Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Muhammad Qodari, mengumumkan bahwa Pondok Pesantren Islam Terpadu Darul Mukhlisin di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, telah sepenuhnya bersih dari sisa tumpukan kayu akibat banjir bandang. Pernyataan ini disampaikan Qodari di Jakarta pada Sabtu (17/1), menyusul kunjungan kerjanya ke lokasi.
Pesantren Darul Mukhlisin menjadi salah satu lokasi prioritas yang mendapatkan perhatian khusus dari Presiden Prabowo Subianto untuk proses pemulihan pascabencana. Penanganan cepat dan optimal di pesantren ini merupakan bagian dari instruksi langsung Presiden.
Kunjungan Qodari ke Aceh Tamiang pada Kamis (15/1) merupakan bagian dari rangkaian kerja KSP. Tujuannya adalah memastikan bahwa upaya pemulihan pascabencana di wilayah tersebut berjalan sesuai arahan Presiden, sekaligus menyalurkan bantuan dan memantau rehabilitasi di berbagai sektor yang terdampak.
Advertisement
Advertisement
Muhammad Qodari menegaskan bahwa penanganan Pesantren Darul Mukhlisin mendapatkan perhatian istimewa dari pemerintah pusat. Hal ini didasari oleh instruksi khusus dari Bapak Presiden Prabowo, yang kemudian dilanjutkan oleh Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya, untuk menangani pesantren ini dengan sebaik-baiknya dan secepat-cepatnya.
Kunjungan kerja KSP ke Aceh Tamiang bertujuan untuk memverifikasi langsung progres pemulihan di lapangan. Qodari ingin memastikan bahwa setiap arahan dari Presiden terkait penanganan pascabencana di Aceh Tamiang dapat terlaksana dengan efektif. Pemerintah berkomitmen penuh untuk membantu masyarakat yang terdampak.
Fokus utama KSP adalah mengawal proses rehabilitasi dan rekonstruksi agar berjalan lancar dan tepat sasaran. Dukungan dari pemerintah pusat diharapkan dapat mempercepat kembalinya aktivitas normal di pesantren dan lingkungan sekitarnya. Ini menunjukkan respons cepat pemerintah terhadap dampak bencana alam.
Advertisement
Advertisement
Saat meninjau lokasi, Qodari bersama tim KSP melihat langsung kondisi asrama santri putri yang masih dipenuhi lumpur. Mereka juga memantau proses pembersihan puing-puing yang masih berlangsung di area tersebut.
Selain itu, Qodari juga meninjau kompleks asrama santri putra yang sebelumnya sempat menjadi sorotan publik. Area ini dikelilingi tumpukan kayu besar akibat banjir bandang yang melanda.
Pesantren seluas sekitar 2,5 hektare ini berada di kawasan yang lebih luas, sekitar lima hektare, yang sempat menjadi titik penumpukan material kayu dari aliran sungai. Pendiri Pesantren Darul Mukhlisin, Haji Zakwan, menjelaskan kepada Qodari bahwa posisi pesantren secara tidak langsung menahan laju kayu dan batang pohon besar. Hal ini mencegah material tersebut masuk ke permukiman warga di sekitarnya.
Advertisement
Pelaksana Tugas Pimpinan Ponpes Darul Mukhlisin, Mulkana, turut menceritakan bagaimana pengurus dan santri bertahan hidup selama beberapa hari dalam keterbatasan hingga banjir surut. Ia juga menggambarkan kondisi kayu-kayu besar yang sempat mengelilingi area masjid pesantren.
Advertisement
Qodari menyatakan bahwa pesantren mengalami kerusakan serius akibat terjangan air, lumpur, dan material kayu. Namun, ia juga mengapresiasi peran pesantren dalam menahan penyebaran kayu agar tidak berdampak lebih luas.
Ia mengapresiasi kerja sama berbagai pihak, seperti TNI, Polri, instansi kehutanan, hingga BUMN WIKA, yang telah membantu proses pembersihan. Berkat kolaborasi ini, area pesantren kini mulai pulih dan berangsur normal.
Haji Zakwan menyampaikan terima kasih atas upaya pembersihan kayu-kayu di lingkungan pesantren. Ia juga meluruskan informasi yang sempat beredar terkait pemanfaatan kayu, menegaskan bahwa belum ada kayu yang digunakan dan masih memerlukan izin resmi dari pemerintah pusat untuk pemanfaatannya.
Advertisement
Meskipun kegiatan belajar mengajar telah kembali berjalan, para santri belum dapat tinggal di asrama. Kondisi asrama putra dan putri masih memerlukan rehabilitasi bertahap sebelum dapat dihuni kembali, sehingga santri masih harus pulang-pergi.
Sumber: AntaraNews