Kodaeral VI Kerahkan Tim SAR Bantu Pencarian Korban Pesawat ATR 42-500 di Pangkep

Komando Daerah Angkatan Laut VI (Kodaeral VI) mengerahkan tim SAR untuk membantu pencarian korban pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Gunung Bulusaraung, Pangkep, Sulawesi Selatan, memperkuat sinergi lintas instansi dalam misi kemanusiaan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Kodaeral VI Kerahkan Tim SAR Bantu Pencarian Korban Pesawat ATR 42-500 di Pangkep
Komando Daerah Angkatan Laut VI (Kodaeral VI) mengerahkan tim SAR untuk membantu pencarian korban pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Gunung Bulusaraung, Pangkep, Sulawesi Selatan, memperkuat sinergi lintas instansi dalam misi kemanusiaan. (AntaraNews)

Komando Daerah Angkatan Laut VI (Kodaeral VI) telah mengerahkan regu pencari dan penyelamatan (SAR) untuk membantu proses pencarian korban. Pesawat Indonesia Air Transport (IAT) jenis ATR 42-500 mengalami kecelakaan di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Tim ini bergabung dengan operasi SAR gabungan yang sudah berlangsung di lokasi kejadian.

Pengerahan tim SAR Kodaeral VI ini dilakukan pada Minggu (18/1), menindaklanjuti perintah Komandan Kodaeral VI, Laksamana Muda TNI Andi Abdul Aziz. Perintah tersebut menginstruksikan jajaran personel untuk segera membentuk dan mengerahkan tim SAR. Tujuannya adalah membantu pencarian korban kecelakaan udara yang terjadi pada Sabtu (17/1) sekitar pukul 13.17 WITA.

Tim SAR Kodaeral VI, di bawah pimpinan Letda Marinir M. Ridha, bergerak menuju Pos Komando Taktis (Poskotis) SAR Gabungan. Poskotis ini berlokasi di Posko SAR Basarnas Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep. Kehadiran unsur TNI AL ini diharapkan dapat memperkuat sinergi lintas instansi dalam misi kemanusiaan.

Letda Marinir M. Ridha menyatakan bahwa pemberangkatan Tim SAR Kodaeral VI merupakan wujud komitmen kuat TNI AL. Mereka siap hadir di tengah masyarakat, tidak hanya sebagai garda terdepan pertahanan negara di laut. Namun juga sebagai kekuatan kemanusiaan yang sigap, tangguh, dan siap menghadapi medan berat.

Tim ini membawa serta sarana dan prasarana (serpras) yang diperlukan untuk mendukung operasi. Mereka akan melaksanakan operasi SAR dan sebagian personel akan bersiaga di Posko SAR. Kesiapan ini penting untuk mengantisipasi perkembangan terbaru di lokasi kecelakaan pesawat.

Keterlibatan Kodaeral VI ini menegaskan peran TNI AL dalam misi kemanusiaan. Mereka bertekad menyelamatkan sesama di tengah kondisi sulit. Medan di Gunung Bulusaraung dikenal memiliki tingkat kesulitan tinggi, memerlukan koordinasi yang erat dan persiapan matang. Tim SAR harus menghadapi kondisi geografis yang menantang demi keberhasilan operasi.

Pesawat ATR 42-500 tersebut memiliki rute penerbangan dari Yogyakarta menuju Bandara Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros. Kecelakaan terjadi di sekitar wilayah Gunung Bulusaraung, tepatnya di Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci. Lokasi ini berada di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, sebuah area dengan kontur geografis yang menantang.

Operasi SAR gabungan ini melibatkan berbagai unsur dan berada di bawah koordinasi Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar. Koordinator Basarnas memastikan semua tim bekerja secara sinergis. Total 11 orang berada di pesawat tersebut berdasarkan manifest penerbangan, yang menjadi fokus utama dalam proses pencarian korban pesawat ATR 42-500.

Tim SAR gabungan terus berupaya maksimal dalam menghadapi medan sulit dan kondisi cuaca yang mungkin berubah. Setiap perkembangan informasi dari lokasi kejadian menjadi panduan penting bagi seluruh personel. Koordinasi yang efektif antarlembaga sangat krusial untuk mempercepat upaya penyelamatan.

Manifest penumpang dan kru pesawat mencakup delapan kru dan tiga penumpang.

  • Kru Pesawat:
  • Captain Andy Dahananto
  • Yudha Mahardika
  • Captain Sukardi
  • Hariadi
  • Franky D Tanamal
  • Junaidi
  • Florencia Lolita
  • Esther Aprilita
  • Penumpang:
  • Deden
  • Ferry
  • Yoga

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi