Khofifah Ajak Rektor Baru Unusa Perkuat 'Kampus Berdampak' untuk Indonesia Emas 2045: Apa Itu?

Gubernur Khofifah Indar Parawansa mendorong Rektor baru Unusa, Prof. Triyogi Yuwono, untuk menjadikan perguruan tinggi sebagai 'Kampus Berdampak' yang aktif menjawab tantangan sosial dan menyongsong Indonesia Emas 2045.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Khofifah Ajak Rektor Baru Unusa Perkuat 'Kampus Berdampak' untuk Indonesia Emas 2045: Apa Itu?
Gubernur Khofifah Indar Parawansa mendorong Rektor baru Unusa, Prof. Triyogi Yuwono, untuk menjadikan perguruan tinggi sebagai 'Kampus Berdampak' yang aktif menjawab tantangan sosial dan menyongsong Indonesia Emas 2045. (AntaraNews)

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, secara resmi mengajak Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) yang baru, Prof. Dr. Ir. Triyogi Yuwono, DEA, untuk memperkuat peran perguruan tinggi. Ajakan ini bertujuan agar Unusa menjadi 'Kampus Berdampak' yang signifikan dalam menyongsong visi besar Indonesia Emas 2045 di masa mendatang. Pelantikan Prof. Triyogi Yuwono sebagai Rektor Unusa untuk periode 2025–2030 berlangsung di kampus setempat, Surabaya, pada hari Sabtu.

Dalam sambutannya, Gubernur Khofifah menyampaikan ucapan selamat kepada Prof. Triyogi Yuwono atas amanah barunya. Beliau dinilai sebagai sosok yang membawa semangat baru, visi segar, serta tekad kuat untuk melanjutkan perjuangan besar membangun Unusa. Khofifah berharap Unusa dapat menjadi menara ilmu yang semakin tinggi dan bermanfaat bagi masyarakat luas, bangsa, negara, bahkan dunia internasional.

Prof. Triyogi Yuwono sendiri menggantikan kepemimpinan Prof. Dr. Ir. Achmad Jazidie, M.Eng, yang telah sukses memimpin Unusa selama dua periode berturut-turut, yaitu dari tahun 2015 hingga 2025. Dengan kepemimpinan baru ini, Gubernur Khofifah menaruh harapan besar agar Unusa mampu melangkah maju menuju era digital yang inovatif dan berdaya saing global, tanpa meninggalkan jati diri Islam yang menjadi pondasi universitas tersebut.

Konsep 'Kampus Berdampak' yang digaungkan Gubernur Khofifah memiliki makna yang mendalam dan relevan dengan kondisi sosial saat ini. Perguruan tinggi tidak hanya dituntut hadir melalui teori-teori akademis semata, tetapi juga melalui karya nyata yang mampu menyentuh langsung kehidupan masyarakat di berbagai lapisan. Ini menandakan pergeseran paradigma dari sekadar lembaga pendidikan menjadi agen perubahan sosial.

Khofifah menjelaskan bahwa 'Kampus Berdampak' merupakan ajakan agar perguruan tinggi tidak berhenti sebagai menara gading ilmu pengetahuan yang terisolasi. Sebaliknya, kampus harus bertransformasi menjadi mercusuar peradaban yang aktif. Peran ini mencakup kemampuan untuk menjawab berbagai tantangan sosial, seperti kemiskinan, kesenjangan ekonomi, masalah kesehatan, hingga isu lingkungan dan energi yang semakin kompleks.

Melalui peran ini, kampus diharapkan dapat menjadi solusi konkret bagi permasalahan bangsa. Perguruan tinggi memiliki potensi besar untuk menjadi garda terdepan dalam menciptakan inovasi dan solusi yang relevan. Ini adalah esensi dari 'Kampus Berdampak' yang diharapkan dapat diwujudkan oleh Unusa dan perguruan tinggi lainnya.

Perguruan tinggi memiliki peran krusial dalam menghadirkan riset yang melahirkan teknologi tepat guna. Teknologi ini sangat penting untuk pemberdayaan desa, meningkatkan kualitas hidup masyarakat pedesaan. Selain itu, kampus juga dapat mengembangkan solusi kesehatan digital yang mampu menjangkau pelosok negeri, memastikan akses layanan kesehatan yang lebih merata.

Inovasi energi terbarukan juga menjadi salah satu fokus penting yang dapat dikembangkan oleh perguruan tinggi. Gagasan kebijakan berbasis data yang dihasilkan dari riset kampus akan menjadi 'insight' berharga bagi pemerintah. Hal ini memungkinkan pemerintah untuk mengambil keputusan yang lebih tepat dan berbasis bukti dalam merumuskan kebijakan publik yang efektif.

Melalui pengabdian yang terukur, kampus dapat memperkuat pendidikan dasar di berbagai daerah. Selain itu, pembinaan usaha mikro kecil menengah (UMKM) serta penumbuhan wirausaha baru dari lulusan yang berjiwa kreatif dan mandiri juga menjadi bagian integral dari 'Kampus Berdampak'. Inilah makna sejati dari 'Kampus Berdampak', bukan hanya berkompetisi dalam peringkat internasional, tetapi berkontribusi nyata dalam menjawab kebutuhan rakyat dan meneguhkan arah peradaban Indonesia menuju masa depan.

Gubernur Khofifah menambahkan bahwa perguruan tinggi juga harus tampil sebagai 'intellectual capital' bangsa. Peran ini mencakup menanamkan daya juang yang tinggi, membangun watak pembelajar yang adaptif, serta menumbuhkan sikap inovatif di kalangan mahasiswa dan civitas akademika. Upaya ini sangat penting untuk memperkuat daya saing sumber daya manusia (SDM) Indonesia di kancah global.

Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai laboratorium peradaban. Di dalamnya, riset, inovasi, dan kepedulian sosial berpadu secara harmonis untuk menjawab tantangan global yang terus berkembang. Ini menunjukkan bahwa kampus bukan hanya tempat belajar, tetapi juga pusat pengembangan solusi dan kepedulian sosial yang relevan.

Pada kesempatan yang sama, Khofifah juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Prof. Dr. Ir. Achmad Jazidie, M.Eng, atas pengabdian dan kepemimpinannya selama satu dekade di Unusa. "Terima kasih Prof Jazidie, saya yakin nilai-nilai, budaya kerja, dan semangat transformasi yang telah ditanamkan akan terus hidup dan menjadi fondasi kokoh bagi perjalanan Unusa ke depan," ujarnya, mengakui kontribusi besar rektor sebelumnya.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi