Indonesia Siap Tonjolkan Kekayaan Budaya di Pembukaan ASEAN Para Games 2025

Kontingen Indonesia akan menampilkan kekayaan budaya Nusantara pada pembukaan ASEAN Para Games 2025 di Thailand, menegaskan kesiapan para atlet untuk meraih prestasi sekaligus promosi budaya.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Indonesia Siap Tonjolkan Kekayaan Budaya di Pembukaan ASEAN Para Games 2025
Kontingen Indonesia akan menampilkan kekayaan budaya Nusantara pada pembukaan ASEAN Para Games 2025 di Thailand, menegaskan kesiapan para atlet untuk meraih prestasi sekaligus promosi budaya. (AntaraNews)

Kontingen Indonesia bersiap menampilkan kekayaan budaya Nusantara dalam upacara pembukaan ASEAN Para Games 2025. Acara bergengsi ini akan berlangsung di Nakhon Ratchasima, Thailand, mulai tanggal 20 hingga 26 Januari mendatang. Penampilan ini bertujuan untuk menunjukkan identitas bangsa yang beragam di kancah internasional.

Anggota Tim Chef de Mission Kontingen Indonesia untuk ASEAN Para Games 2025, Dedy Irwan Virantama, menyatakan bahwa Indonesia ingin memperlihatkan kekayaan budayanya. Hal ini sekaligus melambangkan filosofi kebudayaan dan persatuan di antara negara-negara peserta. Persiapan matang telah dilakukan untuk memastikan penampilan yang istimewa dan berkesan.

Upacara pembukaan pada Selasa (20/1) akan menjadi momen penting bagi Indonesia untuk unjuk gigi. Kontingen Merah Putih tidak hanya fokus pada prestasi olahraga, tetapi juga pada promosi warisan budaya. Ini merupakan bagian dari strategi besar untuk meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh partisipan.

Indonesia akan menonjolkan kekayaan budayanya melalui penampilan busana adat yang dikenakan oleh para atlet. M. Mabruk Arib Dzaky, atlet para angkat berat berprestasi, dipercaya sebagai pembawa bendera Merah Putih pada acara pembukaan. Penunjukan ini melambangkan kejayaan atlet Indonesia di mata dunia.

Arib Dzaky akan dikawal oleh dua atlet para tenis meja, Agustiningsih dan Sri Wahyuni, yang berasal dari Jawa Tengah. Mereka akan mengenakan busana adat dari Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Bali, merepresentasikan keberagaman Indonesia. Pilihan busana ini menunjukkan keindahan warisan budaya bangsa.

Tidak hanya itu, atlet para atletik I Kadek Dwi Purwana Yasa dari Bali serta atlet para panahan Riyanti Ananda dari Kalimantan Selatan juga akan tampil. Keduanya akan mengenakan busana adat dari Provinsi Sumatera Utara, menambah semarak perayaan. Kehadiran mereka menegaskan semangat persatuan dalam keberagaman.

Dedy Irwan Virantama menjelaskan bahwa Arib Dzaky dipilih karena merupakan atlet muda dan berprestasi. Hal ini menjadi simbol harapan dan masa depan cerah bagi olahraga disabilitas Indonesia. Kehadiran atlet-atlet ini diharapkan dapat menginspirasi banyak pihak.

Keseriusan kontingen Indonesia dalam mempersiapkan upacara pembukaan sejalan dengan target prestasi yang ambisius. Tim Merah Putih menargetkan perolehan 82 medali emas, 77 perak, dan 77 perunggu pada ajang yang berlangsung selama 20-26 Januari. Target ini menunjukkan optimisme tinggi terhadap kemampuan para atlet.

Ajang multi cabang olahraga atlet disabilitas terbesar di Asia Tenggara ini akan menjadi medan pembuktian. Para atlet telah menjalani persiapan intensif dan adaptasi lingkungan. Mereka siap bersaing untuk mengharumkan nama bangsa di kancah internasional.

Dedy Irwan Virantama menegaskan bahwa kesiapan atlet tidak perlu diragukan lagi. “Jika ditanya soal kesiapan atlet, hal itu tidak perlu diragukan. Mereka telah beradaptasi dengan lingkungan dan arena pertandingan, serta siap meraih kemenangan,” katanya. Pernyataan ini memberikan keyakinan akan performa terbaik dari para kontingen.

Fokus utama adalah pada pencapaian target medali, namun semangat kebersamaan dan sportivitas juga dijunjung tinggi. Partisipasi di ASEAN Para Games 2025 ini diharapkan dapat mempererat tali persaudaraan antarnegara ASEAN.

M. Mabruk Arib Dzaky, yang akan mengenakan busana adat NTT, mengungkapkan rasa bangganya. Meskipun berasal dari Kalimantan Barat, ia merasa terkesan dengan keindahan busana yang akan dikenakannya saat pembukaan. “Menurut saya, busananya sangat bagus. Walaupun saya berasal dari Kalimantan Barat, bukan dari NTT, saya tetap merasa bangga dan menyukainya,” ujarnya.

Arib Dzaky adalah peraih medali perak PEPARNAS XVII 2024 dan medali emas World Abilitysport Youth Games 2025. Prestasinya menambah bobot penampilannya sebagai pembawa bendera. Pengalaman ini menjadi momen tak terlupakan bagi dirinya.

Sementara itu, atlet para tenis meja Sri Wahyuni, yang akan mengenakan busana adat Bali, juga merasakan hal serupa. Ini adalah pengalaman pertamanya mengikuti upacara pembukaan ASEAN Para Games, dan ia mengaku lebih percaya diri menyambut pengalaman pertamanya. Kepercayaan diri ini menjadi modal penting untuk menghadapi pertandingan.

Pengalaman mengenakan busana adat ini tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga simbol representasi budaya Indonesia. Para atlet merasa terhormat dapat menjadi duta budaya sekaligus duta olahraga di ajang internasional.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi