Gereja Katedral Jakarta akan menyelenggarakan prosesi "Jalan Salib Kreatif" yang unik pada peringatan Jumat Agung 2026. Acara ini memadukan aksi teatrikal, musikal, dan seni tari untuk menyampaikan pesan spiritual mendalam kepada umat.
Prosesi ini digagas dan ditampilkan oleh Orang Muda Katolik (OMK) Katedral Jakarta, mengambil judul "Lux in Nihilo," yang berarti "terang dalam ketiadaan atau kegelapan." Imam Gereja Katedral Jakarta, Romo Yohanes Deodatus, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian ibadah Jumat Agung.
Jalan Salib Kreatif ini secara khusus menampilkan kisah sengsara Tuhan Yesus Kristus dari perspektif Santo Petrus. Penekanan pada sosok Petrus ini bertujuan untuk mengingatkan umat agar senantiasa kembali dan mengingat Tuhan, bahkan di tengah kelemahan dan penderitaan.
Advertisement
Advertisement
Romo Yohanes Deodatus menjelaskan bahwa pemilihan perspektif Petrus sangat relevan dengan pengalaman manusia. Petrus, salah satu murid Yesus yang awalnya sangat bersemangat, justru menyangkal-Nya dalam ketakutan dan kelemahan.
Perspektif ini ditonjolkan untuk menggambarkan bahwa manusia, dalam penderitaan atau ketakutan, bisa saja menyangkal dan meninggalkan Tuhan. Namun, pesan utama yang ingin disampaikan adalah pentingnya untuk tetap kembali kepada Tuhan dalam keadaan apa pun.
Dalam narasi Jalan Salib Kreatif ini, Yesus menunjukkan penderitaan yang besar, namun tetap memilih dan mencintai Petrus, tidak meninggalkannya. Hal ini menegaskan bahwa meskipun manusia penuh dosa dan mungkin menyangkal keberadaan Tuhan, kasih-Nya tidak pernah pudar dan selalu menyertai.
Advertisement
Advertisement
Proses latihan untuk pertunjukan Jalan Salib Kreatif ini telah dimulai sejak bulan November 2025. Persiapan meliputi pemilihan atau casting pemain, aransemen musik, penataan dekorasi, hingga koordinasi seluruh tim.
Sebanyak 200 Orang Muda Katolik (OMK) Katedral Jakarta terlibat aktif dalam seluruh rangkaian persiapan ini. Romo Yohanes Deodatus menyebutkan bahwa para pemain terpilih melalui casting karena sebagian besar bukanlah aktor profesional.
Mereka adalah kaum muda yang berkomitmen tinggi untuk berlatih selama lima bulan demi menyajikan pertunjukan terbaik. Dedikasi ini menunjukkan semangat kebersamaan dan pelayanan dalam mempersiapkan perayaan Jumat Agung.
Advertisement
Advertisement
Michael, pemeran Petrus dalam pertunjukan ini, awalnya sempat menolak peran tersebut karena merasa ada tanggung jawab yang besar. Ia menyadari bahwa penonton perlu memahami esensi dari kisah kitab suci yang dibawakan.
Namun, dengan dukungan penuh dari panitia, tim, dan internal OMK Katedral Jakarta, Michael memberanikan diri untuk berproses selama lima bulan. Ia mengaku sangat puas dengan hasil akhir pertunjukan tersebut.
Michael juga mengungkapkan kebahagiaannya karena tahun sebelumnya ia berperan sebagai Yusuf pada perayaan Paskah Katedral Jakarta. Ia mengapresiasi Katedral Jakarta yang terus berinovasi dan beradaptasi, seperti dengan menampilkan Jalan Salib dari sudut pandang tokoh-tokoh yang terlibat dalam kisah sengsara Yesus.
Advertisement
Sumber: AntaraNews