tidak hanya dua karang, tapi sekarang beberapa karang dan itu tidak mudah,” kata dia usai menghadiri pertemuan Presiden dengan para mantan presiden dan wakil presiden, tokoh diplomat, serta ketua umum partai politik di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/3) malam.

Menurut dia, pertemuan itu kepala negara ingin memberikan gambaran terbaru mengenai perkembangan dunia, terutama konflik terbaru di Timur Tengah.

“Presiden memberikan update briefing tentang berbagai perkembangan terbaru di yang terjadi di dunia, khususnya berkaitan dengan yang selama ini sudah menjadi perhatian banyak di antara kita yaitu mengenai yang paling mutakhir tentunya, perkembangan serangan AS dan Israel terhadap Iran,” ujarnya.

Prabowo dan para tokoh juga disebutnya membahas mengenai Board of Peace (BoP) yang ikut dibahas dalam konteks perkembangan mutakhir.

“Kita bahas, tapi juga dalam konteks perkembangan mutakhir apakah dengan perang yang berkecamuk di Iran ini akan melemahkan posisi dan mandat BoP kita akan berhitung lagi sisi itu,” sebutnya.

Menurut Hassan, Presiden membuka ruang dialog dan meminta masukan dari para tokoh yang hadir.

“Kita masing-masing mencoba memberikan kontribusi pemikiran dan usul-usul dari para peserta,” ucapnya.

Ia menegaskan, konflik di kawasan Teluk bukanlah yang pertama dalam beberapa dekade terakhir.

“Di teluk ini sudah ada tiga kali terjadi perang dalam waktu 30 tahun terakhir,” tegasnya.

Hassan kemudian merinci tiga perang tersebut, mulai dari perang era Presiden Bush senior saat Irak menyerbu Kuwait, perang 2003 oleh Bush junior terhadap Irak, hingga konflik terbaru.

“Tragis memang kawasan ini menjadi lahan perang dan perang-perang besar yang membawa dampak besar bagi dunia karena sumber minyak dan gas banyak berasal dari wilayah ini, itu juga kita harus berhitung dampaknya," ujarnya.

Rekomendasi