Kubu Paku Buwono (PB) XIV Hangabehi membantah tuduhan kubu PB XIV Purboyo terkait tindak penganiayaan yang dilakukan cucu PB XIII BRM Suryo Mulyo terhadap tim pengamanan berinisial RP (23) sebelum kedatangan Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, Minggu (18/1). Bantahan disampaikan Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA), KPH Eddy Wirabhumi.
"Yang saya lihat, Mas Suryo Mulyo itu malah menarik dia (tim keamanan PB XIV Purboyo), dibawa minggir biar tidak terjadi sesuatu. Saat kejadian kan dia di samping saya, saya lihat langsung," ujar Wurabhumi di sela acara wilujengan di Bangsal Morokoto, Keraton Kasunan Surakarta, Selasa (20/1).
Suami GKR Wandansari ini mengatakan, orang yang ditarik BRM Suryo Mulyo tersebut overaktif atau agresif, sehingga jika dibiarkan dikhawatirkan akan terjadi benturan.
"Makanya ditarik oleh mas Suryo untuk dipinggirkan, itu kelihatan di video," imbuhnya menjelaskan.
Advertisement
Tak Ada Pemukulan atau Penganiayaan
Saat kejadian, lanjut Wirabhumi, dirinya sempat meminta BRM Suryo Mulyo untuk melepaskan RB dari tim Keamanan PB XIV Purboyo. Namun setelah dilepaskan ia mengaku tidak mengetahui bagaimana kondisinya.
Wirabhumi menyampaikan jika dirinya telah mengklarifikasi kejadian tersebut kepada BRM Suryo Mulyo. Menurut keterangan Suryo Mulyo, tidak ada tidak pemukulan atau penganiayaan yang dilakukan. Mengenai kondisi pakaian korban yang robek-robek, ia mengaku tidak mengetahui kapan dan di mana hal itu terjadi.
"Mas Suryo tidak melakukan pemukulan. Kalau soal bajunya robek atau siapa yang mengeroyok, saya tidak tahu. Yang pasti Mas Suryo justru menyelamatkan itu agar tidak berbenturan dengan yang lain," ungkapnya.
Lebih lanjut Wirabhumi mengemukakan, saat kejadian, dirinya bersama BRM Suryo Mulyo sedang mencari posisi istrinya, GKR Wandansari atau Gusti Moeng.
Advertisement
Belum Menerima Surat Panggilan Polisi
Saat disinggung soal adanya pelaporan ke Polresta Surakarta, Wirabhumi mengaku belum menerima surat pemanggilan atau pertemuan.
"Belum, belum ada apa-apa, karena ini kan kita baru tahu juga dari media saja. Ya, seperti itu, bajunya robek-robek katanya. Itu dirobek di mana, kita juga enggak tahu. Yang ngeroyok sopir saya juga enggak tahu," tukasnya.
Wirabhumi menjelaskan, keberadaan dirinya, BRM Suryo Mulyo Gusti Moeng di lokasi tersebut saat kejadian, sedang menjalankan tugas resmi terkait rencana revitalisasi oleh pemerintah pusat. Pihaknya juga sudah melakukan rapat koordinasi bersama Pemkot Solo dan Forkopimda sebelumnya.
"Kami sedang menjalankan tugas. Harusnya hari Minggu itu semua kunci sudah dibuka. Kami datang bersama polisi dan TNI. SK kementerian pun sudah dipegang oleh Panembahan (Tedjowulan)," terangnya.
Namun yang terjadi saat itu, lanjut dia, mereka menghalangi pembukaan pintu tersebut. Padahal menghalangi pejabat negara, dalam hal ini Menteri Kebudayaan yang mau melakukan kunjungan, bisa dikenakan pasal.
"Harapan kami pihak-pihak yang memiliki aspirasi bisa menyampaikan secara baik-baik kepada pemerintah daripada melakukan aksi penguncian pintu. Harusnya pak menteri diterima, diantarkan, ditunjukkan kerusakannya sambil ngobrol kalau ada aspirasi. Jangan model dikunci-kunci. Kami sangat menyayangkan sikap seperti itu," pungkasnya.
Advertisement
Konflik Keluarga Keraton Surakarta
Perseteruan antar keluarga Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat semakin meruncing. Usai terjadinya kericuhan sebelum kedatangan Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Minggu (18/1), kini salah satu pihak melaporkan dugaan pengeroyokan ke pihak berwajib.
Laporan dugaan pengeroyokan dilakukan kubu PB XIV Purboyo. Tindak kekerasan diduga dilakukan oleh sejumlah oknum dari para pendukung PB XIV Hangabehi, sebelum penyerahan Surat Keputusan (SK) Menteri Kebudayaan terkait pengembangan Keraton kepada Maha Menteri Kanjeng Gusti Panembahan Agung (KGPA) Tedjowulan di Keraton Surakarta.
"Kita kemarin mendapatkan perlakuan tidak enak. Ada pengeroyokan dan kami kemarin juga sudah melakukan pelaporan LP ke Polresta Surakarta," ujar juru bicara PB XIV Purboyo, KPA Singonagoro saat konferensi pers di Talang Paten, kompleks Keraton Surakarta, Senin (19/1).
Advertisement
Kronologi Penganiayaan Versi Kubu Purboyo
Kuasa hukum kubu PB XIV Purboyo dari LBH Peduli Amal Surakarta, Ardi Sasongko, menyampaikan kronologi terjadi penganiayaan dan pengeroyokan sebelum acara yang dihadiri Fadli Zon. Peristiwa terjadi pada hari Minggu (18/1) sekitar pukul 10.20 WIB, di sekitar Bangsal Siaga Polisen, Ndalem Ageng.
"Saat itu dari tim keamanan kami, yang berjaga di sekitar Bangsal Siaga Polisen, Ndalem Ageng itu melakukan pengamanan. Karena pada saat itu ada 2 kubu. Saat itu tanpa adanya suatu komando, tiba-tiba ada pihak yang mengeluarkan kata-kata. Sehingga suasana menjadi ricuh, saling dorong. Dan salah satu dari penjaga kami karena mungkin kecil ya, itu langsung diambil," ungkapnya.
Setelah itu, lanjut dia, korban seorang abdi dalem berinisial RP ditendang di bagian sensitifnya dan mengalami serius. Diantaranya luka robek di bagian belakang kepala, memar di dada kiri dan tangan kiri. menjelaskan bahwa RP
"Semuanya sudah kami lakukan visum et repertum di RS DKT Surakarta sebagai syarat untuk pelaporan," katanya.
Lanjut dia, pihaknya telah melaporkan salah satu diduga pelaku dilengkapi dengan alat bukti dan keterangan sejumlah saksi. Ia menyebut terduga pelaku tersebut masih merupakan keluarga Keraton Kasunanan Surakarta. Dan masih merupakan salah satu cucu PB XIII berinisial S.