Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kerusakan hutan Leuser makin mengkhawatirkan

Kerusakan hutan Leuser makin mengkhawatirkan Kerusakan hutan Leuser. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Laju kerusakan hutan lindung di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) Aceh semakin mengkhawatirkan. Kerusakan hutan akibat perambahan manusia meluas hingga medio 2018.

Padahal KEL Aceh merupakan kawasan hutan tropis yang sangat berperan menyimpan cadangan air dan juga pengendalian iklim mikro. Perlindungan hutan tersebut berguna untuk keberlangsungan hidup manusia dan melindungi spesies-spesies yang harus memiliki skala prioritas untuk dikonservasi.

Seperti badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), harimau (Panthera tigris sumatrae), gajah (Elephas maximus sumatraensis) dan orangutan (Pongo abelii). Bila laju kerusakan terus meningkat, hewan yang dilindungi ini juga semakin terancam, baik akibat pemburuan maupun kehilangan habitat sehingga terjadilah konflik satwa dengan manusia.

KEL Aceh masuk dalam 13 kabupaten/kota di Aceh dengan total luas 2,25 juta hektar dan sisanya saat ini sebesar 1,8 juta hektar. Yang berada di Kabupaten Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Subussalam, Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Utara, Aceh Timur dan Aceh Tamiang.

Berdasarkan pemantauan yang dilakukan Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) menggunakan teknologi penginderan jarak jauh dari citra satelit. Untuk periode Januari-Juni 2018 ditemukan kerusakan hutan di KEL Aceh sebesar 3.290 hektar.

Tahun sebelumnya pada periode yang sama, laju kerusakan hutan di KEL Aceh mencapai 3.780 hektar, sedikit menurun dibandingkan periode yang sama tahun ini.

Ada tiga besar kabupaten tingkat kerusakan hutan paling besar adalah Nagan Raya 627 hektar, disusul Aceh Timur 559 hektar dan Gayo Lues 507 hektar. Sebagian besar kerusakan hutan di Nagan Raya berada di kawasan gambut Rawa Tripa.

Gambut Rawa Tripa dikenal sebagai kawasan populasi Orangutan Sumatera. Saat ini tutupan hutan di kawasan itu semakin menipis akibat maraknya pembalakan liar yang berimbas terancamnya populasi orangutan.

"Memang angka ini relatif menurun dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu, tetapi cukup mengkhawatirkan," kata Manager Gegraphic Information System (GIS) HAkA, Agung Dwinurcahya, Senin (23/7) di Banda Aceh.

Menurut Agung, kerusakan hutan di KEL Aceh dimulai dengan adanya pembukaan jalan baru yang masuk dalam hutan lindung. Berdasarkan pantauan dari NASA dan satelit VIIRS dan MODIS, laju kerusakan hutan seiring adanya akses jalan dalam hutan lindung.

"Contonya pembukaan jalan dari Pining ke Lesten, ini pantauan dari satelit, setiap bulan ada terjadi perambahan hutan setelah ada akses jalan," kata Agung.

Sekretaris HAkA, Badrul Irfan menambahkan, pihaknya bukan anti terhadap pembukaan jalan. Akan tetapi setiap ada pembangunan jalan baru harus dipertimbangkan untung dan ruginya.

"Jalan ke Lesten misalnya tempat dibangun PLTU Tampur I, buat apa jalan, sedangkan penduduk di Lesten nanti akan direlokasi," tambahnya.

Badrul berharap, paparan temuan HAkA bisa mendorong pemerinah Aceh dan kabupaten/kota bisa menjaga lingkungan. Karena KEL adalah sumber air bagi rakyat dan berjasa untuk mitigasi bencana. Laju kerusakan hutan di KEL harus terus ditekan demi generasi masa depan.

(mdk/noe)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP