Indonesia Perkuat Kerja Sama Lahan Gambut Global di COP30, Dorong Pengelolaan Berkelanjutan
Indonesia memperkuat Kerja Sama Lahan Gambut Global melalui penandatanganan deklarasi di COP30, bertujuan meningkatkan pengelolaan ekosistem gambut tropis untuk target iklim global.
Indonesia menunjukkan komitmen kuat dalam upaya mitigasi perubahan iklim global dengan memperkuat Kerja Sama Lahan Gambut Global. Langkah strategis ini diwujudkan melalui penandatanganan Deklarasi Bersama antara International Tropical Peatlands Centre (ITPC) dan Greifswald Mire Centre (GMC). Penandatanganan penting ini berlangsung di sela-sela Konferensi Para Pihak ke-30 (COP30) UNFCCC di Belem, Brasil, pada Jumat (21 November).
Kolaborasi ini bertujuan untuk meningkatkan perlindungan dan pengelolaan ekosistem lahan gambut tropis secara berkelanjutan. Upaya ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pencapaian target iklim global. Indonesia secara khusus menargetkan tercapainya tujuan Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030.
Wakil Ketua Interim Sekretariat Kehutanan ITPC, Bambang Supriyanto, menegaskan bahwa ITPC akan terus memperkuat perannya. Lembaga ini menjadi pusat kolaborasi internasional untuk pengelolaan lahan gambut tropis di Asia Tenggara, Cekungan Kongo, dan Amazon. Kerja sama ini menandai langkah maju dalam konservasi lingkungan.
Peran Strategis ITPC dan Kolaborasi Internasional
Bambang Supriyanto menjelaskan bahwa kolaborasi dengan Greifswald Mire Centre akan meningkatkan Kerja Sama Lahan Gambut Global. Fokusnya meliputi pemetaan, pemantauan, pengembangan riset, dan pertukaran pengetahuan. Selain itu, peningkatan kapasitas akan dilakukan melalui pelatihan, webinar, dan konferensi.
"Kolaborasi kami dengan Greifswald Mire Centre akan meningkatkan Kerja Sama Lahan Gambut Global, khususnya dalam pemetaan, pemantauan, pengembangan riset, pertukaran pengetahuan, dan peningkatan kapasitas melalui pelatihan, webinar, serta konferensi," ujar Bambang. Kerja sama ini diharapkan memperkuat kontribusi lahan gambut terhadap target iklim global. Ini termasuk target FOLU Net Sink 2030 Indonesia.
ITPC juga menyatakan kesiapannya untuk memperluas kemitraan dengan berbagai pihak. Ini mencakup pemerintah negara sahabat, lembaga penelitian, sektor swasta, universitas, dan organisasi internasional. Perluasan ini merupakan bagian dari aksi kolaboratif yang diperkuat pada tahun 2026 dan seterusnya. Deklarasi ini mengakui dukungan dari mitra global seperti UNEP, FAO, dan CIFOR.
Potensi Lahan Gambut Indonesia dan Dampak Iklim Global
Penasihat Senior Perubahan Iklim Kementerian Kehutanan Indonesia, Haruni Krisnawati, menyoroti peran strategis ekosistem lahan gambut. Peran ini sangat penting dalam aksi iklim Indonesia. Indonesia memiliki sekitar 24 juta hektar lahan gambut, dengan 74 persen di antaranya berada dalam kawasan hutan negara.
Hutan gambut tropis ini menyimpan sekitar 89 gigaton karbon. Jumlah ini setara dengan sekitar 20 tahun emisi bahan bakar fosil global. "Restorasi yang efektif dan pengelolaan berkelanjutan dapat mengurangi emisi sebesar 1,3 hingga 2,6 GtCOe per tahun," kata Haruni. Data ini menunjukkan potensi besar lahan gambut.
Direktur GMC, Franziska Tanneberger, menekankan pentingnya kerja sama berbasis sains. "Deklarasi bersama ini mencerminkan komitmen kami untuk membekali pembuat kebijakan, praktisi, dan masyarakat lokal dengan informasi kredibel, analisis kuat, dan alat praktis," ujarnya. Hal ini bertujuan mendukung konservasi dan pengelolaan lahan gambut berkelanjutan. Deklarasi ini juga menggarisbawahi pentingnya ekosistem gambut dalam berbagai konvensi internasional, termasuk UNCBD, UNCCD, UNFCCC, Konvensi Ramsar, Perjanjian Paris, Deklarasi Brazzaville, Inisiatif Lahan Gambut Global, dan Peatland Breakthrough.
Sumber: AntaraNews