Kepolisian Daerah Papua Tengah membuka pintu lebar bagi pembentukan tim investigasi independen guna mengusut tuntas konflik yang melanda Kabupaten Dogiyai. Langkah ini diambil menyusul serangkaian insiden kekerasan yang terjadi sejak 31 Maret 2026, menimbulkan korban jiwa dari kedua belah pihak. Komitmen ini diharapkan dapat membawa kejelasan serta keadilan bagi masyarakat terdampak.
Kapolda Papua Tengah, Brigjen Pol. Jermias Rontini, menyatakan persetujuannya atas pembentukan tim independen tersebut. Menurutnya, kehadiran pihak eksternal sangat penting untuk memberikan penilaian objektif terhadap situasi di Dogiyai. Transparansi dan objektivitas menjadi kunci utama dalam upaya penanganan kasus ini.
Keputusan ini diambil setelah Kapolda melakukan pertemuan dengan tokoh masyarakat dan cendekiawan asal Dogiyai di Nabire. Pertemuan tersebut bertujuan menyerap informasi sekaligus membangun komunikasi. Tujuannya adalah menciptakan situasi yang lebih kondusif di wilayah tersebut.
Advertisement
Advertisement
Komitmen Transparansi dan Evaluasi Internal
Brigjen Pol. Jermias Rontini menegaskan komitmennya untuk mengungkap peristiwa di Dogiyai secara terbuka. Ia berjanji akan melakukan evaluasi internal terhadap jajaran Polres Dogiyai. Evaluasi ini penting jika ditemukan anggota yang bertindak di luar prosedur standar operasional.
Keterlibatan pihak independen akan memperkuat proses evaluasi dan penanganan kasus. Hal ini juga membuka ruang masukan berharga bagi institusi kepolisian. Kapolda berharap langkah ini dapat memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap aparat keamanan.
Selain itu, pihak kepolisian terus berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Papua Tengah. Koordinasi ini bertujuan merumuskan langkah-langkah penyelesaian konflik yang komprehensif. Upaya ini juga mencakup pengungkapan pelaku yang terlibat dalam serangkaian insiden kekerasan.
Advertisement
Kapolda juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Dogiyai. Permohonan maaf ini disampaikan apabila terdapat tindakan aparat yang menimbulkan korban atau mencederai masyarakat. Ini menunjukkan adanya empati dan tanggung jawab dari pimpinan kepolisian.
Advertisement
Desakan Masyarakat untuk Investigasi Konflik Dogiyai yang Tuntas
Koordinator Koalisi Masyarakat Dogiyai, Andrias Gobai, menekankan pentingnya pengusutan tuntas atas konflik ini. Ia menyebutkan bahwa konflik telah menimbulkan korban jiwa baik dari masyarakat sipil maupun aparat. Oleh karena itu, kehadiran tim independen yang netral sangat diperlukan.
"Kami minta pelaku pembunuhan diungkap dan seluruh rangkaian konflik diusut tuntas," ujar Andrias Gobai. Ia menambahkan bahwa informasi yang mereka terima menyebutkan enam warga sipil telah meninggal dunia.
Senada dengan itu, perwakilan pemuda Dogiyai, Simon Petrus Pekei, mendorong keterlibatan lembaga independen. Lembaga seperti LBH dan Komnas HAM diharapkan dapat bergabung bersama tokoh adat dan gereja. Keterlibatan mereka penting untuk memastikan objektivitas proses investigasi.
Advertisement
Langkah ini krusial agar proses investigasi berjalan adil. Hal ini juga mencegah penyudutan pihak tertentu tanpa bukti yang kuat. Masyarakat berharap kebenaran dapat terungkap sepenuhnya.
Advertisement
Latar Belakang Konflik dan Harapan Baru
Anggota DPRP Papua Tengah, Elias Anou, menyuarakan harapannya kepada kepemimpinan Kapolda yang baru. Ia berharap Brigjen Pol. Jermias Rontini mampu memutus rangkaian konflik yang selama ini berlarut-larut di Dogiyai. Konflik ini telah berlangsung selama belasan tahun.
Menurut Elias Anou, pengusutan yang transparan dan menyeluruh adalah kunci utama. Hal ini penting untuk menghadirkan kepastian hukum serta memulihkan rasa aman di tengah masyarakat. Kehadiran keadilan sangat dinantikan oleh warga Dogiyai.
Rentetan konflik di Dogiyai bermula dari penemuan jasad anggota Polres Dogiyai berinisial JE (24). Korban ditemukan meninggal di Kampung Kimupugi, Distrik Kamuu, pada Selasa, 31 Maret 2026, sekitar pukul 10.40 WIT.
Advertisement
Jasad korban ditemukan dengan kondisi tubuh penuh luka akibat sabetan benda tajam. Luka-luka tersebut meliputi bagian leher hingga kepala belakang serta jari tangan kanan. Insiden tragis ini kemudian memicu konflik yang semakin meluas, hingga menyebabkan sejumlah korban jiwa pada Rabu (1/4) dan Kamis (2/4).
Sumber: AntaraNews