Kasus korupsi e-KTP, dua mantan pejabat Kemendagri dieksekusi ke Lapas Sukamiskin

Kasus korupsi e-KTP, dua mantan pejabat Kemendagri dieksekusi ke Lapas Sukamiskin. MA sebelumnya memperberat hukuman terdakwa kasus e-KTP, Irman dan Sugiharto menjadi 15 tahun penjara, denda Rp 500 juta subsider 8 bulan kurungan. Vonis Irman dan Sugiharto diperberat dari semula 7 tahun dan 5 tahun penjara.

Rita
Oleh Rita - Reporter
Kasus korupsi e-KTP, dua mantan pejabat Kemendagri dieksekusi ke Lapas Sukamiskin
Sidang vonis Irman dan Sugiharto. ©2017 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Dua pejabat Kemendagri Irman dan Sugiharto dieksekusi jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ke Lapas Sukamiskin Bandung. Eksekusi dilakukan setelah kasus korupsi pengadaan proyek e-KTP yang menjerat keduanya sudah berkekuatan hukum tetap atau inkracht.

"Keduanya dieksekusi ke Lapas Sukamiskin Bandung untuk menjalani pidana masing-masing sesuai putusan Mahkamah Agung," ujar Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Rabu (2/5).

MA sebelumnya memperberat hukuman terdakwa kasus e-KTP, Irman dan Sugiharto menjadi 15 tahun penjara, denda Rp 500 juta subsider 8 bulan kurungan. Vonis Irman dan Sugiharto diperberat dari semula 7 tahun dan 5 tahun penjara.

"Iya betul sudah putus kemarin. Kemarin Rabu tanggal 18 (April 2018)," ujar Juru Bicara MA Suhadi saat dikonfirmasi, Jakarta, Kamis (19/4).

Putusan kasus e-KTP dengan Nomor Perkara 430/K/pid-sus‎/2018 ini juga mewajibkan Irman mengganti USD 500 ribu dan Rp 1 miliar dikurang USD 300 ribu yang sudah dikembalikan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Sedangkan Sugiharto, uang penggantinya USD 450 ribu dan Rp 460 juta dikurang USD 430 ribu ditambah 1 unit mobil Honda Jazz senilai Rp 150 juta kepada KPK.

"Bila (uang pengganti tak dibayar) masing-masing hukumannya ditambah 5 tahun (untuk Irman) dan 2 tahun penjara (untuk Sugiharto)," kata Suhadi soal putusan kasus e-KTP.

Majelis Hakim MA Artidjo Alkautsar dengan anggota Abdul Latief dan Lumeh memperberat hukuman Irman dan Sugiharto, lantaran keduanya diduga sebagai pelaku utama.

Rekomendasi