Kemitraan Strategis Indonesia-Pakistan Menguat di Era Prabowo-Sharif
Hubungan persahabatan Indonesia dan Pakistan kini bertransformasi menjadi kemitraan strategis yang komprehensif di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan PM Shehbaz Sharif, mencakup berbagai sektor penting.
Duta Besar Pakistan untuk Indonesia, Zahid Hafeez Chaudhri, menyatakan bahwa hubungan persahabatan antara Indonesia dan Pakistan telah mengalami transformasi signifikan. Kini, hubungan kedua negara telah menjadi kemitraan strategis yang kuat di bawah pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif.
Transformasi ini menandai babak baru kolaborasi erat yang mencakup berbagai bidang kerja sama. Mulai dari sektor pertahanan, ekonomi dan perdagangan, investasi, pendidikan, kesehatan, pariwisari, hingga hubungan antarmasyarakat, pertanian, dan ketahanan pangan, semuanya menjadi fokus utama.
Pakistan dan Indonesia, yang memiliki sejarah panjang hubungan diplomatik sejak April 1950, kini fokus pada peningkatan kerja sama yang lebih mendalam. Perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif bahkan diharapkan akan diselesaikan pada tahun depan.
Mempererat Kolaborasi Ekonomi dan Perdagangan
Indonesia dan Pakistan berkomitmen memasuki era baru kemitraan ekonomi yang lebih komprehensif. Perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif ini diharapkan dapat rampung pada tahun depan, membuka peluang baru bagi kedua negara.
Diskusi intensif sedang berlangsung dengan Indonesian Sovereign Wealth Fund (Danantara) untuk menjajaki potensi kerja sama. Pembicaraan ini mencakup berbagai bidang, termasuk kemungkinan pembuatan vaksin di Pakistan melalui kolaborasi investasi.
Kedua negara juga berupaya menyelaraskan standar sertifikasi halal untuk memfasilitasi perdagangan. Tujuannya adalah menciptakan keterkaitan rantai pasokan makanan halal yang kuat antara Indonesia dan Pakistan, memperluas jangkauan pasar produk halal.
Selain itu, Dubes Chaudhri menyoroti upaya pengembangan usaha patungan dalam hal makanan halal. Baik Pakistan maupun Indonesia berambisi untuk tidak hanya menjadi mitra, tetapi juga menjadi tren yang mapan dalam sektor halal global.
Penguatan Kerja Sama Pertahanan dan Pendidikan
Sektor pertahanan menjadi salah satu pilar utama dalam kemitraan strategis antara Indonesia dan Pakistan. Pembicaraan mengenai pasokan sistem senjata canggih dari Pakistan ke Indonesia sedang berlangsung, menunjukkan tingkat kepercayaan yang tinggi.
Selain pasokan senjata, pelatihan lanjutan bagi perwira angkatan bersenjata Indonesia juga menjadi fokus penting. Dubes Chaudhri menyebutkan bahwa sekelompok tentara Indonesia baru saja kembali dari Pakistan setelah mendapatkan pelatihan khusus di sana.
Bidang pendidikan juga menunjukkan peningkatan kolaborasi yang signifikan antara kedua negara. Akan ada lebih banyak mahasiswa Pakistan yang datang ke Indonesia dan sebaliknya, mendorong pertukaran budaya dan pengetahuan.
Pertukaran mahasiswa ini akan difokuskan pada bidang-bidang strategis seperti pendidikan kedokteran, teknik, komputasi, dan komputasi tingkat lanjut. Hal ini diharapkan dapat memperkaya sumber daya manusia dan kapasitas inovasi kedua negara.
Peran Indonesia dan Pakistan dalam D8
Indonesia akan memimpin keketuaan D8 pada periode 2026-2027, mengusung tema “Menavigasi Pergeseran Global: Memperkuat Kesetaraan, Solidaritas, dan Kerja Sama untuk Kemakmuran Bersama”. Ini menunjukkan komitmen Indonesia terhadap kerja sama multilateral.
Pakistan, sebagai salah satu negara anggota D8, akan berperan aktif dalam kepemimpinan Indonesia ini. D8 adalah organisasi kerja sama ekonomi negara berkembang yang terdiri atas delapan negara anggota.
Anggota D8 meliputi Indonesia, Bangladesh, Mesir, Iran, Malaysia, Nigeria, Pakistan, dan Turki. Azerbaijan menjadi negara anggota terbaru yang bergabung dengan D-8 pada Desember 2024, memperluas jangkauan organisasi ini.
Keterlibatan kedua negara dalam D8 menunjukkan komitmen mereka terhadap penguatan ekonomi dan solidaritas di antara negara-negara berkembang. Ini bertujuan untuk mencapai kemakmuran bersama di tengah dinamika global yang terus berubah.
Indonesia dan Pakistan telah menjalin hubungan diplomatik sejak April 1950 dan akan memperingati 75 tahun hubungan diplomatik pada tahun 2025. Kedua negara merupakan negara penggagas Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung pada tahun 1955, bersama dengan India, Sri Lanka, dan Myanmar, menandai peran historis mereka dalam diplomasi global.
Sumber: AntaraNews