Kisah Lengkap Marsma Fajar Cegat Pesawat Tempur F18 AS di Langit Bawean

Dalam operasi pencegatan, Fajar Adriyanto melaporkan bahwa Hornet F-18 berada dalam posisi menyerang dan rudalnya telah terkunci.

Randy Ferdi Firdaus
Oleh Randy Ferdi Firdaus - Reporter
Kisah Lengkap Marsma Fajar Cegat Pesawat Tempur F18 AS di Langit Bawean
Ini adalah kedatangan jet tempur buatan AS yang telah lama ditunggu-tunggu, lebih dari 29 bulan sejak invasi Rusia. (AP Photo/Efrem Lukatsky) (© 2025 Liputan6.com)

Pada 3 Juli 2003, lima pesawat tempur F-18 Hornet dari Amerika Serikat (AS) melintasi Laut Jawa, tepatnya di atas Pulau Bawean. Aktivitas pesawat AS ini dilaporkan oleh pilot Bouraq kepada petugas Air Traffic Control (ATC) di Surabaya dan Jakarta, yang mencatat bahwa pesawat tersebut terbang tanpa izin di atas jalur penerbangan sipil Indonesia.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi gangguan terhadap penerbangan komersial yang sedang berlangsung.

Dalam buku berjudul Lintas Navigasi Di Nusantara Indonesia yang ditulis oleh Kresno Buntoro, disebutkan bahwa ATC berusaha untuk berkomunikasi dengan lima pesawat tempur AS tersebut.

Sayangnya, semua upaya komunikasi yang dilakukan tidak membuahkan hasil, karena tidak ada sambungan yang terjalin.

Akibatnya, petugas ATC menganggap pesawat militer AS tersebut sebagai penerbangan gelap yang berpotensi mengganggu kedaulatan wilayah Indonesia.

Ditambah lagi, manuver yang dilakukan oleh lima pesawat tersebut terlihat aneh dan berbahaya, berlangsung selama lebih dari dua jam.

Menanggapi situasi ini, TNI AU segera mengambil langkah cepat dengan mengirimkan pesawat F-16 dari Skadron 3 untuk mencegat pesawat tempur yang tidak dikenal tersebut.

Salah satu pilot yang terlibat dalam misi ini adalah Fajar Adrianto, yang kemudian mengalami kecelakaan pesawat di Ciampea, Bogor, pada Minggu, 3 Agustus 2025.

Kejadian ini menunjukkan betapa seriusnya ancaman yang dihadapi oleh kedaulatan udara Indonesia dari aktivitas militer asing.

Kisah Cegatan F16 di Bawean yang Lambungkan Nama Marsma Fajar Adriyanto
Ini adalah kedatangan jet tempur buatan AS yang telah lama ditunggu-tunggu, lebih dari 29 bulan sejak invasi Rusia. (AP Photo/Efrem Lukatsky) © 2025 Liputan6.com

Dalam operasi pencegatan tersebut, Fajar Adriyanto melaporkan bahwa Hornet F-18 berada dalam posisi menyerang dengan rudal yang telah mengunci target.

Beruntung, komunikasi antara tim dan pihak terkait dapat dilakukan dengan baik. Saat berkomunikasi, Fajar Adriyanto dan tim menyampaikan bahwa mereka sedang melakukan patroli dan identifikasi di wilayah tersebut.

Namun, Hornet dari Amerika Serikat bersikeras bahwa mereka terbang di wilayah internasional dan meminta Fajar Adriyanto Cs untuk segera menjauh dari lokasi tersebut.

Setelah melakukan analisis, tim menemukan bahwa pesawat Amerika tersebut merupakan bagian dari rombongan gugus tugas yang berangkat dari Singapura menuju Australia, melintasi wilayah udara Indonesia.

Dalam pengamatan, terlihat banyak aktivitas udara yang terjadi di sekitar kapal induk USS Carl Vinson, termasuk lepas landasnya helikopter dan pesawat udara lainnya.

Selain itu, pesawat patroli maritim Indonesia, yaitu Boeing 737, selalu berada dalam pengawasan dua pesawat Hornet saat melakukan pengamatan terhadap gugus tugas tersebut.

Insiden ini memicu berbagai reaksi di kalangan masyarakat, di mana para pengamat internasional menganggap bahwa Amerika telah melanggar kedaulatan wilayah dan mengganggu penerbangan komersial.

Kisah Cegatan F16 di Bawean yang Lambungkan Nama Marsma Fajar Adriyanto
Ini adalah kedatangan jet tempur buatan AS yang telah lama ditunggu-tunggu, lebih dari 29 bulan sejak invasi Rusia. (AP Photo/Efrem Lukatsky) © 2025 Liputan6.com

Di sisi lain, Stanley Harsha, juru bicara Kedutaan Besar Amerika di Indonesia, percaya bahwa pihaknya tidak melakukan pelanggaran apapun.

Mereka merasa telah memberikan informasi sebelumnya, meskipun TNI mengklaim bahwa informasi itu belum diterima. Sebagai langkah resmi, pemerintah Indonesia memanggil Duta Besar Amerika untuk Indonesia, Ralph L. Boyce.

Hasil pertemuan tersebut adalah Amerika berkomitmen untuk tidak melakukan tindakan serupa tanpa izin resmi dari pihak Indonesia.

Kisah heroik ini menggambarkan perjalanan mendiang Marsma TNI Fajar Adrianto, sosok yang dikenang karena keceriaannya dan meninggalkan warisan berharga bagi TNI AU serta bagi sejarah Indonesia, negara yang sangat dicintainya.

Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsma I Nyoman Suadnyana, menjelaskan tentang Fajar, menekankan dedikasinya yang tinggi dan perannya yang signifikan dalam sejarah TNI AU.

“(Marsma TNI Fajar Adrianto) pernah terlibat dalam peristiwa udara dengan pesawat F/A-18 Hornet Angkatan Laut Amerika Serikat di langit Bawean tahun 2003,” ungkap I Nyoman Suadnyana dalam sebuah keterangan tertulis.

Fajar adalah lulusan Akademi Angkatan Udara tahun 1992 dan merupakan penerbang tempur F-16 dengan panggilan 'Red Wolf'.

Dalam perjalanan karirnya, ia telah mengemban berbagai posisi strategis, termasuk sebagai Komandan Skadron Udara 3, Danlanud Manuhua, Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara, Kapuspotdirga, Aspotdirga Kaskoopsudnas, dan yang terakhir sebagai Kapoksahli Kodiklatau.

Jejak karirnya yang cemerlang mencerminkan dedikasi dan komitmennya terhadap TNI AU dan bangsa Indonesia.

Kisah Cegatan F16 di Bawean yang Lambungkan Nama Marsma Fajar Adriyanto
Ini adalah kedatangan jet tempur buatan AS yang telah lama ditunggu-tunggu, lebih dari 29 bulan sejak invasi Rusia. (AP Photo/Efrem Lukatsky) © 2025 Liputan6.com

Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsma I Nyoman Suadnyana, memberikan penjelasan mengenai kronologi insiden jatuhnya pesawat latih di Bogor yang mengakibatkan tewasnya Fajar.

Ia mengungkapkan bahwa pesawat tersebut lepas landas dari Lanud Atang Sendjaja pada pukul 09.08 WIB, dengan tujuan untuk menjalani misi latihan profisiensi penerbangan olahraga dirgantara sebagai bagian dari pembinaan dan pemeliharaan kemampuan.

"Sekitar pukul 09.19 WIB, pesawat mengalami hilang kontak," jelas Nyoman.

Hal ini menunjukkan bahwa pesawat tersebut hilang kontak hanya 11 menit setelah lepas landas dari Lanud Atang Sendjaja.

Nyoman melanjutkan, tak lama setelah hilang kontak, pesawat tersebut ditemukan jatuh di sekitar TPU Astana.

"Kedua awak langsung dievakuasi ke RSAU dr. M. Hassan Toto, namun Marsma TNI Fajar dinyatakan meninggal setibanya di rumah sakit," tuturnya.

Ia juga menjelaskan bahwa penerbangan ini dilakukan dengan Marsma TNI Fajar sebagai pilot dan Roni sebagai co-pilot. Kegiatan ini merupakan bagian dari latihan rutin pembinaan kemampuan personel FASI, yang merupakan induk olahraga dirgantara nasional di bawah binaan TNI AU.

"Penerbangan telah dilengkapi Surat Izin Terbang (SIT) nomor SIT/1484/VIII/2025 yang diterbitkan oleh Lanud Atang Sendjaja. Pesawat dinyatakan laik terbang dan merupakan sortie kedua pada hari itu," tambah Nyoman.

Rekomendasi