Hilal tak Terlihat di Makassar, Kemenag Sulsel Harap Tidak Ada Perdebatan Perbedaan 1 Ramadan 1447 H

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kota Makassar menyebut hilal masih posisi -1 derajat atau tidak terlihat.

Ihwan Fajar
Oleh Ihwan Fajar - Reporter
Hilal tak Terlihat di Makassar, Kemenag Sulsel Harap Tidak Ada Perdebatan Perbedaan 1 Ramadan 1447 H
Hilal tak Terlihat di Makassar, Kemenag Sulsel Harap Tidak Ada Perdebatan Perbedaan 1 Ramadan 1447 H (Merdeka.com)

Kementerian Agama Sulawesi Selatan mengimbau kepada ummat Islam agar tidak perdebatan terkait perbedaan penetapan 1 Ramadan 1447 Hijriyah. Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kota Makassar menyebut hilal masih posisi -1 derajat atau tidak terlihat.

Kepala Kantor Wilayah Kemenag Sulsel Ali Yafid mengatakan kemungkinan terjadi perbedaan awal Ramadan 1447 H antara pemerintah dengan Muhammadiyah. Ia menegaskan bahwa Indonesia telah berpengalaman menyikapi perbedaan penetapan 1 Ramadan pada tahun-tahun sebelumnya tanpa menimbulkan konflik sosial.

“Masyarakat Indonesia dan khususnya Sulsel telah berpengalaman dan tetap rukun dalam perbedaan penentuan 1 Ramadan pada tahun sebelumnya. Kita berpengalaman menyatu di tengah perbedaan,” ujarnya.

Tidak terjebak dalam perdebatan

Ali Yafid berharap masyarakat tidak terjebak dalam perdebatan yang tidak produktif.

“Saya berharap tidak ada perdebatan di Masyarakat dan di tengah umat. Marilah kita hidup rukun di tengah perbedaan,” kata Ali Yafid.

Ali Yafid menjelaskan, secara historis sidang Isbat selalu menjadi rujukan bangsa Indonesia dalam menentukan awal Ramadan dan Idul Fitri. Dalam dua tahun terakhir memang terjadi dinamika perbedaan penentuan awal Ramadan di tengah masyarakat, namun Kemenag terus mencoba untuk mempertemukan.

“Kalau kita lihat sejarah bangsa Indonesia, memang sidang isbat selalu jadi faktor penentu lebaran dan puasa. Dalam dua tahun terakhir memang ada perkembangan dan perbedaan, tetapi Pemerintah dalam hal ini Kemenag berusaha menjadi media penyatu dalam penentuan hari penting keagamaan,” ujarnya

Perbedaan metode

Ia menjelaskan bahwa perbedaan metode antara ormas Islam merupakan bagian dari khazanah fikih yang telah lama dikenal. Ia mencontohkan, Muhammadiyah yang dulu menggunakan hisab sebagai penentu utama dan rukyat sebagai konfirmasi.

“Kemenag sebagai perwakilan pemerintah tentunya perlu konfirmasi secara langsung dengan melihat posisi hilal dan diputuskan melalui sidang isbat,” tegasnya.

Tahun ini, pemantauan hilal dilakukan di 96 titik di seluruh Indonesia, termasuk di Makassar, Sulsel sebagai bagian dari ikhtiar ilmiah dan Syar’i.

Ali Yafid juga mengingatkan masyarakat tentang kriteria visibilitas hilal (imkanur rukyat) yang digunakan Indonesia bersama negara-negara anggota MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).

Kriteria tersebut menetapkan bahwa ketinggian hilal minimal 3 derajat di atas ufuk saat matahari terbenam. Elongasi (jarak sudut bulan–matahari) minimal 6,4 derajat.

Menurut Kemenag, ketentuan ini bersifat lebih empiris karena didasarkan pada data pengamatan astronomis yang lebih akurat. Sebelumnya digunakan kriteria 2 derajat, namun berdasarkan riset, hilal pada ketinggian tersebut hampir mustahil terlihat, sehingga dinaikkan menjadi 3 derajat untuk kepastian yang lebih tinggi. Sementara elongasi 6,4 derajat merujuk pada batas fisis (Danjon Limit) yang memungkinkan hilal dapat diamati.

“Kalau kita lihat pengamatan dan perhitungan teknologi saat ini baik yang dari Badan Hisab Rukyat (BHR) maupun BMKG Sulsel , wujud hilal (saat terbenam matahari di Indonesia) masih dalam posisi minus 1 derajat 5 menit. Jadi hampir mustahil bisa dirukyat,’ ungkapnya. 

Faktor ketinggian dan elongasi

Ia menambahkan, selain faktor ketinggian dan elongasi, kondisi cuaca seperti mendung juga menjadi tantangan.

“Jadi memang berlapis-lapis tantangannya. Bisa saja karena cuaca mendung, atau ketinggian hilal dan sudut elongasi-nya rendah. Semua itu kita pertimbangkan secara cermat,” katanya.

Akan tetapi apapun hasil pengamatan dan rukyatul Hilal saat ini di Sulsel dan seluruh titik di Indonesia, semuanya akan dilaporkan ke Kemenag RI untuk menjadi bahan pertimbangan dalam Sidang Isbath yang Insya Allah akan digelar malam ini di Jakarta” ucapnya.

Ali Yafid juga menjelaskan alasan memilih melakukan pemantauan hilal di kampus milik Muhammadiyah. Meski Muhammadiyah sudah menetapkan 1 Ramadan 1447 H pada tanggal 18 Februari, tetapi pemantauan hilal di Kampus Muhammadiyah merupakan hasil rapat.

"Satu pertimbangannya, untuk kolaborasi dari seluruh kementerian, lembaga maupun Ormas (organisasi maasyarakat)," kata dia.

Ali Yafid juga menjelaskan terkait perkembangan gagasan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang mulai didorong di sejumlah negara dan forum Internasional seperti OKI, yang menggunakan pendekatan visibilitas global. Namun untuk saat ini, Indonesia tetap berpegang pada kriteria yang disepakati bersama MABIMS sebagai dasar penetapan resmi pemerintah.

"Dengan pendekatan ilmiah, musyawarah, dan semangat kebersamaan, pemerintah berharap penetapan awal Ramadan 1447 H dapat diterima dengan bijak oleh seluruh elemen masyarakat," ucapnya.

Sebelumnya, Koordinator Bidang Observasi BMKG Wilayah IV Makassar, R Jamroni, menjelaskan bahwa pemantauan hilal sulit dilakukan di Kota Makassar. Hal itu dikarenakan posisi bulan lebih dahulu terbenam dibandingkan matahari.

“Secara hisab, nilainya negatif karena bulan lebih dulu tenggelam daripada matahari. Dengan nilai hilal yang negatif, maka hilal tidak mungkin teramati,” ujar Jamroni.

Berdasarkan perhitungan astronomis, bulan diperkirakan terbenam pada pukul 18.18 WITA, sementara matahari terbenam pada pukul 18.23 WITA.

Adapun ketinggian hilal di wilayah Sulawesi Selatan berkisar antara minus 1 derajat 38,66 menit di Pattallassang, Kabupaten Takalar, hingga minus 1 derajat 29,11 menit di Malili, Kabupaten Luwu Timur.

Dengan demikian, berdasarkan kriteria wujudul hilal, posisi hilal dinyatakan negatif karena berada di bawah ufuk dan tidak memenuhi syarat.

Sementara itu, untuk kriteria Imkanur Rukyat (MABIMS), baik dari aspek tinggi hilal mar’i maupun sudut elongasi, seluruh parameter juga dinyatakan tidak terpenuhi.

Meski demikian, Jamroni memastikan bahwa kegiatan pemantauan hilal tetap dilaksanakan sesuai prosedur.

“Situasi hari ini tetap dilakukan pemantauan rukyatul hilal. Kami tetap mencoba mengamati, meskipun kemungkinan hilal terlihat sangat kecil karena seluruh nilainya negatif,” jelasnya.

Seluruh hasil pemantauan hilal tersebut selanjutnya akan diserahkan kepada Kementerian Agama untuk dibahas dalam sidang isbat penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah.

“Kita tetap menunggu hasil sidang isbat. Namun berdasarkan perhitungan hisab, seluruh kriteria tidak terpenuhi dan hingga sore hari ini hilal belum terlihat,” ucapnya.

Rekomendasi