KPAI prihatin angka kejahatan seksual pada anak di Jatim masih tinggi

Selasa, 27 Februari 2018 23:06 Reporter : Moch. Andriansyah
KPAI prihatin angka kejahatan seksual pada anak di Jatim masih tinggi Ilustrasi kekerasan. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - KPAI prihatin angka kejahatan seksual pada anak di Jatim masih tinggi

Kasus pencabulan terhadap 65 murid yang dilakukan guru SD di Surabaya sangat memilukan. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) turun tangan menindaklanjuti kasus yang tengah ditangani Mapolda Jawa Timur.

Selain itu, KPAI juga fokus pada penanganan korban yang selama ini menjadi korban kejahatan seksual. "Harus ada perlindungan anak dari berbagai aspek kekerasan," tegas Komisioner KPAI, Retno Listyarti di Mapolda Jawa Timur, Jalan A Yani, Surabaya, Selasa (27/2).

Jika tidak ada pengawasan dan perlindungan, kata Retno, kejadian-kejadian serupa akan terus terjadi. Di Mapolda Jawa Timur saja, sejak awal 2018 sudah menangani kasus serupa mencapai seratusan laporan.

Seperti di Surabaya, kasus 65 murid dicabuli guru, kemudian 5 anak dicabuli kakek-kakek, lalu di 27 murid SMP di Jombang juga dicabuli gurunya. Serta kejadian di Nganjuk yang terjadi di lingkungan pondok pesantren.

Ditambahkan Retno, menurut data KPAI di tahun 2016 sebanyak 716 anak-anak menjadi korban kejahatan seksual dengan jumlah pelaku sebanyak 179 orang. Kemudian di tahun 2017, tercatat ada penurunan jumlah korban, yakni 93 anak dengan 66 pelaku.

"Perlu dilakukan pengawasan," tegas Retno

Semua pihak, lanjutnya, baik itu keluarga, sekolah, pemerintah, hingga kepolisian bekerja sama menangani permasalahan ini. Selain itu, untuk anak-anak yang menjadi korban hendaknya mendapatkan rehabilitasi sampai tuntas agar tak mendatangkan masalah di kemudian hri.

"Karena anak pernah jadi korban, dia akan memiliki potensi menjadi pelaku. Besar potensinya. Apakah kembali menjadi korban, ataukah, bahkan nantinya bisa menjadi pelaku," jelas Retno. [lia]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini