Marsekal Madya (Marsma) TNI Samsul Rizal, seorang jenderal penerbang yang terbiasa menembus langit dalam kokpit pesawat tempur kini sibuk di tengah kepulan asap dapur.
Bukan tanpa alasan hal itu dilakukan Samsul Rizal, sebab dia saat ini mendapat tugas mengawal puluhan ribu tenaga gizi dan pangan demi anak-anak Indonesia sekaligus program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini tengah dikebut pemerintah.
Berbekal disiplin dan ketelitian ala militer, Samsul Rizal mengawal proyek besar pengaderan 30 ribu tenaga Sanitarian, Pangan, Pertanian, dan Gizi Indonesia (SPPI) yang disiapkan untuk memenuhi target pelayanan gizi nasional.
"Dari langit ke dapur, tapi prinsipnya sama, pengabdian untuk bangsa," kata Samsul Rizal yang pernah menjadi instruktur di sekolah tempur elite Fighter Weapons Instructor ini dalam keterangannya, Rabu (9/7).
Di antara deru jet tempur dan strategi militer, nama Samsul Rizal kini berkumandang dengan nada yang berbeda. Bukan lagi sekadar kisah heroik seorang pilot F-5 Tiger yang gagah berani di angkasa, melainkan potret seorang 'Jenderal Dapur' yang dengan penuh dedikasi mengawal Program MBG Presiden Prabowo Subianto demi mewujudkan Indonesia Makmur.
Julukan 'Jenderal Dapur' yang begitu melekat itu karena ia tidak hanya menggagas, tapi juga mengawal langsung hingga memastikan setiap hidangan bergizi sampai ke tangan anak-anak di sekolah, santri di pesantren, hingga warga di pelosok.
"Kalau dulu saya membela negara dari udara, sekarang saya membela dari dapur. Esensinya tetap sama, untuk Indonesia yang lebih kuat dan sejahtera,” ujar Samsul.
Advertisement
Dalam menjalankan tugasnya sebagai mission commander di langit, Samsul terbiasa mengambil keputusan dalam hitungan detik. Ia menyusun skenario tempur yang kompleks, memimpin misi udara dengan hingga 40 pesawat terlibat.
Kini, ketelitian dan kecepatan itu ia bawa ke medan baru-menyusun strategi nasional peningkatan gizi, pengentasan stunting, dan pemberdayaan SDM lokal.
Program SPPI yang ia jalankan melibatkan 30 ribu sarjana dari berbagai bidang yang akan dilatih dan disiapkan menjadi aktor kunci dalam pelaksanaan MBG.
“Dari dapur inilah kita bangun ketahanan bangsa, mulai dari perut rakyat,” ucap dia.
Advertisement
Samsul menegaskan, pentingnya bagi setiap pihak yang telah diberi amanah oleh negara untuk menjalankan tugasnya dengan penuh integritas, totalitas dan tanggungjawab moral demi menyukseskan ide besar Presiden Prabowo dalam program MBG.
Ia juga mengajak seluruh pelaksana program agar bekerja dengan sikap mental yang tegak lurus—tidak menyimpang dari nilai-nilai moral, tidak menyalahgunakan kewenangan, dan tetap fokus pada tujuan utama yaitu memastikan anak-anak Indonesia mendapat akses gizi yang layak demi masa depan bangsa.
Namun, jenderal bintang dua ini mengungkapkan, di lapangan masih ditemukan dinamika yang tidak sejalan dengan semangat tersebut.
"Kami temukan ada oknum yang seharusnya melayani calon pengelola dapur mandiri dengan baik, malah justru mempersulit. Bahkan, mereka terindikasi menyusun skenario untuk keuntungan pribadi," paparnya.
"Ini jelas mencederai semangat program dan bertentangan langsung dengan arahan Presiden Prabowo, yang menekankan bahwa MBG harus dijalankan secara bersih, amanah, dan profesional," sambung dia.
Ia menegaskan, keberhasilan program ini sangat bergantung pada komitmen moral dan profesionalisme para pelaksana.
"Program ini bukan sekadar proyek, tapi amanah besar yang menyangkut masa depan generasi penerus. Maka, tidak boleh ada ruang untuk perilaku menyimpang. Kita semua harus berdiri tegak lurus, bekerja sepenuh hati, dan menempatkan kepentingan rakyat di atas segalanya," tegasnya.
Advertisement
Bagi Samsul, strategi adalah napas perjuangan. Ia memahami, ketahanan bangsa tak hanya diukur dari kekuatan alutsista, tetapi juga dari stabilitas pangan dan kesejahteraan rakyat.
"Maka, dari langit yang penuh ancaman, kini ia turun ke bumi yang penuh harapan. Sentuhannya saja yang berbeda, tapi tujuan kita tetap sama: Indonesia Makmur,” ucapnya.
Dengan penghayatan spiritual, ketegasan militer, dan sentuhan kemanusiaan, Samsul Rizal menunjukkan bahwa pengabdian tidak mengenal batas profesi. Dari ruang kendali pesawat tempur hingga dapur rakyat, ia setia menjaga cita-cita bangsa.
Prajurit peraih Adhi Makayasa ini diketahui memiliki segudang pengalaman strategis di kancah militer, dari Komandan Flight A Skadron Udara 15, Komandan Skadron Buru Sergap (Skadud 14), hingga Pangkoopsud III yang mengawal wilayah udara Indonesia timur.
Ia juga pernah menjabat Komandan Seskoau, Aspers Panglima TNI, dan Dansesko TNI — posisi-posisi puncak yang menuntut kepemimpinan sekaligus pemikiran strategis tingkat tinggi.
Kini, ia bekerja dalam pengabdian yang lebih membumi mengawal program MBG di Universitas Pertahanan sebagai Wakil Ketua Penyelenggara SPPI. Ia tak hanya memimpin dari balik meja, tetapi terjun melayani langsung ke masyarakat-berkolaborasi dengan pesantren, sekolah, akademisi, dan pelaku usaha daerah untuk memastikan sinergi program berjalan efektif.