Wirna Wani, ibu dari almarhum Pratama Wijaya Kusuma, mendatangi Polda Lampung untuk melaporkan dugaan kekerasan yang dialami anaknya saat mengikuti Pendidikan Dasar (Diksar) Mahasiswa Ekonomi Pencinta Lingkungan (Mahepel) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Lampung (Unila). Laporan itu teregister dengan nomor LP/B/384/VI/2025/SPKT/POLDA LAMPUNG, dibuat pada Selasa (3/6).
“Waktu udah sampai di Unila selesai acara sekitar pukul 22.00 WIB, dia minta dijemput terus saya jemput. Dia bilang kelaperan dan minta untuk dicarikan mie ayam dan kita belikan,” katanya saat ditemui di Mapolda Lampung.
Namun sesampainya di rumah, Pratama pingsan bahkan sebelum sempat menyantap makanan yang dimintanya.
“Karena lihat anakku pingsan saya jerit nangis kami cuma bertiga suamiku kerja di Jakarta. Saya bersihkan luka-lukanya, ada banyak ditangannya, saya peluk saya bersihkan dan saya bilang nak bangun nak, dia bangun jam 8 pagi minta minum, saya kasih minum,” urai Wirna.
Advertisement
Pratama sempat menceritakan kepada sang ibu selama kegiatan diksar, dirinya tidak bisa menjalankan ibadah salat karena tekanan dan ancaman dari senior.
“Dia bilang, mama aku enggak salat. Ceritalah dia di sana enggak bisa salat. Setelah itu saya ajak ke klinik untuk berobat tapi ke rumah sakit enggak mau, katanya nanti ketahuan katanya saya diancam, mama nanti kita pulang aja,” ungkap Wirna.
Lebih mengejutkan lagi, Pratama meminta ibunya tidak membocorkan apa pun soal kekerasan yang dia alami.
“Diam mama jangan ngomong-ngomong kalau mama sayang udo (panggilan kakak untuk suku Lampung), mama jangan cerita-cerita nyawaku ini diancam, rumah kita jauh nanti aku diincer mama, mau dibunuh katanya gitu,” ucap Wirna sembari menitihkan air mata.
Ditanya terkait ancaman, Wirna menyebutkan, tak mengetahui siapa yang mengancam dan melakukan tindakan kekerasan kepada anaknya.
“Saya enggak tau, karena dia enggak cerita siapa yang mengancam. Cuma dia ngomong gitu aja. Sempet cerita dada ditendang, perut juga ditendang, diinjek-injek. Itu dia ceritanya, sampe kukunya ini copot. Saya kasih betadine malamnya kaki sebelah kiri,” ungkapnya.
Advertisement
Setelah mengalami gejala yang tidak biasa, Pratama dirawat dan dirujuk ke dokter spesialis saraf. Hasil pemeriksaan menunjukkan ada gumpalan darah dan cairan tidak lancar di bagian kepala.
“Dari dokter saraf dirujuk ke RSUD Abdul Moeloek kata dia harus ditindak lanjuti karena udah discaning ternyata ada gumpalan darah, ada cairan tidak lancar makanya tangannya kram dan langsung untuk operasi, sore ke sana langsung dapet jadwal operasi tanggal 27 April,” ucapnya.
Ia menegaskan, sejak kecil Pratama tidak pernah mengidap penyakit serius.
“Dari kecil tidak pernah sakit aneh-aneh hanya sebatas batuk pilek aja, sehat walafiat, tidak pernah ada tumur apapun dari kecil enggak ada kayak gitu-gituan kita mambantah itu,” ucapnya.
Advertisement
Setelah Pratama meninggal dunia, perwakilan kampus, termasuk Wakil Dekan 3 FEB Unila, datang ke rumah keluarga korban. Wirna sempat membuat unggahan di Facebook soal kematian anaknya, namun pihak kampus meminta untuk dihapus.
“Waktu (Pratama) sudah meninggal, ada empat orang termasuk bu Neli, Saya juga pernah posting di Facebook tulisannya ‘anak saya sakit tolong ya kalau ada saudara masuk Unila agar enggak salah pilih ekskul mapala (Mahepel) cukup saya yang sakit sampai anak meninggal’ terus mereka minta dihapus ya udah saya hapus,” ucapnya.
"Bu Neli bilang mau ditindak lanjut atau enggak? Jangan sekarang bu, saya lagi berdukacita nyawaku rasanya hilang," tambahnya pilu.
Advertisement
Solidaritas mahasiswa Unila memuncak dalam aksi 1.000 lilin dan doa bersama di Bundaran Unila. Ratusan mahasiswa hadir mengenang Pratama dan menuntut keadilan.
“Di sini kita mencari keadilan bagi teman kita Pratama yang menjadi korban kekerasan dari senior-senior,” tegas Zidan, Koordinator Aksi.
Sebuah banner besar bertuliskan “Jangan Bungkam Suara Keadilan: Pratama Harus Dapat Keadilan #justiceforpratama” dibentangkan di tengah aksi.
Zidan menjelaskan, pihak kampus sudah mengirimkan timeline investigasi dan berjanji akan membubarkan Ormawa Mahepel.
“Targetnya sampai tanggal 22 Juni dan pihak kampus berjanji untuk menghapus ormawa ini,” ujarnya.