Kepala BNPT: Nasionalisme dan NKRI Harus Kita Pertahankan

Jumat, 6 September 2019 21:22 Reporter : Didi Syafirdi
Kepala BNPT: Nasionalisme dan NKRI Harus Kita Pertahankan kepala bnpt di gorontalo. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Suhardi Alius mengingatkan pentingnya merawat NKRI dari berbagai gangguan kelompok teror. Dia juga memaparkan bagaimana mengidentifikasi masuknya paham-paham radikal.

"Saya memberikan harapan besar kepada mereka (mahasiswa). Mereka generasi muda, generasi penerus yang harus kita selamatkan dari paham-paham tidak benar. Saya jelaskan bagaimana merawat NKRI," kata Suhardi.

Hal ini disampaikan Suhardi saat memberi kuliah umum 'pencegahan dan penanggulangan intoleransi, radikalisme, dan terorisme' di depan 4.000 mahasiswa baru (Maba) Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Jumat (6/9).

Lima mahasiswa baru asal Papua juga mengikuti acara ini. Mereka menyanyikan Lagu 'Indonesia Raya' dan petikan lagu 'Kita Semua Bersaudara Indonesia Manise'. Suhardi mengaku bangga dengan keberadaan lima mahasiswa ini.

"Mereka adalah saudara-saudara se-bangsa harus berintegrasi dengan baik, bukan malah dicabik-cabik," tegasnya.

Mantan Sestama Lemhanas ini berharap, setelah mendapat paparan ini, para mahasiswa menjadi tidak takut bila melihat adanya gejala penyebaran paham-paham tidak baik itu di lingkungan kampus. Mereka harus berani melaporkan itu ke dosen atau rektor, kalau perlu ke Polda.

"Nanti kalau belum bisa, kami (BNPT) siap turun membantu mereduksi dan membersihkan paham negatif tersebut," tuturnya.

Mantan Kabareskrim Polri ini mengajak para mahasiswa untuk belajar dari peristiwa yang terjadi di Papua beberapa waktu lalu. Menurutnya, apa yang terjadi di Papua kemarin akibat lemahnya kemampuan literasi, verifikasi, dan filterisasi masyarakat sehingga begitu mendapat berita dari media sosial langsung disebar. Padahal isi berita itu adalah berita bohong (hoaks) yang merusak disintegrasi bangsa.

"Makanya kaum terdidik ini tabayyun-lah, bertanyalah. Kita bersaudara kok, tadi saya katakan tidak ada Indonesia tanpa Papua, tidak Indonesia tanpa Aceh, semua 34 provinsi jadi satu. Dicubit satu kita merasa sakit semua. Ini kita tanamkan bagaimana nasionalisme dan NKRI itu harus kita pertahankan dengan baik," ujarnya.

Lima mahasiswa baru UNG asal Papua, yakni Suzeth Hatting Fakdawer dari Fakfak (Fakultas Ilmu Pendidikan Bimbingan dan Konseling), Emilia Jaharudin Tanggahma dari Fakfak (Fakultas Bahasa Jurusan Sastra Inggris), Arincu Suhun dari Kabupaten Sarmi (Fakultas Kesehatan Masyarakat), Oktovina Womsiwor dari Fakfak (Fakultas Ekonomi), dan Florentinus B. Kapi dari Asmat (Fakultas MIPA jurusan biologi).

Suzeth mengaku bangga sebagai bangsa Indonesia. Menurutnya, materi wawasan kebangsaan yang diberikan Kepala BNPT sangat membangun motivasi anak-anak Papua, terutama dia dan rekan-rekannya yang menuntut ilmu di UNG.

"Kami hidup di Papua dengan posisi seperti itu. Setelah mendengar paparan tadi, kami mahasiswa Papua di Gorontalo merasa tenang. Kami bisa belajar dengan baik. Kami berharap nanti setelah lulus, kami bisa pulang membangun Papua dan Indonesia," ujar Suzeth yang memimpin menyanyikan lagu 'Kita Semua Bersaudara Indonesia Manise'.

Hal senada diungkapkan Florentinus. Sebagai anak asli Suku Asmat, ia merasakan ketenangan dan kenyamanan setelah mendapat paparan wawasan kebangsaan. "Kami merasa tenang dan nyaman melanjutkan studi sampai nanti selesai," kata Florentinus yang menjadi dirijen saat menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Plh Rektor UNG, Mahludin H. Baruadi menilai apa yang disampaikan Kepala BNPT sangat substantif, filosofis, dan bagaimana bukti nyata ancaman radikalisme, terorisme, dan anti NKRI.

"Mudah-mudahan para mahasiswa memiliki referensi yang betul-betul nyata, agar mereka terhindar dari paham radikalisme, terorisme, dan anti NKRI," tandasnya. [did]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini