Kapolresta Banyuwangi Perkuat Deteksi Dini dan Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi Kolaborasi Lintas Sektor

Kapolresta Banyuwangi mengintensifkan **kesiapsiagaan bencana Banyuwangi** melalui deteksi dini titik kerawanan dan sinergi lintas sektor, antisipasi puncak musim hujan 2025-2026.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Kapolresta Banyuwangi Perkuat Deteksi Dini dan Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi Kolaborasi Lintas Sektor
Kapolresta Banyuwangi mengintensifkan **kesiapsiagaan bencana Banyuwangi** melalui deteksi dini titik kerawanan dan sinergi lintas sektor, antisipasi puncak musim hujan 2025-2026. (AntaraNews)

Banyuwangi, Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Rama Samtama Putra mengambil langkah antisipatif untuk menghadapi potensi bencana hidrometeorologi. Hal ini dilakukan dengan menggalakkan deteksi dini titik kerawanan bencana melalui kolaborasi erat bersama BMKG dan pemangku kepentingan lainnya di wilayah tersebut. Sinergi lintas sektor ini diharapkan mampu menciptakan respons yang cepat dan tepat dalam penanggulangan bencana.

Kombes Pol Rama Samtama Putra menekankan pentingnya kerja sama antar instansi untuk memastikan kesiapan seluruh pihak. Respons cepat tersebut mencakup evakuasi, penyaluran bantuan, trauma healing, hingga percepatan pemulihan ekonomi bagi masyarakat yang terdampak bencana. Upaya ini merupakan bagian dari komitmen untuk melindungi masyarakat dari dampak buruk bencana.

Apel Kesiapan Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi yang digelar di halaman Mapolresta Banyuwangi menjadi momentum penting. Apel ini bertujuan untuk memastikan kesiapsiagaan seluruh stakeholder dalam menghadapi ancaman bencana yang berpotensi meningkat seiring datangnya musim hujan. Seluruh elemen diimbau untuk selalu sigap dan responsif terhadap situasi darurat.

Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol Rama Samtama Putra, menegaskan bahwa sinergi lintas sektor menjadi kunci utama dalam menghadapi potensi bencana. Deteksi dini titik kerawanan bencana dilakukan secara kolaboratif dengan BMKG dan berbagai pihak terkait. Langkah ini diambil untuk memitigasi risiko bencana hidrometeorologi yang diprediksi akan meningkat.

Menurut Kombes Pol Rama, apel kesiapsiagaan tanggap darurat bencana hidrometeorologi ini penting untuk memastikan kesiapan seluruh pemangku kepentingan. Hal ini mencakup personel dan sarana prasarana dalam menghadapi ancaman bencana di wilayah setempat. "Sinergi lintas sektor juga perlu diperkuat untuk memberikan kecepatan dan ketepatan respons, mulai dari evakuasi, penyaluran bantuan, trauma healing hingga percepatan pemulihan ekonomi bagi masyarakat yang terdampak," katanya.

Kesiapsiagaan ini diharapkan dapat menjamin keselamatan warga Banyuwangi dari dampak bencana. "Apel ini memperkuat kesiapsiagaan seluruh personel dan sarana prasarana dalam menghadapi ancaman bencana, diharapkan seluruh elemen sigap, cepat dan tepat dalam memberikan respons terhadap situasi bencana untuk menjamin keselamatan warga," tambah Kombes Pol Rama.

Data dari BMKG menunjukkan bahwa 43,8 persen wilayah Indonesia saat ini telah memasuki musim hujan. Puncak musim hujan diperkirakan akan terjadi pada November 2025 hingga Januari 2026, yang memerlukan kewaspadaan tinggi dari seluruh elemen masyarakat dan pemerintah.

Selain itu, BMKG juga memprediksi fenomena La Nina akan berlangsung pada November 2025 hingga Februari 2026. Fenomena ini diperkirakan akan memengaruhi peningkatan intensitas hujan di atas normal. Curah hujan yang tinggi ini berpotensi menyebabkan berbagai bencana hidrometeorologi.

Bencana hidrometeorologi yang dimaksud meliputi banjir, tanah longsor, angin puting beliung, hingga gelombang tinggi di wilayah pesisir. Oleh karena itu, persiapan matang dan respons cepat sangat dibutuhkan untuk meminimalkan dampak negatif yang mungkin timbul.

Wakil Bupati Banyuwangi, Mujiono, menambahkan bahwa keberhasilan penanggulangan bencana sangat bergantung pada sistem yang didukung sarana dan prasarana yang memadai. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi terus berupaya meningkatkan kapasitas dan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.

Untuk meningkatkan kesiapsiagaan warga, BPBD bersama dinas terkait secara rutin menggelar sosialisasi dan simulasi mitigasi bencana. Kegiatan ini difokuskan di wilayah-wilayah yang teridentifikasi rawan bencana. Tujuannya adalah agar masyarakat memiliki pemahaman dan keterampilan dasar dalam menghadapi situasi darurat.

Selain itu, edukasi bencana juga menyasar generasi muda melalui program Tagana Masuk Sekolah (Tamasa). "Anak-anak di Banyuwangi juga kami ajarkan budaya siaga bencana sejak dini melalui program Tagana Masuk Sekolah (Tamasa) yang rutin kami gelar di sekolah-sekolah," ujarnya. Program ini diharapkan dapat menanamkan kesadaran dan budaya siaga bencana sejak usia dini.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi